Home Finance Trump Tak Serang Iran, Suahasil Buka-bukaan Keuangan Negara Hari Ini
Finance

Trump Tak Serang Iran, Suahasil Buka-bukaan Keuangan Negara Hari Ini

Share
Trump Tak Serang Iran, Suahasil Buka-bukaan Keuangan Negara Hari Ini
Share

Jakarta, CNBC Indonesia – Pasar keuangan Indonesia berakhir beragam pada perdagangan terakhir kemarin, Kamis (8/10/2026). Bursa saham, Rupiah, dan obligasi pemerintah ditutup kompak melemah

Sentimen pasar kemarin masih dibayangi perkembangan konflik di Timur Tengah serta rilis data perekonomian dalam maupun luar negeri yang masih sulit diprediksi arahnya.

Pasar keuangan Indonesia diharapkan kompak menguat pada perdagangan hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan cukup dalam pada akhir perdagangan Kamis (8/10/2026). Hingga akhir sesi II, IHSG berada di level 6.031,28, turun 115,44 poin atau 1,88%.

Total volume transaksi tercatat 63,2 miliar lot dengan nilai transaksi mencapai Rp12,8 triliun serta frekuensi sebesar 1,9 juta kali.

Pada awal perdagangan kemarin sekitar pukul 09.00 WIB, IHSG dibuka menguat di 6.154,97 dan sempat menyentuh level tertinggi harian di 6.179,09. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama.

Tekanan jual muncul dan menyeret indeks turun ke area 6.120 sebelum pukul 10.00 WIB. Setelah sempat rebound terbatas ke kisaran 6.130 pada sekitar pukul 10.00 WIB, IHSG kembali bergerak melemah secara bertahap.

Memasuki sesi kedua, tekanan jual semakin kuat. IHSG jatuh menembus level psikologis 6.100 dan terus turun ke area 6.060 hingga 6.080. Menjelang sore, sekitar pukul 15.00 WIB, indeks bergerak di kisaran 6.040 hingga 6.060, sebelum akhirnya terperosok ke level terendah harian di 6.031,28 pada akhir periode yang terpantau.

Dengan pola tersebut, rentang pergerakan IHSG kemarin, level tertinggi berada di level 6.179,09 hingga terendah 6.031,28.

Pelemahan IHSG kemarin disebabkan oleh 497 saham melemah, 119 saham tak bergerak, dan hanya 171 saham yang menguat.

Dari segi perdagangan foreign, terpantau di all market bursa mengalami net foreign outflow sebesar Rp 867,27 miliar sementara di pasar reguler tercatat juga mengalami net foreign outflow sebesar Rp 848,28 miliar.

Sehingga apabila dijumlah dalam kurun waktu year to date atau sejak awal tahun 2026, all market terpantau mengalami net foreign outflow sebesar Rp 84,47 triliun sementara di reguler juga terpantau net outflow sebesar Rp 111,13 triliun.

Mengutip Refinitiv, penyebab IHSG parkir di zona merah antara lain, sektor infrastruktur yang anjlok 5%, disusul oleh sektor energi yang anjlok 2,7%, dan sektor material dasar yang turun 2,6%.

Adapun saham-saham yang membebani IHSG antara lain, PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT. Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT. Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), dan PT. Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS).

Sementara saham-saham penopang koreksi IHSG antara lain, PT. Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT), PT. Kalbe Farma Tbk. (KLBF), PT. Astra International Tbk. (ASII), PT. Global Digital Niaga Tbk. (BELI), dan PT. Apollo Global Interactive Tbk. (APOL).

Sementara itu, rupiah gagal mempertahankan penguatannya terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (8/10/2026). Sempat terapresiasi pada awal perdagangan, mata uang Garuda justru berbalik arah dan ditutup melemah, sekaligus mengakhiri tren positif selama dua hari terakhir.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup di level Rp17.890/US$, melemah 0,08% dibandingkan penutupan Rabu (7/10/2026) di Rp17.875/US$.

Pada pembukaan perdagangan, rupiah sempat menguat 0,11% ke posisi Rp17.855/US$. Namun, penguatan tersebut terkikis sepanjang perdagangan hingga rupiah berakhir di zona merah.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau menguat 0,06% ke posisi 102,302 pada pukul 15.00 WIB.

Pergerakan rupiah sepanjang hari turut dibayangi sejumlah sentimen domestik dan global.

Dari domestik, Bank Indonesia (BI) melaporkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) September 2026 sebesar 118,1, turun tipis dibandingkan bulan sebelumnya. Meski demikian, indeks tersebut masih berada di atas level 100, yang menunjukkan keyakinan konsumen tetap berada di zona optimistis.

“Berdasarkan kelompok pengeluaran, keyakinan konsumen pada September 2026 tetap optimis pada seluruh kelompok pengeluaran,” ungkap BI dalam laporan Survei Konsumen yang dirilis Kamis (8/10/2026).

Penurunan IKK tercermin dari Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang melemah menjadi 107,5. Sebaliknya, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) meningkat menjadi 128,7.

Lanjut ke pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun terpantau mengalami perubahan cukup signifikan pada perdagangan kemarin dengan naik ke posisi 7,236% dari hari sebelumnya di 7,168%.

Hal ini mengindikasikan bahwa pasar obligasi tersebut lebih didominasi oleh aksi penjualan ketimbang dengan pembelian pada pasar sekunder.

Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup bervariasi pada perdagangan Kamis (8/10/2026).

Indeks Nasdaq merosot tajam setelah informasi terbaru mengenai OpenAI memicu kekhawatiran investor dan menekan saham-saham terkait kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi anjlok 1,25% ke level 27.193,34. Indeks S&P 500 juga melemah 0,47% ke posisi 7.765,36. Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average naik 51,77 poin atau 0,1% menjadi 51.231,64.

Tekanan terhadap saham teknologi terjadi setelah pendapatan tahunan yang disetahunkan (annualized revenue) OpenAI dilaporkan US$20 miliar lebih rendah dibandingkan angka yang sebelumnya diindikasikan perusahaan.

Saham Oracle merosot lebih dari 5%. Sementara itu, saham Nvidia turun hampir 3% dan Advanced Micro Devices (AMD) terkoreksi hampir 4%.

Sentimen pasar semakin tertekan oleh lonjakan harga minyak setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak ingin membuat kesepakatan dengan Iran untuk mengakhiri perang. AS juga dilaporkan tengah mempersiapkan serangan udara besar-besaran di Timur Tengah.

Namun, Trump kemudian menyatakan AS tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan paruh waktu (midterm elections) pada awal November mendatang. Pernyataan tersebut mendorong harga minyak turun dari level tertingginya.

Harga minyak mentah Brent naik 4,07% menjadi US$104,28 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat 3,64% dan ditutup pada US$91,49 per barel.

Imbal Hasil Obligasi AS Mulai Turun

Investor juga mencermati pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS setelah surat utang tenor 10 tahun dan 30 tahun menyentuh level tertinggi dalam 24 tahun terakhir pada pekan ini.

Pada perdagangan Kamis, imbal hasil obligasi Treasury tenor 10 tahun turun 5 basis poin menjadi 5,227%. Sementara itu, imbal hasil tenor 30 tahun melemah 6 basis poin ke level 5,601%.

Penurunan tersebut terjadi setelah lelang obligasi Treasury tenor 30 tahun mencatat permintaan yang solid.

Ross Mayfield, ahli strategi investasi Baird, mengatakan tekanan inflasi yang terutama dipicu oleh sektor energi telah mengubah prospek kebijakan The Federal Reserve (The Fed) sekaligus mendorong kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang.

Menurutnya, jika AS dan Iran mencapai kesepakatan yang mampu meredakan ketegangan secara signifikan, harga minyak berpotensi turun dari US$90 menjadi US$70 per barel. Kondisi tersebut dapat mendorong imbal hasil obligasi turun secara berarti.

Lonjakan harga energi dan kenaikan imbal hasil obligasi belakangan memicu volatilitas di pasar saham. Investor khawatir harga energi yang tinggi akan mempertahankan inflasi pada level tinggi dan memaksa The Fed kembali menaikkan suku bunga.

Meski pasar saham dinilai cukup tangguh menghadapi tekanan tersebut, Mayfield memperingatkan bahwa kenaikan lebih lanjut pada imbal hasil obligasi jangka panjang dapat menciptakan tekanan yang lebih besar bagi saham.

Ia memperkirakan imbal hasil obligasi berpotensi stabil pada kisaran 5%-6%.

“Kita sedang berada dalam proses penyesuaian pasar terhadap tingkat imbal hasil yang baru ini,” ujar Mayfield, dikutip dari CNBC International.

Ia menambahkan, imbal hasil yang lebih tinggi dapat mencerminkan pertumbuhan nominal ekonomi yang lebih kuat sekaligus inflasi yang sedikit lebih tinggi.

Jika kondisi tersebut berlanjut, era suku bunga tinggi lebih lama atau kembali ke tingkat suku bunga yang lebih normal kemungkinan akan bertahan, kecuali terjadi resesi besar yang memaksa The Fed memangkas suku bunga secara agresif.

Sentimen pasar pada Jumat (9/10/2026) akan dipengaruhi perkembangan konsumsi domestik, ketahanan pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS), serta risiko harga energi global.

Kemarin, keyakinan konsumen Indonesia sedikit menurun, sementara klaim pengangguran AS kembali lebih rendah daripada perkiraan.

Hari ini, perhatian beralih pada penjualan ritel Indonesia untuk melihat keberlanjutan pemulihan belanja masyarakat.

Di dalam negeri, perkembangan APBN dan investasi hilirisasi turut menjadi perhatian terkait kebutuhan pembiayaan pemerintah serta prospek produksi dan ekspor.

1. Perkembangan Perang:  Trump Tahan Serangan ke Iran hingga Pemilu

 Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan paruh waktu pada 3 November 2026. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan Timur Tengah dan kekhawatiran terhadap pasokan minyak global.

“Kami tidak akan menyerang Iran kapan pun sebelum pemilihan paruh waktu,” kata Trump melalui Truth Social, Kamis (8/10/2026). Ia menyebut AS tengah menggelar diskusi produktif dengan Teheran.

Sebelumnya, Trump sempat mempertimbangkan serangan baru terhadap Iran sebelum pemilu. Kekhawatiran eskalasi konflik mendorong harga minyak Brent naik lebih dari 4% hingga menembus US$104 per barel.

Meski menunda serangan, Trump menegaskan blokade laut terhadap Iran tetap berlaku dan Teheran tidak akan diizinkan memiliki senjata nuklir.

Jajak pendapat Reuters/Ipsos pada Agustus menunjukkan hanya 31% warga AS mendukung aksi militer terhadap Iran, turun dari 37% pada Maret. Sebanyak 83% responden memperkirakan perang berlangsung lama.

Konflik juga meningkatkan biaya hidup. Harga rata-rata bensin AS mencapai US$4,36 per galon, naik sekitar 40% dibandingkan setahun sebelumnya. Kondisi ini menambah tantangan bagi Partai Republik menjelang pemilu.

Reuters sebelumnya melaporkan sejumlah pejabat Gedung Putih mendorong agar konflik terkendali hingga pemilu guna membatasi kerugian politik Partai Republik.




Kapal dan tanker di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, 18 April 2026. (REUTERS/Stringer)Kapal dan tanker di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, 18 April 2026. (REUTERS/Stringer) Foto: Kapal dan tanker di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, 18 April 2026. (REUTERS/Stringer)

Di sisi lain, AS dilaporkan mengerahkan sekitar 9.000 personel Angkatan Laut dan Marinir serta kapal induk ketiga ke Timur Tengah.

Trump juga mengklaim 22 juta barel minyak melintasi Selat Hormuz dalam semalam. Namun, angka tersebut belum diverifikasi secara independen oleh CNBC.

Data Kpler menunjukkan sekitar 11,3 juta barel minyak mentah dan produk minyak keluar melalui Selat Hormuz selama pekan yang berakhir Selasa, jauh di bawah klaim Trump jika dibandingkan dalam periode satu hari.

2. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia September 2026

Bank Indonesia pada Kamis kemarin melaporkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) September sebesar 118,1, turun tipis dari 118,5 pada Agustus. Posisi di atas 100 menunjukkan konsumen secara keseluruhan masih optimistis, tetapi penurunannya mengindikasikan pemulihan daya beli belum sepenuhnya merata.

Pelemahan terlihat pada Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini yang turun menjadi 107,5 dari 109,4. Sebaliknya, Indeks Ekspektasi Konsumen meningkat menjadi 128,7 dari 127,6, menunjukkan harapan terhadap kondisi enam bulan mendatang justru menguat.

Ekspektasi penghasilan naik menjadi 136,9 dari 134,9, sementara ekspektasi ketersediaan lapangan kerja meningkat menjadi 127,7 dari 125,7.

Namun, persepsi penghasilan saat ini pada kelompok pengeluaran Rp1 juta-Rp2 juta masih berada di wilayah pesimistis. Bagi pasar, perbedaan tersebut menjadi perhatian untuk menilai apakah optimisme masyarakat dapat diterjemahkan menjadi peningkatan belanja aktual, terutama bagi emiten konsumsi dan ritel.


3. Risalah Rapat ECB September 2026

Selanjutnya, risalah rapat Bank Sentral Eropa (ECB) yang dirilis Kamis kemarin menunjukkan pembuat kebijakan masih melihat risiko inflasi cenderung meningkat.

Ketidakpastian geopolitik, termasuk konflik AS-Iran dan perang Rusia-Ukraina, menjadi bagian dari pertimbangan terhadap prospek harga.

Meski demikian, ECB mempertahankan seluruh pilihan kebijakan dan tidak memberikan kepastian mengenai langkah suku bunga berikutnya.

Suku bunga deposito berada di 2,50%, sementara suku bunga operasi pembiayaan utama sebesar 2,65%.

Risalah ini bukan keputusan suku bunga baru. Bagi pasar, pesannya menunjukkan pengetatan lanjutan belum dapat dikesampingkan, tetapi juga belum dipastikan.

Perubahan ekspektasi kebijakan Eropa dapat memengaruhi euro, imbal hasil obligasi, dan selera investor terhadap aset berisiko.


4. Klaim Pengangguran Awal AS Pekan Berakhir 3 Oktober 2026

Klaim tunjangan pengangguran awal di Amerika Serikat (AS) turun 2.000 menjadi 197.000 pada pekan yang berakhir 3 Oktober 2026. Angka ini lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 200.000 dan menjadi yang terendah sejak pertengahan Juli, ketika klaim mencapai 189.000 atau level terendah dalam 60 tahun.

Sebaliknya, klaim pengangguran berkelanjutan (continuing claims) naik 17.000 menjadi 1,716 juta, tetapi masih relatif dekat dengan level terendah dalam lebih dari tiga tahun yang tercatat pada pekan sebelumnya.

Data ini menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih tangguh, sejalan dengan penilaian Federal Reserve (The Fed) yang terus menyoroti kondisi kesempatan kerja penuh.

Sementara itu, klaim awal dari pegawai federal naik 26 menjadi 395. Angka tersebut masih jauh di bawah level historis, meski menjadi perhatian di tengah upaya pemerintah memangkas jumlah pegawai sektor publik.

Investor tetap perlu mencermati konsistensinya dengan data ketenagakerjaan dan inflasi berikutnya, mengingat perubahan ekspektasi kebijakan AS dapat memengaruhi dolar dan rupiah.

5. Penjualan Eceran Indonesia Agustus 2026

Hari ini, Bank Indonesia akan mengumumkan data penjualan eceran Indonesia untuk Agustus 2026.

Data sebelumnya menunjukkan pertumbuhan 1,1% secara tahunan pada Juli, berbalik dari kontraksi 3% pada Juni. Konsensus pasar untuk rilis Agustus belum tercantum.

Pemulihan Juli ditopang penjualan makanan, minuman, dan tembakau yang tumbuh 2,4%, serta sandang sebesar 2,8%.

Namun, penjualan peralatan informasi dan komunikasi masih turun 20,6%, sementara perlengkapan rumah tangga terkontraksi 4,9%. Secara bulanan, penjualan ritel turun tipis 0,1%.

Rilis terbaru akan membantu menilai apakah pemulihan konsumsi berlanjut dan semakin luas antarkelompok barang.

Pertumbuhan yang menguat berpotensi mendukung prospek emiten konsumsi, sedangkan pelemahan kembali akan memperbesar perhatian terhadap daya beli masyarakat.


6. Prospek Harga Energi Global

Dari sisi global, Direktur Pelaksana Dana Moneter International ( IMF) Kristalina Georgieva kemarin memperingatkan bahwa harga energi berpotensi tetap tinggi meskipun perang di kawasan Teluk segera berakhir.

Pemulihan produksi dan distribusi membutuhkan waktu, sementara harga minyak Brent berjangka masih mengindikasikan tekanan hingga 2027.

Georgieva menyebut harga minyak masih berada di sekitar US$100 per barel, mencerminkan risiko pasokan dan tingginya biaya transportasi.

Keterbatasan penyulingan turut menekan harga bahan bakar olahan. Pasokan gas alam dari Teluk juga terganggu akibat ancaman terhadap pengiriman melalui Selat Hormuz, terutama berdampak pada Asia dan Eropa.




Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva berbicara selama konferensi pers tentang penilaian tahunan ekonomi Tiongkok di Beijing pada 10 Desember 2025. (Photo by ADEK BERRY / AFP)Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva berbicara selama konferensi pers tentang penilaian tahunan ekonomi Tiongkok di Beijing pada 10 Desember 2025. (Photo by ADEK BERRY / AFP)

Tekanan berpotensi meningkat menjelang musim dingin ketika permintaan bertambah dan negara-negara mengisi cadangan

Perkembangan ini menjadi risiko bagi biaya produksi, daya beli, serta kebutuhan subsidi dan kompensasi energi. Harga energi yang bertahan tinggi juga berpotensi membatasi ruang pelonggaran moneter global.


7. APBN KiTa, Defisit per September 2026 Tembus 1,24% PDB

Menteri Keuangan Suahasil Nazara akan menggelar konferensi pers APBN KiTa edisi September 2026. Menarik dicermati apa ada kebijakan bar untuk mempercepat belanja di kuartal terakhir 2026 serta bagaimana proyeksi pendapatan serta penarikan utang hingga akhir tahun.

Suahasil di Jakarta sudah melaporkan defisit APBN hingga September sebesar Rp319 triliun atau 1,24% dari produk domestik bruto (PDB).

Rasio tersebut melebar dibandingkan posisi Agustus sekitar 0,9% PDB, tetapi masih lebih rendah daripada September tahun lalu yang mencapai Rp371,5 triliun atau 1,56% PDB.

Pendapatan negara tercatat Rp2.341,5 triliun, sementara belanja mencapai Rp2.660,5 triliun. Keseimbangan primer masih membukukan surplus Rp125,5 triliun. Adapun perkiraan defisit sepanjang 2026 sebesar Rp734,3 triliun atau 2,85% PDB.

Bagi pasar, perkembangan tersebut penting untuk menilai kebutuhan pembiayaan pemerintah hingga akhir tahun.

Perhatian akan tertuju pada kemampuan penerimaan negara mengimbangi belanja, sekaligus menjaga ruang fiskal untuk menopang pertumbuhan ekonomi.




Menteri Keuangan RI, Suahasil Nazar. (Dok Ist)Menteri Keuangan RI, Suahasil Nazar. (Dok Ist)

7. Proyek Hilirisasi Indonesia Oktober 2026

Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto kemarin meresmikan rangkaian 11 proyek hilirisasi di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah, Maluku Utara, bernilai sekitar US$10,2 miliar atau Rp180 triliun.

Paket tersebut mencakup empat proyek yang telah selesai senilai US$3,4 miliar dan tujuh proyek baru senilai US$6,8 miliar atau sekitar Rp121,8 triliun. Nilai proyek baru tersebut merupakan bagian dari paket Rp180 triliun, bukan investasi tambahan di luar angka itu.

Pengembangannya mencakup material dan komponen baterai kendaraan listrik, aluminium, alat berat listrik, serta kaca untuk energi surya.

Pemerintah menyebut rangkaian proyek tersebut berpotensi menciptakan lebih dari 10.000 pekerjaan. Sementara itu, total penyerapan tenaga kerja seluruh kawasan IWIP mencapai 117.000 orang.

Glencore dan Trafigura turut tercatat sebagai investor di kawasan tersebut, bersama investor dari sejumlah negara lainnya.

Prabowo juga menyaksikan ekspor perdana baterai kendaraan listrik dari IWIP. Perkembangan ini membuka prospek peningkatan nilai tambah industri dan ekspor Indonesia.

Namun, manfaat ekonominya tetap bergantung pada penyelesaian proyek, permintaan global, serta daya saing produksi.

Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:

  • PT ITSEC Asia Tbk mengundang Bapak/Ibu untuk menghadiri AICX 2026 Press Conference, sebagai bagian dari rangkaian menuju penyelenggaraan AICX 2026.
  • Konferensi Pers APBN KiTa pada Jumat, 9 Oktober 2026 pukul 09.30 di Aula Mezzanine, Gd. Djuanda I Kementerian Keuangan
  • Michigan Consumer Sentiment Prelim AS Oktober 2026.

  • Michigan Inflation Expectations Prelim AS Oktober 2026.

  • Michigan 5-Year Inflation Expectations Prelim AS Oktober 2026.

  • Inflasi YoY Brasil September 2026.

  • Inflasi MoM Brasil September 2026.

  • Inflasi YoY Rusia September 2026.

  • Tingkat pengangguran Kanada September 2026.

  • Employment Change Kanada September 2026.

  • Household Spending YoY Jepang Agustus 2026.

  • Retail Sales YoY Indonesia Agustus 2026.

Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:

  • PT Gaya Abadi Sempurna Tbk (SLIS) – Pemberitahuan rencana RUPS.

  • PT Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR) – Tanggal pembayaran dividen tunai interim.

  • PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) – Tanggal distribusi HMETD.

  • PT Astra Graphia Tbk (ASGR) – Tanggal DPS dividen tunai interim.

  • PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) – Tanggal ex dividen tunai interim.

  • PT Asuransi Harta Aman Pratama Tbk (AHAP) – Tanggal ex HMETD.

  • PT Berlina Tbk (BRNA) – Tanggal ex HMETD.

  • PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) – Tanggal ex dividen tunai interim.

Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:



–

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *