
Jakarta, CNBC Indonesia – Konflik geopolitik, termasuk perang Iran, meningkatkan perhatian terhadap produsen senjata Amerika Serikat, Lockheed Martin. Kebutuhan pengisian kembali persediaan persenjataan Pentagon membuka peluang permintaan bagi perusahaan tersebut.
Reuters pada 23 Juli 2026 melaporkan bahwa konflik dari Iran hingga Ukraina telah menguras persediaan senjata yang perlu diisi kembali. Di tengah kondisi tersebut, bagaimana perkembangan pendapatan, laba bersih, dan ekuitas Lockheed Martin?
Perbandingan semester I atau H1 2022-2026 menunjukkan penjualan yang terus meningkat. Namun, pergerakan labanya turut dipengaruhi pencadangan kerugian program dan beban lainnya.
Pendapatan H1 2026 Tertinggi dalam Lima Periode
Lockheed Martin membukukan pendapatan US$38,08 miliar pada H1 2026, meningkat 5,44% dibandingkan H1 2025.
Angka tersebut menjadi yang tertinggi dalam lima periode pembanding. Dibandingkan H1 2022, pendapatan meningkat 25,24%.
Tren ini memperlihatkan pertumbuhan penjualan yang sudah berlangsung selama beberapa tahun. Karena itu, kenaikan pada H1 2026 perlu dibaca bersama peningkatan produksi dan pelaksanaan kontrak yang telah berjalan sebelumnya.
Laba Melonjak, Belum Lewati H1 2023
Laba bersih H1 2026 mencapai US$3,32 miliar, naik 61,83% dibandingkan US$2,05 miliar pada H1 2025.
Meski pertumbuhannya tinggi, laba tersebut masih 1,36% di bawah H1 2023. Dengan demikian, H1 2026 menunjukkan pemulihan kuat dari tahun sebelumnya, sementara rekor laba dalam rentang pembanding masih berada pada 2023.
Basis pembanding menjadi faktor penting. Pada kuartal II-2025, perusahaan mencatat kerugian program sebelum pajak sekitar US$1,62 miliar, termasuk program rahasia Aeronautics serta program helikopter Kanada dan Turki.
Beban tersebut menekan laba H1 2025. Pemulihan pada 2026 turut mencerminkan tidak berulangnya kerugian besar yang sama.
Angka 2022 juga memiliki faktor khusus berupa beban penyelesaian pensiun nonkas. Oleh sebab itu, fluktuasi laba selama lima periode ini belum bisa seluruhnya dikaitkan dengan intensitas perang.
Ekuitas Pulih Menjadi US$8,77 Miliar
Ekuitas pemegang saham mencapai US$8,77 miliar pada akhir H1 2026, meningkat 64,38% dibandingkan akhir H1 2025.
Meski pulih, nilainya masih di bawah posisi akhir H1 2022 dan H1 2023.
Perubahan ekuitas perlu dibaca bersama laba, pembagian dividen, pembelian kembali saham, dan penghasilan komprehensif lainnya. Ekuitas yang lebih kecil juga dapat memperbesar rasio pengembalian terhadap modal atau ROE.
H1 mengikuti periode fiskal perusahaan yang berakhir sekitar akhir Juni; jumlah minggu antarperiode dapat berbeda. Pendapatan dan laba bersih merupakan akumulasi semester, sedangkan ekuitas merupakan posisi akhir semester.
Perbandingan H1 2026 dan H1 2025
Selain pendapatan dan laba, arus kas Lockheed Martin juga meningkat dibandingkan semester pertama tahun sebelumnya.
Dalam Form 10-Q, perusahaan menjelaskan bahwa peningkatan arus kas operasi H1 2026 terutama berasal dari waktu penerimaan pembayaran pelanggan dan pembayaran pajak yang lebih rendah. Lonjakan kas tersebut juga memiliki faktor di luar pertumbuhan penjualan.
Dampak Permintaan Terlihat pada Bisnis Rudal
Perkembangan bisnis rudal memberi gambaran lebih spesifik mengenai peningkatan kebutuhan persenjataan.
Pendapatan Missiles and Fire Control pada H1 2026 mencapai US$7,75 miliar, naik 13,87% dibandingkan H1 2025. Laba operasinya meningkat 15,89% menjadi US$1,09 miliar.
Perusahaan mengaitkan kenaikan penjualan semester tersebut terutama dengan peningkatan produksi PAC-3, THAAD, dan Precision Strike Missile.
Data ini menunjukkan pertumbuhan produksi persenjataan. Namun, laporan tersebut tidak memisahkan berapa besar pendapatan atau laba tambahan yang secara khusus berasal dari perang Iran. Besarnya kontribusi perang terhadap hasil konsolidasi belum dapat dihitung hanya dari angka tersebut.
Aset, ROE, dan DER pada Akhir H1 2026
Total aset per 28 Juni 2026 mencapai US$62,45 miliar, dengan liabilitas US$53,68 miliar dan ekuitas US$8,77 miliar.
ROE semester pertama mencapai 42,92%, memakai laba bersih H1 dibagi rata-rata ekuitas akhir 2025 dan akhir H1 2026. Jika disetahunkan secara sederhana, nilainya 85,84%; angka ini merupakan ekstrapolasi.
DER berbasis total liabilitas sebesar 6,12 kali, sedangkan utang berbunga tercatat terhadap ekuitas sebesar 2,34 kali.
Kesepakatan Pentagon Menambah Prospek Setelah H1
Setelah periode semester pertama berakhir, Lockheed Martin dan Pentagon pada 22 Oktober 2026 mengumumkan kerangka kesepakatan F-35 selama 10 tahun.
Kerangka tersebut mencakup 850 pesawat untuk Amerika Serikat, suku cadang awal, serta modifikasi dan pemeliharaan. Dengan memasukkan pelanggan internasional, produksi direncanakan bertahan pada 156 pesawat per tahun.
Pelaksanaannya masih membutuhkan otorisasi dan anggaran Kongres, sebelum harga, jadwal, serta ketentuan kontrak difinalisasi.
Kesepakatan Oktober tersebut menjadi prospek bisnis berikutnya dan belum menjadi penyebab kinerja H1 2026. Manfaatnya bagi pemegang saham akan ditentukan oleh realisasi kontrak, margin produksi, dan penerimaan pembayaran pelanggan.
–
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)
Leave a comment