
Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tersungkur di zona merah pada perdagangan Jumat (16/10/2026). Menutup perdagangan hari ini, IHSG berada di level 5.185,10, turun 678,67 poin atau 11,57%.
Tekanan jual sudah terlihat sejak pembukaan. IHSG dibuka di level 5.393,92, jauh di bawah penutupan hari sebelumnya, sehingga indeks langsung berada di zona merah sejak awal sesi. Level tertinggi hari ini hanya mencapai 5.404,51, sementara level terendah berada di 5.185,11.
Sepanjang perdagangan hari ini memperlihatkan indeks sempat berusaha bangkit setelah anjlok di awal sesi, dengan rebound terbatas di kisaran 5.300 pada sekitar pukul 10.00 WIB. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan. IHSG kembali melemah secara bertahap dan terus bergerak turun hingga penutupan.
Dari sisi aktivitas perdagangan, volume transaksi tercatat sebesar 658,27 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp26.379,63 miliar atau sekitar Rp26,4 triliun.
Mengutip data IDX, sepanjang perdagangan hari ini hanya ada 11 saham yang bertahan menguat, sementara 812 saham melemah dan 140 saham tak bergerak.
Penyebab IHSG ambuk hari ini karena sejumlah sektor antara lain sektor infrastruktur yang anjlok sebesar 14,3%, disusul oleh material dasar yang anjlok 13,3%, dan sektor kesehatan yang anjlok 13,1%.
Saham-saham yang membebani IHSG antara lain, PT. Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT. Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), dan PT. Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN).
Sementara saham-saham penopang koreksi IHSG hari ini antara lain, PT. Bayan Resources Tbk. (BYAN), PT. Bank of India Indonesia Tbk. (BSWD), PT. Indoritel Makmur Internasional Tbk. (DNET), PT. Guna Timur Raya Tbk. (TRUK), dan PT. Asuransi Bina Dana Arta Tbk. (ABDA).
Sentimen pasar saat ini dipengaruhi rencana MSCI mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Rencana tersebut masih dalam tahap konsultasi dan belum menjadi keputusan final. MSCI membuka kesempatan bagi pelaku pasar untuk memberikan tanggapan hingga 30 April 2027, sedangkan keputusan akhir akan diumumkan paling lambat 30 Juni 2027.
“MSCI akan mengumumkan keputusan akhir pada akhir Juni 2027 dan mungkin memberikan pembaruan sementara mengenai tanggapan peserta pasar selama periode konsultasi,” tulis MSCI dalam pengumumannya, dikutip Jumat (16/10/2026).
MSCI menilai klasifikasi Indonesia sebagai pasar berkembang tidak lagi sesuai dengan kondisi pasar saat ini. Penilaian tersebut didasarkan pada kekhawatiran mengenai tingkat investabilitas, transparansi struktur kepemilikan saham, dugaan praktik perdagangan terkoordinasi, serta belum terlihatnya penegakan aturan yang memberikan dampak berarti.
Selama proses konsultasi, MSCI juga tetap membekukan sejumlah perubahan indeks untuk saham Indonesia. MSCI tidak akan menaikkan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), menambahkan saham baru ke dalam MSCI Indonesia Investable Market Index, maupun menaikkan saham ke segmen indeks yang lebih tinggi.
Kabar tersebut berpotensi meningkatkan kehati-hatian investor asing terhadap aset domestik. Apabila mendorong keluarnya dana asing dari pasar saham, kebutuhan terhadap dolar AS dapat meningkat dan menambah tekanan terhadap rupiah.
(rob/rob)
Leave a comment