Home Finance Timur Tengah Makin Membara, Harga Minyak Dunia Terbang-AS Cs Bertindak
Finance

Timur Tengah Makin Membara, Harga Minyak Dunia Terbang-AS Cs Bertindak

Share
Timur Tengah Makin Membara, Harga Minyak Dunia Terbang-AS Cs Bertindak
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – Harga minyak dunia kembali melesat pada perdagangan terakhir pekan ini. Kenaikan tajam tersebut bahkan membawa harga minyak Brent ke level tertingginya dalam hampir enam bulan terakhir, di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan energi dari Timur Tengah.

Merujuk data Refinitiv, harga minyak mentah acuan Brent pada perdagangan Jumat (23/10/2026) ditutup melonjak 3,14% ke posisi US$116,72 per barel.

Posisi tersebut menjadi yang tertinggi sejak 29 April 2026, atau dalam hampir enam bulan terakhir.

Sejalan dengan Brent, harga minyak mentah acuan Amerika Serikat (AS), West Texas Intermediate (WTI), juga menguat tajam sebesar 3,82% ke level US$103,27 per barel.

Kenaikan harga minyak pada perdagangan terakhir pekan ini sekaligus memperpanjang tren positif kedua acuan minyak dunia tersebut.

Sepanjang perdagangan 19-23 Oktober 2026, harga minyak Brent tercatat melonjak 6,24%, sementara WTI menguat 1,83%.

Dengan kenaikan tersebut, baik Brent maupun WTI sama-sama mencatatkan penguatan mingguan selama tiga pekan berturut-turut.


Serangan di Timur Tengah Kembali Dongkrak Harga Minyak

Kenaikan tajam harga minyak dunia kali ini tidak terlepas dari situasi keamanan di Timur Tengah yang kembali memanas.

Serangkaian serangan kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap sejumlah wilayah di Arab Saudi membuat pasar semakin khawatir akan adanya gangguan pasokan minyak dari kawasan tersebut.

Kekhawatiran semakin besar karena serangan tersebut tidak hanya menyasar sejumlah wilayah strategis, tetapi juga fasilitas energi.

Arab Saudi sendiri merupakan salah satu produsen sekaligus eksportir minyak terbesar di dunia. Karena itu, gangguan terhadap kegiatan produksi maupun pengiriman minyak dari negara tersebut dapat berdampak besar terhadap pasokan global.

Kepala Strategi Lintas Aset LPL Financial, Adam Turnquist, mengatakan kekhawatiran terhadap terganggunya pasokan minyak menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga.

“Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan mendorong kenaikan harga setelah kelompok Houthi yang didukung Iran melancarkan serangkaian serangan di Arab Saudi, termasuk terhadap infrastruktur energi,” ujar Turnquist, dikutip dari Reuters.

Situasi semakin mengkhawatirkan setelah perusahaan minyak raksasa Arab Saudi, Saudi Aramco, memerintahkan evakuasi kantor pusatnya di Dhahran pada Kamis (22/10/2026).

Kantor tersebut berada di kawasan Teluk, tidak jauh dari Bahrain. Perintah evakuasi muncul ketika pertempuran antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang berbasis di Yaman semakin meningkat.

Perkembangan ini membuat pelaku pasar kembali memperhitungkan risiko terganggunya produksi dan distribusi minyak dari Timur Tengah, terutama jika konflik terus meluas.

Selain ketegangan di Arab Saudi, kabar mengenai tumpahan minyak di perairan Uni Emirat Arab (UEA) turut menambah kekhawatiran pasar.

Kementerian Perubahan Iklim dan Lingkungan UEA melaporkan adanya tumpahan minyak dari kapal tanker di lepas pantai Umm Al Quwain.

Namun, otoritas setempat belum mengungkap penyebab tumpahan tersebut maupun identitas kapal tanker yang terlibat.

Keamanan Jalur Pengiriman Minyak Jadi Sorotan

Bukan hanya fasilitas produksi yang menjadi perhatian, keamanan jalur pengiriman minyak dari Timur Tengah juga semakin mengkhawatirkan.

Salah satu wilayah yang menjadi sorotan adalah Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar energi internasional.

Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah serangan terhadap kapal komersial di kawasan tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa pengiriman minyak bisa kembali terganggu.

Pada 9 Oktober 2026, kapal tanker berukuran besar Gem No. 2 dilaporkan terkena proyektil yang belum diketahui asalnya, sekitar 24 kilometer di sebelah barat Al Jazeera, UEA.

Berdasarkan data lembaga kajian keamanan maritim yang berbasis di Washington, Oktober 2026 menjadi bulan dengan jumlah serangan terhadap kapal komersial terbanyak di Selat Hormuz dan perairan sekitarnya sejak pencatatan dimulai pada 2017.

Presiden Lipow Oil Associates, Andrew Lipow, menilai meningkatnya serangan terhadap kapal tanker menjadi salah satu sumber kekhawatiran utama pasar.

“Pasar khawatir terhadap serangan Iran yang terus berlanjut terhadap kapal tanker, yang jumlahnya meningkat selama sepekan terakhir,” ujar Lipow, dikutip dari Reuters.

Ia menambahkan bahwa meskipun jumlah minyak yang melewati Selat Hormuz belakangan meningkat, situasinya masih sangat mudah berubah.

“Meskipun jumlah minyak yang melewati Selat Hormuz meningkat, kondisi itu bisa berubah sewaktu-waktu,” lanjutnya.

Kekhawatiran tersebut cukup beralasan mengingat besarnya peran Selat Hormuz terhadap perdagangan minyak dunia.

Berdasarkan data US Energy Information Administration (EIA), volume minyak mentah dan produk minyak yang melewati Selat Hormuz mencapai sekitar 21,6 juta barel per hari pada kuartal IV 2025.

Namun, setelah konflik Timur Tengah semakin memanas, volume tersebut merosot menjadi sekitar 4,9 juta barel per hari pada kuartal II 2026.

Penurunan tersebut menunjukkan betapa besar dampak konflik terhadap jalur perdagangan energi di kawasan tersebut.

Selain Selat Hormuz, perhatian pasar juga tertuju pada Selat Bab el-Mandeb yang berada di pintu masuk Laut Merah.

Pertempuran antara kelompok Houthi dan koalisi pimpinan Arab Saudi kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pelayaran di kawasan tersebut.

Jika jalur-jalur pengiriman ini kembali terganggu, kapal tanker berpotensi harus mencari rute lain yang lebih jauh.

Perjalanan yang lebih panjang dapat meningkatkan biaya pengiriman dan membuat minyak membutuhkan waktu lebih lama untuk sampai ke negara tujuan.

Kondisi tersebut pada akhirnya dapat ikut mendorong harga minyak dunia semakin tinggi.




Peta jaringan pipa minyak dan gas Timur TengahPeta jaringan pipa minyak dan gas Timur Tengah Foto: The Economist

AS hingga Jerman Mulai Manfaatkan Cadangan Minyak

Di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan energi, sejumlah negara mulai mengambil langkah untuk menjaga ketersediaan minyak di pasar.

Departemen Energi AS pada Jumat (23/10/2026) mengumumkan telah mengizinkan pertukaran darurat hingga 400.000 barel minyak mentah dari cadangan minyak strategis atau Strategic Petroleum Reserve (SPR).

Langkah tersebut dilakukan untuk mengatasi gangguan pasokan yang memengaruhi kilang milik Phillips 66 di Lake Charles, Louisiana.

Namun, cadangan minyak strategis AS sendiri sudah berada pada posisi terendah sejak 1982, setelah pemerintahan Presiden Donald Trump menggunakannya untuk menghadapi gangguan pasokan akibat perang dengan Iran.

Langkah serupa juga dilakukan Jerman.

Badan pengelola cadangan minyak nasional Jerman, EBV, mulai menawarkan sejumlah pasokan solar, minyak pemanas, dan minyak mentah dari cadangan strategisnya.

Ini menjadi pelepasan cadangan minyak pertama Jerman sejak negara-negara G7 menyepakati langkah serupa pada awal Oktober 2026.

Sementara itu, gangguan pasokan juga muncul dari Libya.

Perusahaan minyak nasional Libya melaporkan penutupan katup pipa yang menghubungkan ladang minyak Hamada dan Tahara menuju pelabuhan Zawiya.

Penutupan tersebut menyebabkan produksi minyak dari kedua ladang mengalami penurunan.

Berbagai perkembangan ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap pasokan minyak tidak hanya berasal dari kekhawatiran akan gangguan baru di Timur Tengah, tetapi juga dari masalah produksi dan distribusi yang sudah terjadi di sejumlah negara.

Meski begitu, terdapat pula upaya untuk menambah ketersediaan pasokan energi.

Salah satunya melalui kesepakatan antara AS dan Rusia yang memungkinkan pengiriman kembali solar Rusia ke pasar Amerika.

Data pelacakan kapal menunjukkan sebuah kapal tanker yang membawa solar Rusia tengah menuju New York. Pengiriman tersebut menjadi yang pertama sejak Washington dan Moskow mencapai kesepakatan ekspor pada Oktober 2026.

Kesepakatan itu merupakan bagian dari upaya pemerintahan Trump untuk menekan harga solar yang terus meningkat, terutama menjelang pemilihan sela AS pada 3 November 2026.

Di sisi lain, jumlah fasilitas pengeboran minyak dan gas aktif di AS juga belum menunjukkan peningkatan.

Berdasarkan laporan perusahaan jasa energi Baker Hughes, jumlah rig minyak dan gas AS tidak berubah selama dua pekan berturut-turut, yakni tetap sebanyak 603 unit hingga pekan yang berakhir pada 23 Oktober 2026.

Jumlah rig sering digunakan sebagai salah satu petunjuk awal untuk melihat potensi perubahan produksi energi dalam beberapa waktu mendatang.

Dengan jumlah yang masih stagnan, belum terlihat adanya percepatan aktivitas pengeboran secara keseluruhan yang dapat segera membantu menambah pasokan.

Memasuki pekan depan, pergerakan harga minyak dunia masih akan sangat dipengaruhi perkembangan konflik Timur Tengah, khususnya keamanan fasilitas energi Arab Saudi dan jalur pelayaran Selat Hormuz.

Pelaku pasar juga akan mencermati apakah langkah pelepasan cadangan minyak strategis serta upaya penambahan pasokan dari negara lain mampu meredakan kekhawatiran yang saat ini mendorong harga minyak.

Jika serangan terhadap fasilitas energi dan kapal tanker terus berlanjut, kekhawatiran terhadap gangguan pasokan berpotensi tetap menopang harga minyak pada level tinggi.

Sebaliknya, apabila situasi keamanan mulai membaik dan pengiriman minyak kembali berjalan lancar, tekanan terhadap pasokan global bisa berkurang dan membuka ruang bagi harga minyak untuk kembali turun.




CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *