Home Finance Tak Cuma MSCI! Ini 20 Drama yang Buat IHSG Babak Belur Sepanjang 2026
Finance

Tak Cuma MSCI! Ini 20 Drama yang Buat IHSG Babak Belur Sepanjang 2026

Share
Tak Cuma MSCI! Ini 20 Drama yang Buat IHSG Babak Belur Sepanjang 2026
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – Selama 10 bulan terakhir, pasar modal Indonesia sudah dihadapkan pada sederet peristiwa besar sepanjang 2026.

Mulai dari evaluasi MSCI, pergantian pejabat regulator, hingga perubahan aturan perdagangan saham, berbagai perkembangan turut mempengaruhi sentimen investor.

Di tengah rangkaian peristiwa tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pergerakan yang cukup ekstrem. Indeks yang sempat menyentuh rekor tertinggi 9.174,47 pada Januari justru merosot hingga ke kisaran 4.900 pada Oktober.

Melihat kembali berbagai peristiwa tersebut dapat memberikan gambaran mengenai faktor-faktor yang memengaruhi pergerakan IHSG sepanjang tahun ini.



1. IHSG Cetak All Time High, Tembus 9.100 (20 Januari)

IHSG mengawali tahun dengan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa atau all-time high (ATH).

Pada 20 Januari 2026, indeks sempat menyentuh level 9.174,47 secara intraday. Namun, pencapaian tersebut tidak bertahan lama setelah pasar menghadapi tekanan besar menjelang akhir Januari.

2. MSCI Bekukan Indeks, IHSG Kena Trading Halt (27-29 Januari)

MSCI mengumumkan pembekuan sementara sejumlah penyesuaian indeks saham Indonesia pada 27 Januari 2026 akibat kekhawatiran terhadap transparansi kepemilikan dan perhitungan free float

. Sehari kemudian, IHSG anjlok 7,35% ke 8.320,56 dan mengalami trading halt setelah penurunan intraday mencapai 8%. Trading halt kembali terjadi pada 29 Januari ketika indeks melanjutkan pelemahannya.



3. Bos BEI dan Petinggi OJK Mundur Berjamaah (30 Januari)

Hanya berselang dua hari setelah isu evaluasi MSCI, pasar modal Indonesia kembali menghadapi tekanan akibat kabar pengunduran diri sejumlah pejabat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI.

Perubahan kepemimpinan ini memicu ketidakpastian kebijakan dan meningkatkan kekhawatiran investor, sehingga berdampak pada volatilitas IHSG.

Pejabat yang mengundurkan diri:

  • Iman Rachman – Direktur Utama BEI.

  • Mahendra Siregar – Ketua Dewan Komisioner OJK.

  • Mirza Adityaswara – Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK.

  • Inarno Djajadi – Dewan Komisioner OJK.

  • I.B. Aditya Jayaantara – Dewan Komisioner OJK.

4. Ketegangan Geopolitik AS dan Iran (28 Februari)

Pemulihan IHSG tidak berlangsung lama setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran melalui Operation Epic Fury pada 28 Februari 2026.

Serangan yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, tersebut memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global.

 

Harga minyak dunia kemudian sempat mendekati US$120 per barel, sementara emas mencapai US$ 5.400 per troy ons di tengah meningkatnya permintaan aset aman (safe haven). Tekanan turut merembet ke pasar saham Indonesia, dengan IHSG melemah 2,66% ke level 8.016,83 pada 2 Maret.

5. Kebocoran Dokumen Fitch Ratings (4 Maret)

Memasuki Maret, IHSG kembali tertekan setelah beredarnya draf dokumen Fitch Ratings yang mengindikasikan penurunan prospek peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif. Kabar tersebut menambah kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi dan arah kebijakan domestik.

 

Pada hari yang sama, Fitch resmi memangkas outlook Indonesia menjadi negatif, tetapi tetap mempertahankan peringkat kredit di level BBB. Di tengah tekanan tersebut, IHSG ditutup anjlok 4,57% ke level 7.577,06.

6. BEI Umumkan 9 Saham HSC, Ada BREN dan DSSA (2 April)

BEI untuk pertama kalinya merilis daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC). Sebanyak sembilan emiten masuk dalam daftar awal, termasuk BREN dan DSSA. Pengumuman ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan transparansi kepemilikan saham setelah persoalan free float mendapat perhatian MSCI.

7. Jelang MSCI Review, Asing Ramai-Ramai Jual Saham (7-13 Mei)

Menjelang pengumuman MSCI May Index Review, investor asing mencatatkan aksi jual bersih di pasar saham Indonesia.

Nilai net sell mencapai Rp751,18 miliar pada 11 Mei, Rp931,38 miliar pada 12 Mei, dan Rp1,53 triliun pada 13 Mei. Tekanan jual berlangsung di tengah antisipasi pasar terhadap perubahan komposisi indeks MSCI.

8. Danantara DSI dan Rencana Kebijakan Ekspor Satu Pintu (19-20 Mei)

IHSG mengalami penurunan pada 19 Mei di tengah rumor pembentukan badan khusus ekspor komoditas oleh pemerintah. Kekhawatiran terhadap perubahan mekanisme ekspor turut menekan saham-saham batu bara, mineral, dan kelapa sawit.

 

Sehari kemudian, pemerintah resmi mengumumkan rencana kebijakan ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) untuk komoditas batu bara, kelapa sawit, dan ferroalloy.

9. Rebalancing MSCI, Asing Kabur Rp8,52 Triliun (29 Mei)

Arus keluar modal asing kembali meningkat menjelang akhir Mei, bertepatan dengan periode penyesuaian indeks MSCI. Pada 29 Mei, investor asing membukukan penjualan bersih sekitar Rp8,52 triliun. Besarnya transaksi tersebut turut menekan perdagangan saham domestik.

10. Moody’s Turunkan Rating DIM, Pasar Kembali Tertekan (3 Juni)

Pasar kembali menghadapi sentimen negatif setelah muncul kabar penurunan peringkat Danantara Investment Management (DIM) oleh Moody’s menjadi Baa2.

Pada periode yang sama, beredar pula kekhawatiran mengenai potensi perubahan penilaian kredit Indonesia oleh S&P. Perkembangan tersebut menambah perhatian investor terhadap risiko fiskal dan kondisi ekonomi domestik.

11. Rupiah Pertama Kali Tembus Rp18.000 (4 Juni)

Tekanan terhadap pasar keuangan domestik semakin dalam ketika rupiah menembus level Rp18.000 per dolar AS di pasar spot pada 4 Juni 2026. Mata uang Garuda sempat melemah hingga Rp18.029 per dolar AS pada perdagangan pagi.

Di saat bersamaan, IHSG merosot hingga 5% ke level 5.644,23 secara intraday, menjadi posisi terendah dalam sekitar lima tahun terakhir. Pelemahan tersebut berlangsung di tengah arus keluar modal asing dan meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi domestik.



12. MSCI Pertahankan RI di Emerging Market, IHSG Tetap Turun (23 Juni)

MSCI mempertahankan klasifikasi Indonesia sebagai Emerging Market dalam evaluasi tahunannya. Namun, evaluasi terhadap pasar saham Indonesia dilanjutkan hingga November 2026 karena masih adanya kekhawatiran mengenai transparansi kepemilikan saham dan dugaan praktik perdagangan terkoordinasi. Di tengah catatan tersebut, IHSG ditutup melemah 3,56% ke level 5.883,88 pada perdagangan 24 Juni.

13. Purbaya Dicopot dari Menkeu, Digantikan Suahasil (14 September)

Presiden Prabowo Subianto memberhentikan Purbaya Yudhi Sadewa dari jabatan Menteri Keuangan pada 14 September 2026. Posisinya digantikan oleh Suahasil Nazara yang sebelumnya menjabat Wakil Menteri Keuangan. Pergantian tersebut menjadi perhatian pelaku pasar di tengah kekhawatiran mengenai kesinambungan kebijakan fiskal Indonesia.

14. BEI Buka Perdagangan Saham Rp1, Tak Lagi Mentok Gocap (21 September)

BEI mengumumkan perubahan batas harga minimum saham dari Rp50 menjadi Rp1 pada 21 September 2026. Ketentuan yang mulai berlaku pada 28 September tersebut memungkinkan saham diperdagangkan di bawah harga Rp50. Perubahan ini menjadi salah satu pembaruan aturan perdagangan saham sepanjang tahun.

15. BEI Mulai Terapkan Short Selling (1 Oktober)

Setelah beberapa kali tertunda, Bursa Efek Indonesia (BEI) akhirnya resmi memulai transaksi short selling pada 1 Oktober 2026. Pada tahap awal, fasilitas ini tersedia untuk lima saham, yakni PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).

Mekanisme yang memungkinkan investor memperoleh keuntungan dari penurunan harga saham ini dibuka secara terbatas melalui dua perusahaan sekuritas, yakni Semesta Indovest Sekuritas dan Ajaib Sekuritas, dengan persyaratan modal minimum Rp50 juta.

16. MSCI Buka Konsultasi Penurunan Status Indonesia ke Standalone Market (15 Oktober)

MSCI kembali menjadi sorotan setelah membuka konsultasi terkait kemungkinan perubahan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Usulan tersebut muncul di tengah berlanjutnya kekhawatiran terhadap transparansi dan aksesibilitas pasar saham Indonesia. Meski belum menjadi keputusan final, pengumuman ini meningkatkan tekanan terhadap pasar domestik.

17. IHSG Ambruk 11%, Terparah Sejak Krisis 1998 (16 Oktober)

Sehari setelah pengumuman MSCI, IHSG mengalami kejatuhan harian terdalam dalam 28 tahun. Indeks anjlok sekitar 11,57% ke level 5.185,11, bahkan melampaui penurunan harian saat krisis keuangan global 2008. Perdagangan sempat dihentikan sementara setelah IHSG merosot lebih dari 8% pada awal sesi.

18. OJK Denda Pihak Terkait DSSA, BREN, CUAN Rp2,1 T (16 Oktober)

Di tengah kejatuhan IHSG, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjatuhkan sanksi administratif dengan total Rp2,1 triliun kepada sejumlah pihak terkait pelanggaran pasar modal yang melibatkan saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).

Sanksi tersebut mencakup temuan manipulasi perdagangan saham serta pelanggaran dalam proses penjatahan saham saat penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO).

Rincian nilai denda berdasarkan saham terkait:

  • DSSA: Rp1,5 triliun.

  • BREN: Rp500 miliar.

  • CUAN: Rp100 miliar.

Sanksi dikenakan kepada pihak-pihak yang dinyatakan melanggar ketentuan, bukan secara otomatis kepada perusahaan emitennya.

19. IHSG Ambruk, Batas ARB Kembali ke 7% (19 Oktober)

BEI kembali menerapkan batas Auto Rejection Bawah (ARB) sebesar 7% mulai 19 Oktober 2026, dari sebelumnya 15%. Kebijakan tersebut diambil menyusul kejatuhan IHSG lebih dari 11% pada perdagangan sebelumnya. Penyesuaian ini membatasi penurunan harga saham dalam satu hari perdagangan untuk meredam tekanan jual yang berlebihan.

20. BEI Depak 80 Saham HSC dari IHSG, Ada BREN hingga DCII (21 Oktober)

Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi mengumumkan pengecualian saham berkategori High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG melalui pengumuman tertanggal 21 Oktober 2026. Kebijakan ini akan berlaku mulai 2 November sebagai upaya meningkatkan keterwakilan indeks terhadap kondisi pasar.

Hingga 19 Oktober 2026, sebanyak 80 saham tercatat masuk daftar High Shareholding Concentration (HSC), termasuk PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT DCI Indonesia Tbk (DCII). Secara keseluruhan, saham-saham tersebut menyumbang sekitar 18% terhadap bobot IHSG.

Sebelumnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) juga telah mengecualikan saham yang masuk kategori HSC dari indeks IDX30, LQ45, dan IDX80.

 

(mae/mae)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *