Home Finance Trump Mulai Menjauh, Nasib Netanyahu Benar-Benar di Ujung Tanduk
Finance

Trump Mulai Menjauh, Nasib Netanyahu Benar-Benar di Ujung Tanduk

Share
Trump Mulai Menjauh, Nasib Netanyahu Benar-Benar di Ujung Tanduk
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara mengejutkan menunjukkan sikap ambivalen dan menahan diri untuk tidak memberikan dukungan langsung kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjelang pemilihan umum pada 27 Oktober mendatang. Padahal, keduanya dikenal memiliki rekam jejak kedekatan politik yang sangat erat sejak Trump pertama kali menjabat di Gedung Putih.

Mengutip Al Jazeera, Selasa (13/10/2026), langkah diam Trump ini terjadi di tengah ancaman besar yang dihadapi oleh partai Likud pimpinan Netanyahu dan koalisi sayap kanannya dari pemimpin partai Yashar, Gadi Eisenkot, beserta blok oposisi yang tengah dibangunnya. Dalam sebuah wawancara dengan majalah Time baru-baru ini, Trump tercatat tiga kali mengelak untuk memberikan dukungan langsung kepada Netanyahu, meskipun ia sempat membela kepemimpinan sang perdana menteri sebelum serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023.

Di sisi lain, terkait sosok Eisenkot, Trump justru memberikan sinyal yang terkesan netral. Ia tidak memberikan dukungan ataupun hujatan terhadap figur politisi tersebut.

“Saya tidak mendengar hal-hal buruk,” ucapnya.

Kepala Program Palestina/Israel di Arab Center Washington DC, Yousef Munayyer, menilai ambivalensi Trump ini didorong oleh perubahan angin politik di AS dan Israel serta dinamika hubungan pribadinya dengan Netanyahu.

“Dia tampaknya menjaga jarak lebih jauh dari yang Anda kira, mengingat dukungan masa lalu Trump terhadap sekutu sayap kanan, mengingat sejarah hubungan Trump-Netanyahu, dan betapa dekatnya Trump dan Netanyahu,” tuturnya.

Secara historis, Trump telah mengabulkan banyak keinginan sayap kanan Israel pada masa jabatan pertamanya (2017-2021), mulai dari memindahkan kedutaan AS ke Yerusalem, mengakui aneksasi Dataran Tinggi Golan, hingga menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran. Pada masa jabatan keduanya yang dimulai Januari 2025, Trump terus memasok senjata ke Israel di tengah kondisi Gaza, menindak Mahkamah Pidana Internasional (ICC), hingga memicu perang global dengan Iran. Ia bahkan telah menjamu Netanyahu setidaknya tujuh kali sejak kembali menjabat, jauh lebih banyak daripada pemimpin dunia lainnya.

Direktur Israel-Palestina di lembaga think tank DAWN, Michael Omer-Man, berpendapat bahwa hubungan keduanya diatur secara hati-hati untuk konsumsi publik. Meskipun tidak memberikan dukungan terang-terangan saat ini, Trump pada dasarnya adalah sosok realis yang menyadari bahwa kandidat pilihannya bisa saja menang maupun kalah dalam pemilu.

“Saya tidak berpikir Trump meninggalkan Netanyahu,” katanya.

“Pemerintahan Eisenkot mungkin berhenti mengambil alih setiap puncak bukit di Tepi Barat; mereka mungkin mengizinkan lebih banyak bantuan masuk ke Gaza, tetapi mereka tidak akan membalikkan langkah-langkah yang telah diambil,” papar Omer-Man.

Analis Senior Israel di International Crisis Group, Mairav Zonszein, menyoroti bahwa keraguan Trump sebagian mencerminkan adanya perpecahan di dalam pemerintahannya sendiri, yang juga merepresentasikan perpecahan di Partai Republik menjelang pemilu sela AS.

“Ini mungkin kombinasi dari perang Iran dan perpecahan dalam pemerintahan Trump dengan orang-orang seperti Wakil Presiden JD Vance, yang sangat menentang peran Netanyahu dalam mendorong AS untuk menyerang Iran,” tegasnya.

Survei Institut Demokrasi Israel yang dirilis pada bulan Juni lalu membuktikan adanya pergeseran sentimen. Hanya 44 persen warga Yahudi Israel yang menganggap keamanan Israel adalah pertimbangan utama bagi Trump, turun drastis dari 61 persen pada bulan Maret tak lama setelah AS dan Israel melancarkan perang dengan Iran. Kritik di Israel juga semakin tajam karena AS dianggap membatasi operasi Israel di Lebanon.

Kondisi ini memaksa Netanyahu untuk merombak strategi kampanyenya. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, ia kini secara sengaja menghindari penggunaan papan reklame yang memamerkan kedekatannya dengan Trump. Sebaliknya, Netanyahu justru lebih menonjolkan tokoh-tokoh yang dianggapnya sebagai musuh utama regional dan internasional Israel, termasuk Sekretaris Jenderal Hizbullah Naim Qassem, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, dan Wali Kota New York Zohran Mamdani.

“Musuh-musuhnya versus teman-temannya,” pungkas Zonszein.

(tps/tps)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *