
Jakarta, CNBC Indonesia – Pasar obligasi global kembali mengalami tekanan. Harga surat utang pemerintah di berbagai negara turun pada Rabu sementara imbal hasil (yield) melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun bahkan puluhan tahun.
Kenaikan yield menunjukkan investor meminta imbal hasil lebih tinggi untuk memegang surat utang. Perlu diketahui, harga obligasi dan yield bergerak berlawanan arah, di mana ketika harga obligasi turun, yield biasanya naik.
Di Eropa, yield obligasi pemerintah Jerman tenor 10 tahun mencapai 3,378%, naik 4 basis poin. Angka ini merupakan level tertinggi sejak 2011.
Tekanan juga terjadi di Jepang. Yield obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun berada di sekitar 3,016%, setelah sehari sebelumnya menembus level 3% untuk pertama kalinya dalam tiga dekade.
Sementara itu, yield US Treasury tenor 10 tahun sempat menyentuh 4,814%, level tertinggi sejak November 2023. Di Inggris, yield obligasi pemerintah atau gilts tenor 10 tahun bahkan mencapai 5,25%, menjadi level tertinggi sejak setelah krisis keuangan global 2008.
Apa yang Terjadi?
Inflasi dan Perang Timur Tengah Jadi Pemicu
Salah satu faktor utama yang membuat pasar obligasi tertekan adalah kembali meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi. Konflik baru di Timur Tengah ikut menjadi perhatian investor karena berpotensi mendorong harga minyak dunia lebih tinggi.
Jika harga minyak naik, biaya energi dan transportasi dapat meningkat sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi. Kondisi tersebut menjadi masalah bagi pasar obligasi karena inflasi yang tinggi dapat membuat bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan kembali menaikkan bunga.
Pasar saat ini memperkirakan sejumlah bank sentral besar akan menaikkan suku bunga pada September. Ketua bank sentral AS, Federal Reserve (Fed), Kevin Warsh sebelumnya juga memberikan sinyal hawkish dalam pidatonya di Jackson Hole.
Di Jepang, Bank of Japan (BoJ), pun diperkirakan berpotensi menaikkan suku bunga untuk membantu menopang yen yang melemah. Sementara itu, pasar juga sepenuhnya memperkirakan kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral Eropa (ECB) setelah data inflasi zona euro dirilis pada Selasa.
Utang Negara Jadi Masalah Besar
Selain inflasi, investor juga semakin khawatir terhadap kondisi fiskal negara-negara besar. AS, Jepang hingga Prancis menghadapi beban utang pemerintah yang tinggi.
Ketika kebutuhan pembiayaan pemerintah meningkat, negara harus menawarkan imbal hasil lebih tinggi untuk menarik investor membeli surat utangnya. Kondisi ini kemudian dapat meningkatkan biaya utang pemerintah.
Tekanan di pasar obligasi juga mulai merembet ke pasar saham. Indeks-indeks utama AS telah turun selama tiga sesi berturut-turut, sementara pasar saham Eropa dan Asia juga berada di zona merah.
Padahal, sepanjang tahun ini banyak pasar saham dunia telah mencatat kenaikan kuat dan bahkan mencapai rekor, didorong optimisme terhadap perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Chief Investment Officer dan Global Head of Equities Principal Asset Management, George Maris, mengatakan kondisi fundamental pasar kini mulai lebih rapuh.
“Jika biaya uang dan risiko meningkat, itulah yang terlihat dari kenaikan yield secara global,” ujar Maris kepada CNBC International dalam program Squawk Box Europe, dikutip Kamis (3/9/2026).
“Level utang di seluruh dunia berada pada tingkat yang sangat tinggi dan terus meningkat. Solusi untuk mengatasinya belum terlihat jelas,” katanya merujuk ke kekhawatiran.
Maris menilai situasi menjadi semakin rentan karena kenaikan utang terjadi ketika ekonomi global masih tumbuh cukup sehat. Artinya, jika terjadi guncangan besar terhadap perekonomian atau pasar keuangan, tingginya utang dapat membuat dampaknya menjadi lebih sulit untuk ditangani.
“Kita berada di tempat yang lebih rentan jika terjadi gangguan,” ujarnya.
(sef/sef)
Leave a comment