Home Finance Trump Siapkan ‘Mesin Pembunuh Baru’ Iran, Selat Hormuz Makin Ngeri
Finance

Trump Siapkan ‘Mesin Pembunuh Baru’ Iran, Selat Hormuz Makin Ngeri

Share
Trump Siapkan ‘Mesin Pembunuh Baru’ Iran, Selat Hormuz Makin Ngeri
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengisyaratkan perubahan strategi menghadapi Iran dengan mengandalkan tekanan ekonomi, bukan serangan militer lanjutan. Di saat yang sama, Teheran justru memperkeras syarat pembukaan kembali Selat Hormuz yang telah terganggu selama berbulan-bulan.

Trump mengatakan kepada Axios pada Minggu bahwa Washington siap menunggu hingga tekanan ekonomi semakin menghantam Iran. “Kami menempuh pendekatan yang tidak agresif,” ujar Trump, seraya menyinggung inflasi Iran yang tinggi dan kondisi keuangan negara tersebut, dikutip CNBC International, Selasa (11/8/2026).

Trump juga mengunggah grafik di Truth Social yang menunjukkan pelemahan tajam mata uang rial Iran sejak 2025. Dalam unggahan itu, Trump menegaskan bahwa “Iran tidak punya uang” dan menyebut mata uang negara tersebut tidak berharga.

Selat Hormuz

Di sisi lain, seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada MS NOW bahwa Teheran meminta AS memenuhi seluruh persyaratan dalam nota kesepahaman yang disebut ditandatangani kedua negara pada Juni. Syarat tersebut antara lain pembayaran ganti rugi, penghentian pertempuran di Lebanon, pencabutan blokade laut AS, penarikan pasukan Amerika dari kawasan, serta pencairan aset Iran yang dibekukan.

Iran juga tengah berunding dengan Oman mengenai kesepakatan rute transit di Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut pembicaraan tersebut telah memasuki tahap akhir.

Namun, ia menegaskan kesepakatan itu tidak berarti jalur pelayaran akan dibuka kembali sepenuhnya. “Tidak ada kemungkinan untuk memulai kembali negosiasi” selama AS belum memberikan kompensasi atas pelanggaran yang dituduhkan Teheran, kata Araghchi.

Sementara itu, tekanan militer AS di kawasan belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Komando Pusat AS menyatakan pasukannya telah mengalihkan 55 kapal komersial dari pelabuhan-pelabuhan Iran hingga Minggu, naik dari 35 kapal pada 2 Agustus.

Dilaporkan pula dua kapal dilumpuhkan. Sedangkan dua lainnya dinaiki untuk memastikan kepatuhan. Kondisi ini membuat risiko terhadap arus energi global semakin besar.

Perlu diketahui, Selat Hormuz sebelumnya menjadi jalur sekitar seperempat perdagangan minyak melalui laut dunia dan seperlima pasokan gas alam cair global. Meski begitu, per Jumat, lalu lintas pelayaran hanya mencatat delapan pelintasan.

Harga minyak Brent kemudian naik 1,1% menjadi US$84,45 per barel, sedangkan WTI menguat 1% menjadi US$78,98. Analis komoditas ING Bank Warren Patterson memperingatkan ruang kompromi antara Washington dan Teheran semakin sempit.

“Situasi bisa kembali memburuk dari kondisi yang sudah buruk,” ujarnya, setelah ING mempertahankan proyeksi harga rata-rata Brent kuartal ini di US$80 per barel.

Kekhawatiran bertambah setelah Iran mempertimbangkan rancangan aturan yang melarang kapal AS dan Israel melintasi Hormuz. Iran juga mengenakan kompensasi hingga 20% dari nilai muatan bagi pihak yang dianggap melanggar.

(tfa/sef)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *