
Jakarta, CNBC Indonesia – Eskalasi ketegangan di Timur Tengah kian memanas dan mengancam fondasi internet dunia. Teheran dilaporkan telah menyusun rencana matang untuk menargetkan jaringan kabel komunikasi bawah laut di kawasan Teluk jika Amerika Serikat (AS) dan Israel kembali melancarkan serangan ke wilayah Iran.
Dua pejabat senior keamanan Iran mengonfirmasi kepada Reuters bahwa infrastruktur vital ini menjadi sasaran empuk dalam skenario perang terbuka, terutama jika jalur diplomasi dengan Washington menemui jalan buntu.
Tak sekadar merusak, Teheran bahkan berencana menghalangi seluruh proses perbaikan pascaserangan demi memperpanjang pemadaman koneksi internet dan lumpuhnya jaringan komunikasi di kawasan tersebut.
“Jika Iran diserang, tidak ada lagi garis merah (red lines)… mulai dari kabel bawah laut hingga pangkalan militer, termasuk pangkalan rahasia,” tegas salah satu pejabat senior Iran, dikutip dari Reuters, Senin (26/10/2026).
Pihaknya juga memperingatkan Washington untuk tidak “bermain api” karena Iran mengklaim memiliki akses penuh dan mampu menghancurkan kabel-kabel tersebut dengan mudah.
Ancaman ini dipertegas oleh Wakil Kepala Bidang Politik Garda Revolusi Iran (IRGC), Yadollah Javani. Ia menyatakan sedikitnya tujuh kabel internet utama yang membentang di bawah Selat Hormuz berada dalam bidikan utama jika infrastruktur Iran diserang musuh.
Pertaruhan Investasi Raksasa Teknologi AS
Langkah ekstrem Iran ini dinilai sebagai strategi gertakan untuk menekan Gedung Putih melalui negara-negara sekutunya di Teluk. Maklum, negara-negara Teluk seperti Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi tengah gencar berinvestasi besar-besaran di bidang teknologi dan kecerdasan buatan (AI) guna mengurangi ketergantungan pada minyak.
Analis dari Middle East Institute, Alex Vatanka, menilai ancaman ini sengaja dirancang untuk memicu ketakutan bagi para investor dan raksasa teknologi AS yang beroperasi di Timur Tengah.
“Teheran ingin negara-negara Teluk dan para eksekutif korporasi menekan Presiden AS Donald Trump terkait risiko besar yang ditimbulkan kebijakannya terhadap rencana investasi mereka,” jelas Vatanka.
Sekadar catatan, permusuhan Iran terhadap raksasa teknologi AS bukan gertakan sambal. Pada Maret lalu, serangan Iran menghantam dua fasilitas Amazon Web Services (AWS) di UEA serta merusak infrastruktur di dekat fasilitasnya di Bahrain. IRGC bahkan secara terbuka melabeli raksasa teknologi dunia seperti Microsoft, Google, Apple, hingga Nvidia sebagai target militer yang sah.
Seberapa Parah Dampaknya Bagi Internet Dunia?
Secara global, sekitar 99% lalu lintas data internet ditopang oleh kabel bawah laut. Jika terjadi sabotase massal, para analis memperingatkan akan timbulnya kecemasan berupa bandwidth yang melambat, lumpuhnya transaksi keuangan, gangguan e-commerce, hingga terhentinya layanan cloud computing.
Namun, Direktur Riset TeleGeography Alan Mauldin menilai dampak destruktif dari Selat Hormuz kemungkinan masih terisolasi secara regional. Pasalnya, kapasitas data yang melintas di Selat Hormuz mencakup kurang dari 1% dari total bandwidth internasional.
Ancaman yang jauh lebih mengerikan justru berada di kawasan Laut Merah, rute vital yang menghubungkan lalu lintas data Eropa, Afrika Timur, dan Asia. Jalur Laut Merah menampung sekitar 3% permintaan data global dan 10% lalu lintas antarwilayah. Jika Iran memanfaatkan sekutunya, kelompok Houthi di Yaman, untuk mengacak-acak rute ini, maka krisis komunikasi global skala masif tak lagi terhindarkan.
“Memulihkan koneksi di tengah situasi perang akan sangat sulit. Lonjakan biaya asuransi serta rumitnya izin masuk ke perairan teritorial akan membuat proses perbaikan memakan waktu sangat lama,” pungkas para ahli.
(fab/fab)
Leave a comment