Jakarta, CNBC Indonesia – Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional menyatakan siap menghadapi segala bentuk eskalasi dengan kelompok Houthi yang didukung Iran. Pernyataan ini diutarakan di tengah meningkatnya ketegangan setelah serangan drone dan blokade maritim yang menargetkan Arab Saudi.
Hal tersebut memicu kekhawatiran akan pecahnya kembali konflik besar di Semenanjung Arab. perlu diketahui, saat ini Timur Tengah juga dilanda sejumlah konflik lain, seperti serangan Israel ke Palestina dan perang Amerika Serikat (AS) dengan Iran.
“Kami siap menghadapi eskalasi apa pun,” kata Menteri Luar Negeri Yaman, Afrah al-Zouba, kepada wartawan di Riyadh, Arab Saudi, seperti dikutip Reuters, Selasa (28/7/2026).
“Yaman bersiap menghadapi kemungkinan memburuknya situasi keamanan seiring meningkatnya aksi militer Houthi,” tambahnya.
Pernyataan itu disampaikan hanya beberapa jam setelah Houthi mengklaim meluncurkan serangan drone baru yang menyasar infrastruktur minyak Arab Saudi. Serangan tersebut disebut sebagai balasan atas operasi drone yang dilakukan pihak Saudi terhadap kelompok itu.
Lebih lanjut Al-Zouba menilai Houthi tengah berupaya meniru strategi Iran di Selat Hormuz dengan memperluas pengaruhnya ke Selat Bab el-Mandeb, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Houthi sebelumnya menutup laut penting bagi akses energi Arab Saudi tersebut.
“Houthi ingin meniru pengalaman Iran di Hormuz,” ujarnya menyebut langkah tersebut sejalan dengan pola eskalasi yang selama ini dilakukan Teheran di kawasan.
“Mereka berpikir akan bisa menguasai Laut Merah,” katanya, seraya mengingatkan bahwa penguasaan jalur tersebut dapat mengganggu salah satu rute perdagangan dan pengiriman energi terpenting di dunia.
Pekan lalu, Houthi mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi serta mengklaim telah menyerang kapal tanker dan fasilitas minyak milik kerajaan. Aksi itu meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi global karena Selat Bab el-Mandeb menjadi jalur utama ekspor minyak Saudi menuju pasar internasional.
Keamanan yang Rapuh
Di dalam negeri, Al-Zouba mengatakan situasi keamanan Yaman juga semakin rapuh. Ia menyebut pasukan Houthi hampir setiap hari terlibat bentrokan berskala kecil dengan pasukan pemerintah di berbagai wilayah, sehingga risiko meluasnya konflik tetap tinggi.
Sejak 2015, koalisi militer yang dipimpin Arab Saudi telah mendukung pemerintah Yaman dalam memerangi Houthi. Gelombang ketegangan terbaru ini menjadi bentrokan langsung pertama dalam beberapa tahun terakhir antara Saudi dan Houthi, sekaligus meningkatkan ancaman terhadap gencatan senjata yang tercapai pada 2022 meski masa berlakunya telah berakhir.
(tfa/sef)
Add
as a preferred
source on Google
Leave a comment