Jakarta, CNBC Indonesia– Kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran mengklaim telah melancarkan serangan terhadap sejumlah lokasi sensitif yang menjadi bagian dari jaringan pasokan dan transportasi minyak mentah Arab Saudi. Serangan ini kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi global.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengatakan target operasi mereka adalah fasilitas yang menghubungkan wilayah timur Arab Saudi dengan pelabuhan ekspor minyak Yanbu di pesisir Laut Merah. Menurut Saree, serangan tersebut merupakan respons atas dugaan penerbangan drone militer Saudi di wilayah udara Yaman.
Hingga berita ini ditulis, raksasa energi milik pemerintah Saudi, Aramco, belum memberikan tanggapan atas klaim serangan tersebut. Namun sejumlah foto detik0detik rudal menghantam jalur minyak dibagikan Reuters, Selasa (28/7/2026).
Citra satelit menunjukkan asap keluar dari fasilitas minyak, sementara kelompok Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran mengatakan pada hari Senin bahwa mereka menargetkan sejumlah lokasi pasokan dan transportasi minyak mentah yang sensitif, menurut pernyataan juru bicara militer kelompok tersebut, Yahya Sare, di Abqaiq, Arab Saudi, 27 Juli 2026. (Courtesy European Union/Copernicus Sentinel-2/Handout via REUTERS)
|
Citra satelit menunjukkan asap keluar dari fasilitas minyak, sementara kelompok Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran mengatakan pada hari Senin bahwa mereka menargetkan sejumlah lokasi pasokan dan transportasi minyak mentah yang sensitif, menurut pernyataan juru bicara militer kelompok tersebut, Yahya Sare, di Abqaiq, Arab Saudi, 27 Juli 2026.
|
Citra satelit gabungan menunjukkan jejak asap yang mengepul, ketika kelompok Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran mengatakan pada hari Sabtu, 25 Juli, bahwa mereka melakukan operasi yang menargetkan fasilitas Saudi Aramco di Jizan dan Yanbu, menurut pernyataan juru bicara militer kelompok tersebut, Yahya Sare, di provinsi Jazan, Arab Saudi, 26 Juli 2026. (European Union/Copernicus Sentinel-2/Handout via REUTERS)
|
Yanbu memiliki peran strategis dalam ekspor minyak Arab Saudi. Sejak pecahnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada Februari lalu, Riyadh mengalihkan sebagian besar pengiriman minyaknya melalui pelabuhan tersebut menggunakan jaringan pipa timur-barat (East-West Pipeline).
Langkah itu diambil untuk menghindari ancaman terhadap kapal-kapal tanker di Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama ekspor minyak dunia. Area itu beberapa kali menjadi sasaran serangan di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.
Pekan lalu, Houthi juga mengumumkan blokade terhadap industri minyak Arab Saudi di Laut Merah. Ancaman tersebut memperluas risiko gangguan pasokan minyak dunia, setelah sebelumnya fokus gangguan berada di Selat Hormuz.
(sef/sef)
Add
as a preferred
source on Google



Leave a comment