
Tangerang, CNBC Indonesia – PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) merespons ajakan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menginginkan Toyota menjadikan Indonesia sebagai basis produksi utama di kawasan ASEAN, termasuk memindahkan produksi kendaraan yang selama ini dilakukan di Thailand.
Presiden Direktur TMMIN Nandi Julyanto mengatakan, dari sisi kemampuan manufaktur, pabrik Toyota di Indonesia sebenarnya memiliki kapasitas untuk memproduksi model yang saat ini masih dirakit di Thailand, termasuk kendaraan komersial seperti Hilux. Namun, keputusan tersebut tidak sesederhana memindahkan lini produksi karena erat kaitannya dengan ekosistem industri yang telah terbentuk selama bertahun-tahun.
“Kalau sekarang produk yang masih kita datangkan dari Thailand adalah model komersial, seperti Hilux. Sebenarnya secara teknis tidak ada masalah kalau mau diproduksi di sini,” kata Nandi di ICE BSD, Tangerang, dikutip Rabu (5/8/2026).
Pembagian peran manufaktur Toyota di kawasan ASEAN dilakukan berdasarkan kekuatan masing-masing negara. Indonesia berkembang sebagai basis produksi kendaraan Multi Purpose Vehicle (MPV), sedangkan Thailand menjadi pusat pengembangan kendaraan komersial.
“Ekosistem kita MPV kan sehingga makanya Kijang ada di kita kalau komersial ada di mereka, SUV juga mulai ada sehingga kita mulai memproduksi. Nah karena ekosistem ada di mereka, sehingga suplier dan lain-lain di sana,” ujarnya.
Keberadaan rantai pasok di Thailand membuat relokasi produksi belum tentu menghasilkan efisiensi biaya. Meski kendaraan dirakit di Indonesia, sebagian besar komponen masih harus didatangkan dari Thailand karena industri pemasoknya telah berkembang di negara tersebut. Apalagi, perdagangan antarnegara ASEAN telah difasilitasi melalui skema kawasan perdagangan bebas sehingga biaya distribusi relatif kompetitif.
“Dari sisi kemampuan manufaktur, sebenarnya tidak ada kendala. Kami pernah melakukan studi. Secara teknis, kendaraan tersebut menggunakan platform body-on-frame yang sama. Perbedaannya hanya pada dimensi dan panjang sasis, sementara masing-masing punya ekosistem sendiri. Sehingga kalau produksi di sini pun itu secara harga nggak terlalu berubah,” ucap Nandi.
Meski demikian, ia memastikan Toyota akan mengikuti arah kebijakan pemerintah apabila nantinya terdapat langkah yang mendorong pengembangan industri kendaraan komersial di Indonesia. Menurutnya, yang paling penting bukan sekadar memindahkan proses perakitan, melainkan membangun ekosistem industri pendukung agar rantai pasok ikut berkembang di dalam negeri.
“Menurut kami, yang paling penting adalah bagaimana membangun ekosistem industri di Indonesia. Kalau ekosistem industrinya bisa dibawa ke Indonesia, tentu itu akan lebih baik,” katanya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa secara terbuka mengajak Toyota memindahkan basis produksinya dari Thailand ke Indonesia. Ajakan tersebut disampaikan saat memberikan sambutan pada Gaikindo Indonesia International Automotive Conference (GIAC) 2026 di ICE BSD, Tangerang.
Menurut Purbaya, pemerintah akan terus memperbaiki iklim investasi agar Indonesia semakin menarik bagi industri otomotif global. Bahkan, ia berkelakar siap memberikan insentif lebih besar apabila Toyota bersedia menjadikan Indonesia sebagai pusat manufaktur di kawasan ASEAN.
“Perbaikan iklim investasi akan terus kita lakukan. Perusahaan Jepang ada di sini? Toyota? Kita juga akan dukung Toyota, tetapi pindahkan (manufaktur) dari Thailand ke Indonesia,” kata Purbaya.
Ia menilai Indonesia memiliki keunggulan berupa pasar domestik yang besar serta prospek pertumbuhan yang masih menjanjikan dibandingkan negara lain di kawasan.
“Tapi kalau dilakukan ke depannya saya kasih insentif banyak. Kita kan negara besar, kenapa pusatnya di Thailand. Insentif banyak kalau Anda pindahkan basis produksi dari Thailand ke Indonesia,” jelasnya.
(arj/arj)
Leave a comment