Home Finance Siapa Gadi Eisenkot? Pengganti Netanyahu yang Ditunjuk Presiden Israel
Finance

Siapa Gadi Eisenkot? Pengganti Netanyahu yang Ditunjuk Presiden Israel

Share
Siapa Gadi Eisenkot? Pengganti Netanyahu yang Ditunjuk Presiden Israel
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Jenderal Militer Israel, Gadi Eisenkot telah resmi ditujunjuk Presiden Israel Isaac Herzog untuk membentuk pemerintahan baru, setelah pemilihan umum Israel pada 27 Oktober 2026 tidak menghasilkan pemenang yang menguasai penuh mayoritas kursi parlemen.

Jika Eisenkot berhasil membentuk pemerintahan, ia akan mengambil alih kursi jabatan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Lantas, siapa Gadi Eisenkot?

Dilansir The Straits Times, Gadi Eisenkot merupakan kepala staf angkatan darat Israel selama periode 2015-2019. Ia dikenal pria yang pendiam, berlawanan gaya dengan Netanyahu yang terkenal provokatif dan memiliki aksen Inggris Amerika yang sempurna.

Ia telah berjanji untuk menindak tegas para pemukim ekstremis di Tepi Barat yang telah menyerang warga Palestina tanpa hukum, dan mengecam insiden-insiden baru-baru ini sebagai “teror Yahudi” yang didukung oleh pemerintahan Netanyahu.

Namun, anggota militer itu disebutkan bukanlah seorang pencinta damai. Dia menentang pembentukan negara Palestina dan bersumpah untuk mengakhiri kekuasaan Hamas di Gaza dan menghancurkan sayap militer gerakan Islamis tersebut.

Saat memimpin militer selama perang tahun 2006 dengan Hizbullah, Eisenkot merancang apa yang disebut “doktrin Dahiya”.

Gagasan tersebut, yang dinamai berdasarkan sebuah pinggiran kota Beirut yang rusak parah dalam perang itu, melibatkan Israel yang bersumpah untuk menggunakan kekuatan besar-besaran terhadap infrastruktur sipil di daerah-daerah yang dikuasai oleh gerakan militan Lebanon, Hizbullah.

Israel kembali menerapkan doktrin tersebut di Gaza, menyebabkan kehancuran yang menurut para kritikus merupakan kejahatan perang, sebuah pernyataan yang dibantah oleh Israel.

Dalam hal hubungan internasional, ia berjanji untuk memperdalam hubungan Israel dengan sekutu terdekatnya, Amerika Serikat.

Dalam periode pemilu Oktober 2026, ia mendapatkan simpati publik yang luas setelah putranya, Gal, dan dua keponakannya tewas dalam pertempuran di Gaza.

Ia akan menjadi perdana menteri pertama yang beragama Sephardi – yaitu orang Yahudi yang sebagian besar menelusuri asal-usul mereka baru-baru ini ke Timur Tengah dan Afrika Utara.

Berbeda dengan Netanyahu, yang berasal dari keluarga elit dan ayahnya adalah seorang profesor terkemuka di Amerika Serikat, Eisenkot adalah putra dari keluarga Yahudi Maroko, dan dibesarkan di pinggiran geografis Israel.

CNN Internasional mencatat, jenderal tertinggi Israel, dibesarkan di Tiberias dan Eilat, di luar pusat kekuasaan politik negara itu. Kisahnya sangat kontras dengan latar belakang Netanyahu yang berasal dari kalangan elit Yerusalem dan berada di lingkaran kekuasaan.

Eisenkot adalah anak kedua dari sembilan bersaudara dan ayah dari lima anak. Ia tergolong pendatang baru di dunia politik setelah menghabiskan sebagian besar hidupnya di Angkatan Pertahanan Israel (IDF).

Ia bergabung dengan Brigade Golani pada tahun 1978 dan selama 40 tahun kariernya, ia meniti karier hingga menjadi kepala staf dari tahun 2015 hingga 2019, di bawah kepemimpinan Netanyahu.

Ia terjun ke dunia politik pada tahun 2022 bersama mantan kepala staf lainnya, Benny Gantz. Setelah serangan yang dipimpin Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023, keduanya bergabung dengan kabinet perang darurat Netanyahu. Namun mereka meninggalkan kabinet tersebut pada Juni 2024, dengan alasan tidak adanya strategi pasca-perang yang jelas.

Dalam kampanyenya, Eisenkot berupaya memikat berbagai pihak yang bertentangan dalam masyarakat Israel, dengan menjanjikan perlindungan yang lebih besar bagi komunitas LGBTQ Israel, dan membela kendali Israel atas Tepi Barat kepada kaum Yahudi religius.

Namun ia menolak aneksasi langsung wilayah tersebut, serta pendirian pos-pos pemukiman tidak sah seperti yang telah dimungkinkan oleh pemerintahan Netanyahu dan yang telah memicu peningkatan kekerasan terhadap warga Palestina baru-baru ini.

Mengenai Gaza, ia telah berjanji untuk mengakhiri kekuasaan Hamas dalam waktu 18 bulan, baik melalui implementasi rencana gencatan senjata Presiden AS Donald Trump berupa pelucutan senjata Hamas secara bertahap dan transfer kekuasaan, atau melalui “operasi kreatif” yang bertujuan untuk menghancurkan sayap militer gerakan tersebut.

Eisenkot berjanji untuk membatasi pengecualian dari wajib militer bagi mahasiswa yang beragama. Namun, dia menjanjikan “undang-undang layanan nasional universal” yang mewajibkan warga Yahudi ultra-Ortodoks dan warga Arab untuk melakukan layanan militer atau sipil.

Ia berupaya menarik perhatian pemilih sentris dan liberal dengan berjanji untuk melindungi independensi peradilan, supremasi hukum, hak-hak minoritas, dan kebebasan pers.

Isu-isu ini merupakan kunci bagi posisi Eisenkot sebagai politisi moderat, dengan banyak warga Israel yang prihatin dengan apa yang mereka anggap sebagai erosi lembaga-lembaga demokrasi setelah bertahun-tahun di bawah pemerintahan Netanyahu.

Ditunjuk Presiden

Menurut laporan Al Jazeera, Minggu (8/11/2026), Presiden Israel Isaac Herzog telah menyampaikan keputusan menunjuk Eisenkot untuk membentuk pemerintahan baru pada Sabtu (7/11) malam. Penyerahan mandat secara resmi dijadwalkan berlangsung pada Minggu (8/11/2026).

Keputusan itu diambil setelah Herzog melakukan konsultasi dengan sejumlah partai politik menyusul pemilihan umum Israel pada 27 Oktober 2026 yang tidak menghasilkan pemenang dengan mayoritas kursi parlemen.

Sebanyak 67 anggota parlemen Israel atau Knesset, termasuk dari partai-partai yang dipimpin warga Arab, merekomendasikan Eisenkot untuk membentuk pemerintahan baru. Sementara itu, Netanyahu hanya memperoleh dukungan dari 46 anggota parlemen.

Eisenkot, yang memimpin Partai Yashar, memiliki waktu 28 hari untuk membentuk koalisi pemerintahan, dengan kemungkinan perpanjangan selama 14 hari. Untuk membentuk pemerintahan dengan dukungan mayoritas, ia perlu mengamankan sedikitnya 61 dari total 120 kursi Knesset.

Dalam pemilu Oktober lalu, aliansi empat partai yang dipimpin Eisenkot memperoleh 48 kursi. Sementara itu, blok sayap kanan dan partai-partai keagamaan pendukung Netanyahu meraih 53 kursi.

Adapun partai-partai yang dipimpin warga Arab Israel mencatatkan perolehan tertinggi sepanjang sejarah dengan memenangkan 19 kursi. Meski mendapat dukungan dari partai-partai Arab, Eisenkot sebelumnya telah menolak kemungkinan membentuk pemerintahan bersama mereka. Padahal, jika bergabung, koalisi tersebut dapat menguasai 67 kursi parlemen.

Pilihan lain bagi Eisenkot adalah menggandeng dua partai Yahudi ultra-Ortodoks, yakni United Torah Judaism dan Shas. Dukungan kedua partai tersebut akan memberinya tepat 61 kursi. Selain itu, Eisenkot juga berpeluang membentuk pemerintahan minoritas dengan jumlah kursi kurang dari 61, asalkan berhasil memenangkan pemungutan suara kepercayaan di parlemen.

(arj/arj)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *