
Jakarta, CNBC Indonesia – Kementerian Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi menegaskan bahwa Indonesia ke depan tidak lagi menjadi negara yang mengekspor bahan baku. Mengingat, sekarang Indonesia sudah memberlakukan penghentian ekspor bijih mineral mentah dan mewajibkan hilirisasi di dalam negeri untuk seluruh komoditas strategis sejak 2020 lalu.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia menyebutkan bahwa kebijakan hilirisasi ditargetkan berlaku menyeluruh di berbagai sektor untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
“Bapak, Ibu semua investor, kami meyakinkan kepada Bapak, Ibu bahwa Indonesia ke depan tidak lagi menjadi negara yang hanya mengekspor bahan baku. Kami tahu betul beberapa negara yang sudah menjalankan industrialisasi dengan mengharapkan bahan baku dari Indonesia, itu awalnya merasa terganggu betul,” katanya dalam acara Trade Expo Indonesia 2026, Rabu (14/10/2026).
Pemerintah sendiri telah menyiapkan rencana jangka panjang hilirisasi nasional hingga tahun 2040 dengan target capaian sebesar US$ 618 miliar setara Rp 11.062 triliun (asumsi kurs Rp 17.900 per US$). Langkah hilirisasi yang akan dilakukan mencakup sektor mineral dan batu bara, minyak dan gas bumi, kehutanan, perikanan, hingga pertanian.
“Saya ingin menyampaikan bahwa masterplan ke depan hilirisasi Indonesia pada tahun 2040, target kita mencapai US$ 618 miliar. Dan hilirisasi ini sesungguhnya dilakukan dari semua sektor. Baik sektor mineral batu bara, sektor oil and gas, sektor kehutanan, perikanan, maupun pertanian,” paparnya.
Kebijakan penghentian ekspor bijih nikel pada periode 2017-2018 terbukti meningkatkan nilai ekspor dari US$ 3,3 miliar menjadi US$ 34 miliar pada 2023. Nilai ekspor nikel tersebut menembus angka di atas US$ 40 miliar pada 2025 dan ditargetkan mencapai minimal US$ 45 miliar pada 2026 seiring beroperasinya ekosistem baterai kendaraan listrik.
“Begitu kita menyetop ekspor ore nikel, kita membangun industrialisasi, kita membangun hilirisasi, kita membangun ekosistem baterai mobil dari hulu ke hilir sampai dengan battery pack, alhamdulillah nilai ekspor kita untuk di sektor mineral nikel aja pada tahun 2023 sudah mencapai US$ 34 miliar, dan di tahun 2025 sudah lebih di angka US$ 40 miliar, dan di tahun 2026 saya targetkan minimal di angka US$ 45 miliar,” jelasnya.
Penciptaan nilai tambah hasil hilirisasi di dalam negeri dijalankan untuk memperkuat kemandirian nasional. Pemerintah mendorong para investor asing untuk berinvestasi langsung di Indonesia dengan memanfaatkan sumber energi baru dan terbarukan pendukung industri hijau.
“Dan karena itu, saya menyampaikan kepada Bapak, Ibu semua, lakukan investasi di sini saja. Kita akan mendorong memberikan dengan energi baru terbarukan. Karena produk global sekarang itu akan lebih cenderung untuk mencari produk yang green energy dan green industry,” tutupnya.
(pgr/pgr)
Leave a comment