Home Finance Singapura Ketar-ketir, Ancaman Teror Mengintai-Anak Muda Jadi Sasaran
Finance

Singapura Ketar-ketir, Ancaman Teror Mengintai-Anak Muda Jadi Sasaran

Share
Singapura Ketar-ketir, Ancaman Teror Mengintai-Anak Muda Jadi Sasaran
Share




Jakarta, CNBC Indonesia Singapura meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman terorisme. Radikalisasi anak muda dilaporkan semakin mengkhawatirkan.

Hal ini terungkap dari laporan Departemen Keamanan Dalam Negeri (ISD) soal Penilaian Ancaman Terorisme Singapura. Disebutkan bahwa enam dari delapan kasus yang ditangani berdasarkan Undang-Undang Keamanan Dalam Negeri (ISA) sejak Juli 2025 melibatkan individu berusia di bawah 21 tahun.

Meski menyebut tingkat ancaman terhadap negara itu masih tinggi, hingga kini belum ada intelijen spesifik mengenai rencana serangan dalam waktu dekat. “Singapura dan kepentingannya tetap menjadi target menarik bagi elemen teroris,” kata ISD, seperti dikutip Channel News Asia (CNA), Kamis (10/9/2026).

Menurut ISD, posisi Singapura sebagai negara yang memiliki hubungan erat dengan negara-negara Barat seperti Amerika Serikat (AS) dan Israel membuat rentan. Belum lagi keberadaan sejumlah landmark ikonik, serta karakter masyarakat yang sekuler dan multikultural.

Konflik di Timur Tengah juga memperburuk situasi keamanan global. Ini memperluas ancaman terorisme ke luar wilayah konflik.

Ancaman domestik terutama didorong radikalisasi mandiri melalui internet. ISD menyebut propaganda ekstremis dari luar negeri dapat menyebar dengan cepat melalui platform daring, sementara konflik internasional kerap menjadi pemicu kuat.Dalam setahun terakhir, tujuh dari delapan warga Singapura yang ditindak berdasarkan ISA diketahui mengalami radikalisasi secara mandiri.

Yang paling mengkhawatirkan adalah meningkatnya keterlibatan kaum muda, yang melonjak hampir empat kali lipat dari empat kasus pada periode 2017-2021 menjadi 15 kasus sejak 2022. Bahkan, sejak Juni 2024, empat remaja berusia 14 tahun telah dikenai perintah ISA dan menjadi individu termuda yang pernah ditindak berdasarkan aturan tersebut.

ISD juga menyoroti Composite Violent Extremism (CoVE) atau ekstremisme “salad bar”, yang membuat seseorang mencampurkan berbagai ideologi ekstremis untuk membentuk keyakinan pribadi. Tiga kasus CoVE yang ditangani dalam setahun terakhir seluruhnya melibatkan kaum muda di bawah 21 tahun, dengan latar belakang keyakinan yang mencampur dukungan terhadap Islamic State, ekstremisme sayap kanan maupun kiri, antisemitisme, anti-Barat, hingga ideologi incel.

Platform digital, termasuk media sosial dan gim online, disebut memainkan peran penting dalam proses radikalisasi. Paparan berulang tersebut dinilai dapat membentuk ruang gema ideologis dan membuat kekerasan semakin dianggap normal.

“Kaum muda yang menghabiskan banyak waktu secara daring dapat menjumpai konten ekstremis yang mengandung kekerasan di dalam komunitas daring atau melalui rekomendasi algoritma di media sosial,” ujar ISD.

Dalam setahun terakhir, lima dari delapan warga Singapura yang ditindak berdasarkan ISA merupakan pendukung Islamic State dan pertama kali menemukan propaganda kelompok tersebut melalui media sosial. Tiga di antaranya disebut berencana melakukan serangan di Singapura dengan menggunakan senjata sederhana, sementara ISD memperingatkan bahwa aksi kekerasan virtual dapat berkembang menjadi niat dan rencana di dunia nyata.

Ancaman dari luar negeri juga menjadi perhatian. ISD memperingatkan aktivitas Iran dan jaringan proksinya. Termasuk Hamas, Hizbullah, Houthi serta kelompok HAYI, berpotensi memperluas risiko serangan ke Asia Tenggara.

“Kami tidak menutup kemungkinan bahwa perjalanan Baqer ke kawasan ini mungkin bertujuan untuk aksi terorisme dan ia bisa saja mengincar Singapura, termasuk kepentingan AS dan Israel/Yahudi di sini,” kata ISD, merujuk pada Mohammad Baqer Saad Dawood Al-Saadi yang disebut terkait serangkaian rencana serangan.

Sementara itu, Menteri Koordinator Keamanan Nasional Singapura K Shanmugam menegaskan kewaspadaan masyarakat menjadi bagian penting dalam mencegah serangan.

“ISD dan MHA harus selalu berhasil mencegahnya setiap saat. Sementara itu, calon pelaku serangan hanya perlu berhasil satu kali saja,” ujarnya, seraya meminta masyarakat segera melapor jika menemukan aktivitas mencurigakan.

(tfa/sef)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *