
Daftar Isi
Jakarta, CNBC Indonesia – Euforia peluncuran jajaran iPhone terbaru langsung dimanfaatkan oleh sindikat penipuan online. Belum genap sepekan dirilis, para pemburu iPhone baru dihadapkan pada ancaman ganda, mulai dari situs ritel palsu yang menguras kantong di Inggris, hingga tagihan misterius senilai ratusan juta rupiah yang mendadak muncul di kartu kredit konsumen di Hong Kong.
Modus operandi kejahatan ini kian marak dan menyasar konsumen yang tengah antusias ingin segera mencicipi teknologi anyar Apple.
Jebakan ‘Diskon Manis’ di Inggris
Berdasarkan laporan The Guardian, dikutip dari Digital Trends, Selasa (15/9/2026), lonjakan situs web tiruan yang mengaku sebagai peritel resmi Apple terjadi secara masif sejak pengumuman lini iPhone Duo dan iPhone 18 Pro/Pro Max pada 9 September lalu.
Data dari peneliti keamanan siber WhoisXML API, Alexandre Francois, mencatat bahwa pendaftaran nama domain (domain) yang menyematkan istilah iPhone baru meroket hingga lebih dari 200 situs hanya dalam kurun waktu 24 jam pertama peluncuran.
Situs-situs abal-abal tersebut memasang siasat klasik namun menggiurkan:
-
Memangkas harga iPhone 18 Pro hingga ratusan poundsterling lebih murah dari harga rilis resmi Apple senilai £1.199.
-
Mengarahkan metode pembayaran via transfer bank langsung (bukan kartu kredit/debit) demi menghindari perlindungan konsumen (chargeback).
-
Memasang countdown timer (penghitung waktu mundur) yang ketat untuk mendikte psikologis korban agar segera transfer tanpa pikir panjang.
-
Lebih parahnya lagi, beberapa situs turut mengiklankan varian ‘iPhone 18’ standar, sebuah produk fiktif yang bahkan belum pernah dirilis secara resmi oleh Apple.
Skandal Hong Kong: Tagihan Misterius Tembus Rp33 Miliar
Belum selesai dengan drama situs tiruan, masalah yang lebih mengerikan justru terjadi di Hong Kong. Berdasarkan laporan South China Morning Post, pihak Kepolisian Hong Kong telah menerima lebih dari 700 laporan pengaduan terkait transaksi kartu kredit tidak sah (unauthorized charges) yang dikaitkan dengan pre-order iPhone 18.
Total kerugian sementara ditaksir mencapai HK$14,7 juta (sekitar Rp33 miliar), dengan rekor kerugian tertinggi mencapai HK$114,000 (sekitar Rp57 juta) hanya untuk satu korban.
Para pemilik kartu kredit mengaku kaget lantaran ditagih pembelian iPhone padahal tidak pernah merasa melakukan transaksi tersebut. Banjir aduan ini bahkan melumpuhkan layanan customer service sejumlah bank lokal dalam satu akhir pekan penuh.
Francis Fong, Presiden Kehormatan Hong Kong Information Technology Federation, menduga sistem checkout Apple kemungkinan melonggarkan lapisan verifikasi ganda seperti 3D Secure demi menjaga kelancaran lalu lintas transaksi pre-order. Celah inilah yang diduga dimanfaatkan sindikat pencuri data kartu kredit (carding).
Menanggapi insiden ini, raksasa perbankan lokal seperti HSBC dan Hang Seng Bank bergerak cepat dengan membuka investigasi serta menjanjikan refund (pengembalian dana) bagi transaksi yang terbukti fiktif.
Kendati demikian, publik masih menanti siapa pihak yang nantinya harus bertanggung jawab menanggung kerugian akhir: apakah Apple atau pihak perbankan.
Tips Terhindar Modus Penipuan iPhone Baru
Bagi Anda yang tengah berencana memburu seri iPhone terbaru, otoritas dan analis keamanan siber memberikan tiga catatan penting:
-
Wajib di Kanal Resmi: Transaksi hanya melalui Apple Store resmi atau mitra reseller terakreditasi.
-
Hindari Transfer Langsung: Jangan pernah melakukan pembayaran peer-to-peer atau transfer bank ke rekening perorangan untuk alasan diskon harga.
-
Cek Rekening Berkala: Pantau mutasi kartu kredit/debit Anda secara intensif dalam beberapa hari ke depan guna mengantisipasi debit mencurigakan.
(fab/fab)
Leave a comment