
Jakarta, CNBC Indonesia – Insiden serangan di kokpit pesawat FlyDubai memunculkan pertanyaan soal efektivitas pemeriksaan latar belakang pilot maskapai komersial. Para pakar penerbangan menilai pemeriksaan yang berlaku saat ini punya keterbatasan dalam mendeteksi pilot yang teradikalisasi atau menyembunyikan masalah kesehatan mentalnya.
Dikutip dari The New York Times, Jumat (2/10/2026), pejabat Israel menyebut kopilot pesawat FlyDubai berusaha menjatuhkan pesawat setelah menusuk pilot pada Rabu (30/9/2026). Insiden itu memicu pergulatan berdarah di dalam kokpit.
Pesawat tersebut terbang dari Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), menuju Tel Aviv, Israel, dengan sekitar 170 penumpang, mayoritas warga Israel. Pesawat sempat anjlok lebih dari 17.000 kaki dalam waktu kurang dari dua menit, sebelum para penumpang berhasil melumpuhkan kopilot. Dua pilot lain yang berada di pesawat kemudian mengambil alih kendali dan mendaratkan pesawat di Arab Saudi.
Motif serangan ini masih belum jelas dan kini menjadi objek penyelidikan internasional. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam wawancara dengan Fox News pada Kamis (1/10/2026) menyebut kopilot tersebut telah menjalani “indoktrinasi radikal Islamis”, tanpa menjelaskan lebih jauh.
Otoritas Penerbangan Sipil Umum UEA, yang mengawasi pilot FlyDubai, tidak menjawab langsung permintaan informasi soal prosedur penyaringan pilot. Lembaga itu merujuk pada pernyataan resmi pemerintah yang menyebut UEA tengah menyelidiki seluruh keadaan dan motif insiden, termasuk kemungkinan keterkaitan dengan aktivitas terorisme serta ada tidaknya perencanaan atau arahan sebelumnya.
Mantan Pelaksana Tugas Administrator Federal Aviation Administration (FAA) AS, Billy Nolen, menilai UEA memiliki protokol penyaringan pilot yang sangat kuat. Ia memperkirakan penyelidikan akan menelaah ulang proses pemeriksaan latar belakang sang kopilot, termasuk apakah ada hal yang terlewat.
Cek Latar Belakang Pilot
Di AS, pilot menjalani pemeriksaan riwayat kriminal untuk melihat catatan hukuman sebelumnya, serta penilaian ancaman oleh Transportation Security Administration (TSA). Penilaian itu menelusuri apakah pilot pernah ditandai sebagai “person of interest” dalam basis data penegak hukum federal, ujar Profesor ilmu penerbangan dan dirgantara Metropolitan State University of Denver, Jeffrey C. Price.
Menurut Price, kelemahan sistem saat ini adalah ketidakmampuannya memprediksi tindakan seseorang di masa depan, termasuk apakah seorang pilot akan teradikalisasi.
Para ahli menyebut standar di negara lain umumnya mengikuti model AS. Pilot maskapai Eropa, misalnya, juga wajib melewati pemeriksaan identitas, catatan kriminal, serta riwayat pekerjaan dan pendidikan, menurut Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa (EASA). Maskapai juga dapat menelusuri akun media sosial dan jejak daring calon pilot, yang bisa mengungkap unggahan tidak pantas atau pernyataan yang mengkhawatirkan soal ideologi.
Namun, jika seorang pilot teradikalisasi setelah direkrut, hampir tidak ada yang bisa dilakukan “kecuali anggota kru lain menyadari dan melaporkannya”, kata psikolog penerbangan di Illinois, Diane Damos.
Skrining Mental Andalkan Kejujuran
Di AS, pilot menjalani skrining kesehatan mental sebagai bagian dari pemeriksaan medis. Namun, menurut Price, skrining tersebut tidak mendalam dan umumnya mengandalkan pelaporan mandiri dari pilot.
Sistem ini dikritik sejumlah pilot dan tenaga profesional kesehatan mental. Pilot yang mencari bantuan psikiatri atau resep antidepresan dapat kehilangan, setidaknya sementara, sertifikat medis yang menjadi syarat untuk terbang. Akibatnya, banyak pilot disebut takut mengungkapkan masalah yang dialami.
Mantan kapten United Airlines, Kit Darby, menggambarkan proses medis itu sebagian besar sebagai sistem berbasis kejujuran. “Jika Anda tidak menuliskan suatu masalah, akan sulit menemukannya,” ujarnya.
Kekhawatiran soal kondisi mental pilot menjadi perhatian global sejak 2015, ketika kopilot Germanwings, yang menurut otoritas pernah dirawat karena “kecenderungan bunuh diri”, sengaja menabrakkan pesawat ke Pegunungan Alpen Prancis dan menewaskan seluruh 150 orang di dalamnya.
Pada 2023, seorang pilot Alaska Airlines yang sedang tidak bertugas, Joseph D. Emerson, mencoba mematikan mesin pesawat saat terbang, dua hari setelah mengonsumsi jamur psikedelik. Ia mengaku mengalami “gangguan saraf” dan bergulat dengan depresi serta duka atas kematian sahabatnya. Emerson menyebut aturan federal yang dapat melarang terbang pilot yang mengungkap masalah mental membuatnya berjuang sendirian. Survei terhadap pilot AS pada 2022 menemukan 56% responden mengaku pernah menghindari layanan kesehatan.
Meski demikian, Darby menilai sistem yang ada umumnya sudah baik dalam menyaring pilot yang tidak layak terbang, mengingat kasus serangan seperti di pesawat FlyDubai sangat jarang terjadi. “Saya tidak khawatir,” ujarnya, seraya menyebut peluang kejadian serupa sangat kecil.
(fsd/fsd)
Leave a comment