Jakarta, CNBC Indonesia – Kementerian Pertanian (Kementan) mengungkapkan teknologi sektor pertanian di Indonesia sudah mulai berkembang maju, di mana kini sudah dilakukan mekanisasi dalam pertanian.
Kepala Badan Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Padi (BRMP) Kementan Amin Nur mengatakan proses mekanisasi pertanian semakin berkembang, seperti penggunaan metode tanam benih langsung (tabela), teknologi drone seeder, dan lain-lainnya.
“Pengembangan sistem mekaniksasi pertanian terus berkembang, mulai dari sistem tanam dengan menggunakan tabela, dengan drine seeder, dan bisa juga menggunakan tanam pindah. Bahkan saat ini didorong oleh Menteri Pertanian (Mentan) untuk menggunakan drone,” kata Amin dalam World Food Day CNBC Indonesia, Jumat (30/10/2026).
Pihaknya melanjutkan, teknologi yang sedang masif dilakukan oleh Kementan saat ini yakni pengembangan Pertanian Modern – Advanced Agriculture System (PM-AAS).
“PM-AAS ini memiliki ciri tersendiri. Nah, inilah nanti yang saat ini akan dikembangkan secara masif dan diikuti dengan pendampingan setiap musim, supaya petani, penyuluh memiliki sinergi yang untuk bisa memasifkan di tingkat masyarakat,” terang Amin.
Pihaknya menargetkan penerapan PM-AAS dapat mengembangkan cetak sawah seluas 2.000 hektare dengan menggunakan metode tanam biasa, dengan populasi pertanian mencapai sekitar 250-300 populasi per hektare.
“Dengan metode PM-AAS ini, ada terjadi peningkatan populasi sekitar 800 sampai 1 juta populasi per hektare. Alhamdulillah kita melihat hasilnya dari 6,32 ton yang secara existing, yang konvensional, dengan menggunakan model PM-AAS ini bisa mencapai sampai 10 ton lebih. Bahkan di beberapa tempat ada mencapai sampai 13 ton per hektare,” jelasnya.
Amin melanjutkan target 2.000 hektare itu akan dilakukan di 15 provinsi. Namun, pihaknya tidak merinci provinsi mana saja yang mendapat program cetak sawah.
“Di 2026 ini, kita diminta ada pilot project 2.000 hektare di 15 provinsi. Nantinya, masing-masing provinsi diharapkan dapat mencetak sawah hingga 100 hektare. Nah, ada 2-3 provinsi, itu mencapai 300-400 hektare. Sehingga totalnya sekitar 2.000 lebih,” ujarnya.
Dengan adanya penerapan PM-AAS, Dia mengaku ada peningkatan signifikan dalam produksi gabah.
“Dari hasil pengembangan pilot project ini yang kita lakukan, baik dari lahan rawa maupun lahan irigasi, itu ada terjadi peningkatan signifikan, hasil tertinggi yang didapatkan dari 15 provinsi itu, bisa sampai 12,5 ton per hektare gabah kering panen (GKP),” ungkapnya.
Kepala Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Padi Amin Nur meyampaikan pemaparannya dalam acara World Food Day ”Inovasi untuk Kedaulatan Pangan Indonesia” di Jakarta, Jumat (30/10/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Kepala Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Padi Amin Nur meyampaikan pemaparannya dalam acara World Food Day ”Inovasi untuk Kedaulatan Pangan Indonesia” di Jakarta, Jumat (30/10/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
|
(dce)

Leave a comment