Home Finance Utang Luar Negeri Swasta Tembus Rp3.500 T, Sektor Ini Paling Rakus
Finance

Utang Luar Negeri Swasta Tembus Rp3.500 T, Sektor Ini Paling Rakus

Share
Utang Luar Negeri Swasta Tembus Rp3.500 T, Sektor Ini Paling Rakus
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – Posisi utang luar negeri (ULN) swasta meningkat sepanjang lima bulan pertama 2026. Kendati demikian, kenaikan tersebut tidak terjadi secara merata dan terkonsentrasi pada beberapa sektor ekonomi.

Berdasarkan data Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) Mei 2026, posisi ULN swasta mencapai US$195,92 miliar pada Mei 2026 atau sekitar Rp 3.526 triliun (US$1= Rp 18.000). Angka tersebut naik US$1,24 miliar (Rp 22,32 triliun) atau 0,64% dibandingkan posisi Desember 2025 sebesar US$194,68 miliar.

Lima Sektor Paling Agresif Menambah ULN

Sektor jasa keuangan dan asuransi mencatat kenaikan ULN paling besar secara nominal. Posisi utang sektor tersebut meningkat US$2,44 miliar menjadi US$39,85 miliar pada Mei 2026.

Sementara itu, jasa perusahaan membukukan pertumbuhan paling tinggi secara persentase. ULN sektor tersebut melesat 17,22% sejak awal tahun menjadi US$4,45 miliar.


Kelima sektor tersebut mencatat pertumbuhan lebih tinggi daripada benchmark total ULN swasta sebesar 0,64% YTD. Akan tetapi, kenaikan itu diimbangi pengurangan saldo utang pada pertambangan, industri pengolahan, transportasi, real estat, dan pertanian.

Utang USD Naik Tipis, Penambahan Belum Merata

Kenaikan ULN swasta turut terlihat pada kewajiban berdenominasi dolar Amerika Serikat. Posisi utang dalam USD meningkat dari US$164,57 miliar pada Desember 2025 menjadi US$165,76 miliar pada Mei 2026. Artinya, terjadi kenaikan US$1,16 miliar atau 0,71% secara YTD, sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan agregat ULN swasta sebesar 0,64%.

Pangsa utang USD terhadap total ULN swasta turut meningkat tipis dari 84,54% menjadi 84,59%. Hal ini memperlihatkan bahwa dolar AS masih menjadi mata uang utama yang digunakan perusahaan swasta dalam memperoleh pembiayaan dari luar negeri.

Meski demikian, peningkatan utang belum terjadi secara merata. Kenaikan pada lima sektor teratas diimbangi pengurangan kewajiban pada sejumlah sektor besar. Pertambangan dan penggalian mencatat penurunan paling besar, yakni US$1,94 miliar atau 6,39% sejak akhir 2025.

Penurunan juga terjadi pada industri pengolahan sebesar US$480 juta, transportasi dan pergudangan US$446 juta, real estat US$342 juta, serta pertanian, kehutanan dan perikanan US$252 juta.

Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa sebagian perusahaan masih memilih membayar atau mengurangi utang di tengah ketidakpastian ekonomi dan volatilitas nilai tukar.

Dengan demikian, kenaikan ULN swasta sebesar 0,64% YTD belum menunjukkan ekspansi utang secara luas. Pertumbuhannya lebih mencerminkan konsentrasi kebutuhan pembiayaan pada sektor tertentu, sedangkan sejumlah sektor utama justru melanjutkan proses pengurangan utang.

TPIA, BRMS dan CBRE Cetak Utang Dolar Jumbo


Di tengah kenaikan tipis ULN swasta, sejumlah emiten sektor riil mengumumkan fasilitas atau penarikan utang dalam US$ sepanjang 2026. Chandra Asri Pacific (TPIA), Bumi Resources Minerals (BRMS), dan Cakra Buana Resources Energi (CBRE) menjadi tiga contoh dengan nilai terbesar.

Di antara ketiga emiten tersebut, BRMS memiliki bukti paling jelas mengenai dana yang sudah dicairkan pada 2026. BRMS dan anak usahanya menarik pinjaman tahap pertama dengan nilai gabungan US$66 juta pada 10 Maret 2026.

Sementara itu, fasilitas TPIA senilai US$250 juta masih bersumber dari laporan media yang mengutip pihak yang mengetahui transaksi. Fasilitas tersebut disebut digunakan untuk mendanai porsi ekuitas dalam akuisisi bisnis Esso di Singapura.

CBRE memperoleh term loan US$45 juta dari Maybank Indonesia pada 29 April 2026. Fasilitas berjangka delapan tahun tersebut dialokasikan untuk membiayai pelunasan pembelian kapal penunjang operasi maritim.

Meski seluruh pinjaman dicatat dalam US$, nilainya tidak otomatis masuk sebagai ULN dalam statistik Bank Indonesia. Status ULN ditentukan berdasarkan domisili kreditur, bukan mata uang pinjaman.

Dengan demikian, fasilitas US$ dari bank yang berdomisili di Indonesia tetap menciptakan risiko kurs bagi emiten, tetapi tidak otomatis diklasifikasikan sebagai utang luar negeri.

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)



Add

logo_svg

as a preferred

source on Google




Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *