Home Finance Warning! Harga Pangan Dunia Terbang: Gula Paling Menyeramkan!
Finance

Warning! Harga Pangan Dunia Terbang: Gula Paling Menyeramkan!

Share
Warning! Harga Pangan Dunia Terbang: Gula Paling Menyeramkan!
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – Harga pangan dunia kembali meningkat pada September 2026. Gangguan jalur perdagangan dan kekhawatiran terhadap produksi akibat cuaca mendorong indeks harga pangan global ke level tertinggi sejak awal 2023.

Food and Agriculture Organization dari UN (FAO) dalam rilis Jumat (2/10/2026) mencatat FAO Food Price Index (FFPI) mencapai rata-rata 136 poin pada September. Angka tersebut meningkat 1,5% dibandingkan Agustus yang sebesar 134 poin.


Secara tahunan, indeks naik 5,8% dibandingkan September 2025. Meski terus meningkat, posisinya masih 15,1% di bawah puncak pada Maret 2022.

Level September 2026 menjadi yang tertinggi sejak November 2022. Indeks juga telah meningkat selama tiga bulan berturut-turut, dari 130,1 poin pada Juni menjadi 136 poin pada September.

Dibandingkan posisi Desember 2025 yang sebesar 124,5 poin, indeks telah meningkat sekitar 9,2%. Pergerakan ini menunjukkan tekanan harga pangan global kembali menguat sepanjang tahun berjalan.

FFPI mengukur perubahan harga internasional lima kelompok komoditas pangan, yakni serealia, minyak nabati, gula, daging, dan produk susu.

Pada September, gula mencatat kenaikan bulanan terbesar, yakni 6,1%, disusul serealia sebesar 5,1% dan minyak nabati 0,9%. Sebaliknya, indeks daging turun 1,1%, sementara produk susu relatif stabil dengan penurunan tipis 0,1%.


Serealia Naik, Beras Dicermati

Kenaikan harga serealia menjadi salah satu perkembangan penting untuk dicermati Indonesia karena kelompok ini mencakup beras, selain gandum, jagung, dan sejumlah biji-bijian lainnya.

Indeks harga serealia FAO mencapai 122,8 poin pada September 2026, naik 5,1% dibandingkan Agustus dan 17,2% secara tahunan. Penguatan terutama ditopang harga gandum yang meningkat 6,3% secara bulanan dan jagung sebesar 5,6%.

Harga gandum terdorong gangguan logistik di Laut Hitam dan cuaca kering di sebagian Amerika Utara. Sementara itu, jagung menguat akibat hasil panen Amerika Serikat yang lebih rendah dari perkiraan, berkurangnya ketersediaan ekspor Brasil, serta hambatan perdagangan di Laut Hitam.

Indeks harga beras FAO turut naik 1,4% pada September. Kenaikan yang lebih moderat ini didorong penguatan harga beras Indica akibat kekhawatiran cuaca dan keterbatasan pasokan secara musiman.

Di Indonesia, BPS mencatat rata-rata harga beras di tingkat perdagangan besar atau grosir mencapai Rp14.992/kg pada September 2026, naik 0,61% secara bulanan dan 4,91% secara tahunan. Harga tersebut meningkat setiap bulan sepanjang Januari-September 2026.


Meski harga beras global dan domestik sama-sama meningkat, harga dalam negeri juga dipengaruhi produksi, persediaan, dan distribusi. Dengan demikian, kenaikan harga internasional tidak otomatis diteruskan dengan besaran yang sama ke pasar domestik.

Minyak Nabati Ditopang Sawit

Harga minyak nabati turut mendorong kenaikan harga pangan dunia. Indeks kelompok ini mencapai 198,6 poin pada September 2026, naik 0,9% secara bulanan dan 18,3% secara tahunan.

FAO mencatat harga minyak sawit internasional menguat selama empat bulan beruntun hingga September. Kenaikan ditopang permintaan impor global yang kuat serta kekhawatiran cuaca kering akan mengganggu produksi di Asia Tenggara.

Penguatan sawit mampu mengimbangi penurunan harga minyak bunga matahari. Sementara itu, harga minyak kedelai dan minyak rapeseed relatif stabil.

Memasuki Oktober, harga kontrak berjangka CPO kembali tertekan, termasuk pada perdagangan Senin (5/10/2026). Pelemahan terbaru ini terjadi setelah penguatan harga minyak sawit internasional sepanjang September yang tercermin dalam laporan FAO.

Gula Naik Paling Tajam

Indeks harga gula meningkat 6,1% secara bulanan menjadi 114 poin, sekaligus mencatat kenaikan ketiga berturut-turut. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak April 2025.

Pendorong utamanya adalah prospek pasokan gula global yang semakin ketat pada musim 2026/2027. Produksi Thailand diperkirakan melemah, sementara curah hujan di bawah normal dan penguatan El Niño menimbulkan kekhawatiran terhadap tanaman di India.

Di Brasil, hujan lebat menghambat panen di wilayah utama Centre-South. Sementara di Uni Eropa, penyusutan area tanam dan cuaca buruk diperkirakan menekan produksi bit gula (sugar beet), tanaman umbi yang digunakan sebagai bahan baku gula.

Daging dan Susu Mereda

Di tengah kenaikan komoditas berbasis tanaman, indeks harga daging turun menjadi 127,9 poin. Pelemahan terutama terjadi pada daging unggas dan babi seiring melimpahnya pasokan di negara eksportir utama.

Indeks produk susu juga turun tipis menjadi 119,1 poin. Penurunan harga keju hampir diimbangi kenaikan harga susu bubuk, sedangkan harga mentega relatif stabil.

Perbedaan arah tersebut menunjukkan tekanan harga pangan belum terjadi merata. Meski demikian, kenaikan pada serealia, minyak nabati, dan gula menegaskan bahwa risiko cuaca dan kelancaran perdagangan masih menjadi faktor penting bagi arah harga pangan global.

(slm/slm)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *