
Jakarta, CNBC Indonesia – Pasar keuangan Indonesia akan menghadapi agenda padat pada pekan depan, 3-9 Agustus 2026. Dari dalam negeri, perhatian tertuju pada inflasi Juli, pertumbuhan ekonomi kuartal II, dan cadangan devisa.
Sementara itu, sentimen global akan dipengaruhi data manufaktur dan tenaga kerja Amerika Serikat (AS), serta aktivitas manufaktur, perdagangan, dan inflasi China. Rangkaian data tersebut berpotensi menentukan arah dolar AS, rupiah, harga komoditas, dan IHSG.
Awal pekan akan didominasi data inflasi Indonesia dan aktivitas manufaktur China-AS. Fokus kemudian beralih kepada PDB Indonesia serta sektor jasa AS, sebelum memuncak pada Jumat melalui data perdagangan China, cadangan devisa Indonesia, dan laporan tenaga kerja AS.
Kalender berdampak tinggi atau bintang tiga Trading Economics tidak memuat agenda Jepang pada periode ini. Seluruh jadwal berikut telah dikonversi ke Waktu Indonesia Barat (WIB).
Inflasi Indonesia Juli 2026
Indonesia akan mengumumkan inflasi Juli pada Senin (3/8/2026) pukul 11.00 WIB. Polling CNBC Indonesia memperkirakan inflasi sebesar 0,11% secara bulanan dan 3,2% secara tahunan, sementara inflasi inti diproyeksikan naik tipis menjadi 2,77%.
Pada Juni, inflasi mencapai 0,44% secara bulanan dan 3,34% secara tahunan. Inflasi inti naik ke 2,76%, tertinggi dalam 38 bulan. Tekanan harga Juli diperkirakan mereda berkat panen sejumlah komoditas pangan dan penurunan harga BBM nonsubsidi, meski harga beras, biaya pendidikan, dan dampak pelemahan rupiah tetap perlu dicermati.
Perbedaan antara inflasi umum dan inflasi inti akan menjadi perhatian utama. Penurunan inflasi yang hanya berasal dari pangan bergejolak belum tentu menandakan tekanan harga benar-benar hilang.
Kenaikan inflasi inti dapat menunjukkan biaya produksi dan pelemahan rupiah mulai diteruskan kepada konsumen.
Inflasi yang melandai dan tetap berada dalam sasaran BI sebesar 2,5%±1% dapat menjaga harapan pelonggaran moneter. Hal ini berpotensi positif bagi rupiah serta saham perbankan, properti, otomotif, dan konsumsi.
Sebaliknya, inflasi inti atau pangan yang lebih tinggi dari perkiraan dapat mempersempit ruang penurunan suku bunga.
Neraca Dagang Indonesia Juni 2026
Selain inflasi, Indonesia akan merilis neraca perdagangan Juni pada Senin pukul 11.00 WIB. Konsensus memperkirakan defisit menyempit menjadi US$0,79 miliar dari US$1,61 miliar pada Mei, sedangkan proyeksi Trading Economics menunjukkan defisit sebesar US$0,6 miliar.
Defisit Mei merupakan yang pertama sejak April 2020. Ekspor turun 5,73% secara tahunan, sedangkan impor melonjak 22,16%, terutama akibat kenaikan impor migas. Meski demikian, secara kumulatif Indonesia masih mencatat surplus US$4,03 miliar sepanjang Januari-Mei 2026.
Pasar akan menilai apakah neraca dagang mampu kembali surplus atau setidaknya mencatat defisit lebih kecil. Perbaikan neraca dagang dapat menopang rupiah dan ketahanan eksternal Indonesia. Sebaliknya, defisit yang lebih lebar dari perkiraan berisiko menambah tekanan terhadap rupiah, terutama apabila berasal dari lemahnya ekspor komoditas dan lonjakan impor migas.
PMI Manufaktur China
RatingDog Manufacturing PMI China akan dirilis pada Senin pukul 08.45 WIB. Indeks diperkirakan turun tipis menjadi 51,5 dari 51,7, tetapi masih berada di zona ekspansi. Pada Juni, produksi dan pesanan baru tetap tumbuh, sedangkan pesanan ekspor melemah.
Rilis sebelumnya juga menunjukkan pesanan baru telah meningkat selama 13 bulan berturut-turut dan lapangan kerja kembali tumbuh. Namun, melemahnya permintaan ekspor serta turunnya optimisme bisnis menandakan pemulihan industri China belum sepenuhnya merata.
Data China penting bagi Indonesia karena mencerminkan prospek permintaan batu bara, nikel, tembaga, dan minyak sawit. Angka di atas ekspektasi dapat menopang saham komoditas, sedangkan pelemahan ke bawah 50 berisiko menekan sentimen.
PMI Manufaktur AS
Pada pukul 21.00 WIB, AS merilis ISM Manufacturing PMI Juli. Konsensus memperkirakan indeks naik menjadi 54 dari 53,3. Rilis sebelumnya masih menunjukkan ekspansi, tetapi tenaga kerja manufaktur terkontraksi dan tekanan harga tetap tinggi. Aktivitas serta harga yang lebih kuat dapat mendorong dolar dan imbal hasil US Treasury karena pasar menilai The Fed perlu bertahan ketat lebih lama.
Pasar tidak hanya akan melihat indeks utama, tetapi juga komponen pesanan baru, ketenagakerjaan, dan harga. Ekspansi yang ditopang pesanan akan dipandang lebih sehat, sedangkan lonjakan komponen harga dapat kembali menghidupkan kekhawatiran inflasi.
Lowongan Kerja AS
AS akan merilis JOLTs Job Openings Juni pada Selasa (4/8/2026) pukul 21.00 WIB. Lowongan kerja diperkirakan turun menjadi 7,25 juta dari 7,594 juta, yang sebelumnya merupakan level tertinggi sejak Mei 2024.
Pada Mei, jumlah perekrutan relatif bertahan di sekitar 5,2 juta dan pekerja yang mengundurkan diri stabil pada 3,1 juta. Hal ini menunjukkan permintaan tenaga kerja masih tinggi, tetapi mobilitas pekerja belum banyak berubah.
Data ini menjadi petunjuk awal kondisi pasar kerja menjelang laporan nonfarm payrolls. Penurunan moderat dapat membuka ruang kebijakan The Fed yang lebih longgar, tetapi pelemahan terlalu tajam berisiko memunculkan kekhawatiran perlambatan ekonomi.
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal II-2026
PDB Indonesia kuartal II akan dirilis pada Rabu (5/8/2026) pukul 11.00 WIB. Trading Economics memproyeksikan pertumbuhan sebesar 5,3% secara tahunan, setelah ekonomi tumbuh 5,61% pada kuartal I.
Pertumbuhan kuartal sebelumnya ditopang konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, dan investasi, sedangkan kontribusi perdagangan bersih melemah. Pasar akan menilai apakah konsumsi dan aktivitas liburan mampu menjaga pertumbuhan di atas 5%.
Konsumsi rumah tangga tetap menjadi kunci karena merupakan kontributor terbesar perekonomian. Selain angka utama, pelaku pasar akan mencermati kualitas pertumbuhan, terutama kinerja manufaktur, perdagangan, konstruksi, dan investasi.
Pertumbuhan yang tersebar luas akan memberi sinyal lebih positif dibandingkan pertumbuhan yang hanya bertumpu pada belanja pemerintah.
Pertumbuhan di atas perkiraan dapat memperkuat prospek laba emiten perbankan, ritel, telekomunikasi, transportasi, dan konsumsi. Angka di bawah 5% berisiko memicu kekhawatiran mengenai daya beli, meski dapat memperbesar peluang kebijakan moneter yang lebih suportif apabila inflasi dan rupiah stabil.
ISM Jasa AS
ISM Services PMI Juli akan diumumkan pada Rabu pukul 21.00 WIB. Konsensus memperkirakan indeks naik tipis menjadi 54,2 dari 54.
Pada Juni, aktivitas bisnis dan pesanan baru melambat, tetapi komponen tenaga kerja kembali berekspansi. Tekanan harga jasa juga masih tinggi. Kombinasi aktivitas kuat dan harga yang kembali meningkat dapat memperkuat dolar AS serta menekan aset negara berkembang.
Sektor jasa merupakan bagian terbesar dari ekonomi AS sehingga data ini penting untuk membaca ketahanan konsumsi. Jika aktivitas dan tenaga kerja menguat sementara tekanan harga mereda, pasar dapat melihatnya sebagai skenario pendaratan lunak. Sebaliknya, harga yang tetap tinggi akan membatasi ruang pemangkasan suku bunga The Fed.
Neraca Perdagangan China Juli 2026
China akan merilis neraca perdagangan Juli pada Jumat (7/8/2026) pukul 10.00 WIB. Surplus diperkirakan turun menjadi US$112,5 miliar dari US$125,62 miliar pada Juni.
Surplus Juni merupakan yang terbesar kedua dalam sejarah bulanan China, didukung perdagangan cip dan perangkat pusat data kecerdasan buatan. Namun, bagi Indonesia, laju impor China lebih penting karena menunjukkan kekuatan permintaan domestik terhadap bahan baku dan komoditas.
Pelaku pasar juga perlu membedakan ekspor yang kuat karena permintaan riil dengan kenaikan yang lebih banyak didorong harga atau percepatan pengiriman. Karena itu, arah ekspor dan impor akan lebih informatif dibandingkan angka surplus semata.
Impor yang kuat dapat mendukung saham batu bara, logam, dan perkebunan. Sebaliknya, pelemahan impor akan menambah kekhawatiran terhadap permintaan komoditas dari mitra dagang terbesar Indonesia tersebut.
Cadangan Devisa Indonesia Juli 2026
Bank Indonesia akan mengumumkan cadangan devisa Juli pada Jumat pukul 10.00 WIB. Pada akhir Juni, cadangan devisa naik menjadi US$145,6 miliar dan setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional.
Pasar akan melihat apakah cadangan devisa tetap kuat di tengah kebutuhan pembayaran eksternal dan stabilisasi rupiah. Kenaikan cadangan dapat memperkuat kepercayaan terhadap rupiah dan obligasi pemerintah, sedangkan penurunan tajam dapat mengindikasikan meningkatnya kebutuhan intervensi valuta asing.
Kenaikan cadangan devisa Juni ditopang penerimaan pajak dan jasa, meski BI tetap menghadapi kebutuhan pembayaran utang luar negeri pemerintah dan stabilisasi nilai tukar. Data Juli karena itu akan memberikan gambaran mengenai ketahanan eksternal Indonesia ketika volatilitas pasar global meningkat.
Nonfarm Payrolls dan Tingkat Pengangguran AS
Puncak agenda global berlangsung pada Jumat pukul 19.30 WIB ketika AS merilis nonfarm payrolls, tingkat pengangguran, dan pertumbuhan upah Juli.
Nonfarm payrolls diperkirakan bertambah 91.000, membaik dari 57.000 pada Juni. Rilis Juni merupakan yang terlemah dalam empat bulan, sementara data dua bulan sebelumnya direvisi turun dengan total 74.000 pekerjaan.
Pada Juni, penambahan pekerjaan terutama datang dari jasa profesional, bantuan sosial, dan kesehatan, sedangkan sektor rekreasi dan perhotelan mencatat penurunan. Komposisi ini akan kembali diperhatikan untuk menilai apakah perlambatan perekrutan mulai menyebar ke lebih banyak sektor.
Tingkat pengangguran AS diperkirakan naik menjadi 4,3% dari 4,2%, sedangkan upah diproyeksikan tumbuh 0,3% secara bulanan. Angka pengangguran sebelumnya perlu dibaca hati-hati karena tingkat partisipasi tenaga kerja turun ke 61,5%, terendah sejak Maret 2021.
Artinya, kenaikan atau penurunan tingkat pengangguran tidak bisa dibaca sendirian. Pasar juga perlu melihat tingkat partisipasi, pertumbuhan upah, dan revisi data bulan sebelumnya untuk mendapatkan gambaran yang lebih utuh mengenai kekuatan pasar kerja.
Payrolls dan upah yang kuat disertai pengangguran rendah dapat mendorong dolar AS serta yield US Treasury, sehingga berisiko menekan rupiah dan IHSG. Sebaliknya, perlambatan tenaga kerja yang terukur dapat mendukung aset berisiko karena membuka ruang pelonggaran The Fed. Data yang terlalu lemah tetap berisiko memicu kekhawatiran resesi.
Inflasi China Juli 2026
China menutup rangkaian agenda dengan rilis inflasi Juli pada Minggu (9/8/2026) pukul 08.30 WIB. Inflasi tahunan diproyeksikan melandai menjadi 0,9% dari 1%.
Pada Juni, inflasi pangan masih negatif dan inflasi inti turun menjadi 1%, menandakan permintaan domestik belum kuat. Inflasi yang kembali melemah dapat meningkatkan harapan stimulus, tetapi juga memperbesar kekhawatiran terhadap konsumsi China dan prospek permintaan komoditas.
Deflasi pangan dan melemahnya biaya transportasi menjadi penahan utama harga pada periode sebelumnya. Pasar akan mencermati apakah tekanan harga rendah mulai menyebar ke komponen inti, karena kondisi tersebut dapat mendorong pemerintah dan bank sentral China menambah dukungan kebijakan.
–
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)
Leave a comment