
Jakarta, CNBC Indonesia – Peneliti keamanan siber mengungkap modus penipuan yang diam-diam menguras rekening korban hingga ludes. Pelaku membuat situs web palsu yang menyerupai perusahaan ternama untuk menipu pelanggan dan mengalihkan pembayaran ke rekening yang telah mereka siapkan.
Perusahaan keamanan siber asal Rusia, F6, mengungkap kampanye penipuan berskala besar yang telah berlangsung sejak 2017. Pelaku membuat situs tiruan dari berbagai perusahaan Rusia, mulai dari produsen pupuk, perusahaan petrokimia, pabrik metalurgi, operator logistik, hingga perbankan.
F6 menyebut sebagian besar konten di situs palsu tersebut disalin langsung dari situs resmi perusahaan. Beberapa di antaranya juga menggunakan nama domain yang sangat mirip dengan domain asli.
“Sebagian besar konten di situs penipuan ini disalin dari situs resmi perusahaan. Beberapa juga menggunakan nama domain yang sangat mirip. Situs palsu ini tersedia dalam bahasa Inggris, Prancis, Arab, dan Rusia untuk menargetkan pelanggan internasional dan mencuri pembayaran di muka untuk barang yang sebenarnya tidak pernah ada,” kata F6, dikutip dari The Hacker News, Kamis (30/7/2026).
Hasil analisis menunjukkan bahwa skema penipuan ini terutama menyasar organisasi di negara-negara Commonwealth of Independent States (CIS), khususnya pada sektor business-to-business (B2B) dan perdagangan internasional.
Pelaku memulai kontak dengan calon korban melalui panggilan telepon, email phishing, serta situs web perusahaan palsu. Mereka kemudian mengirimkan dokumen bisnis yang berisi informasi rekening bank milik perusahaan anak usaha fiktif.
Modus ini bekerja dengan cara mengarahkan calon pelanggan ke situs tiruan yang tampak seperti situs resmi. Di situs tersebut, informasi kontak telah diubah sehingga seluruh komunikasi korban akan terhubung langsung dengan pelaku.
Dalam beberapa kasus, pelaku bahkan merekrut tenaga penjualan (sales) yang tidak mengetahui aksi penipuan tersebut untuk melakukan panggilan awal kepada calon pelanggan. Ketika negosiasi memasuki tahap akhir, korban diarahkan kepada seseorang yang diklaim sebagai “manajer senior”.
Setelah itu, seluruh komunikasi ditangani langsung oleh pelaku. Mereka mengirimkan penawaran bisnis, kontrak, dan faktur dengan informasi rekening bank palsu sehingga dana pembayaran korban masuk ke rekening yang dikendalikan oleh sindikat penipu.
Salah satu korban, sebuah perusahaan asal Azerbaijan, diperkirakan mengalami kerugian hingga US$150.000 pada April 2025 akibat transaksi penipuan tersebut.
Investigasi F6 menemukan hampir 100 domain palsu yang menyamar sebagai perusahaan-perusahaan resmi. Peneliti juga menemukan keterkaitan antara infrastruktur penipuan tersebut dengan kampanye serupa yang telah berlangsung sejak 2017.
“Sebagian besar infrastruktur ini menggunakan catatan DNS, alamat IP, dan data registrasi yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa situs-situs tersebut merupakan bagian dari satu kampanye yang terkoordinasi,” kata Elena Shamshina, pimpinan teknis Departemen Intelijen Ancaman F6.
F6 juga mengungkap kasus serupa yang terjadi pada 2017. Saat itu, sebuah perusahaan kimia di Rusia menerima banyak panggilan telepon dari para petani yang mengeluhkan keterlambatan pengiriman pupuk yang telah dibayar di muka.
Para petani mengaku memiliki kontrak dengan tanda tangan yang diyakini berasal dari perwakilan perusahaan. Namun, pihak perusahaan memastikan bahwa kontrak tersebut tidak pernah diterbitkan.
Penyelidikan kemudian menemukan bahwa pelaku telah membuat situs palsu yang hampir identik dengan situs resmi perusahaan. Perbedaannya hanya terletak pada informasi rekening bank dan kontak perusahaan.
“Pelaku juga membuat proposal bisnis yang sangat meyakinkan menggunakan kop surat resmi perusahaan. Meski dokumen tampak asli, informasi pembayaran telah diganti dengan rekening yang dikendalikan pelaku. Akibatnya, pelanggan mentransfer uang untuk barang yang sebenarnya tidak pernah ada,” tambah F6.
F6 menilai kampanye ini bersifat internasional. Jika sebelumnya pelaku lebih banyak menggunakan domain .ru, kini mereka juga memanfaatkan domain .com, .org, dan .net. Situs-situs tersebut tersedia dalam bahasa Rusia, Inggris, Arab, dan Prancis.
Selain situs palsu, F6 menemukan berbagai dokumen bisnis fiktif yang menyerupai penawaran komersial, kontrak, dan faktur lengkap dengan alamat email perusahaan palsu serta informasi rekening bank yang telah dimanipulasi.
“Analisis terhadap dokumen-dokumen ini menunjukkan bahwa pelaku menyiapkan satu paket dokumentasi bisnis lengkap untuk mendukung transaksi palsu dan meningkatkan kepercayaan korban,” kata Vera Kolenikova, spesialis senior Departemen Investigasi Kejahatan Siber F6.
F6 memperingatkan bahwa penipuan ini tidak hanya menyebabkan korban kehilangan finansial, tetapi juga merusak reputasi perusahaan yang mereknya disalahgunakan.
“Korban kehilangan uang, sementara perusahaan yang mereknya disalahgunakan mengalami kerusakan reputasi. Bagi perusahaan yang bergerak di bidang impor dan ekspor internasional, salah satu langkah keamanan paling efektif adalah memverifikasi secara mandiri informasi kontak dan detail pembayaran sebelum mentransfer dana,” tegasnya.
(fab/fab)
Leave a comment