
Jakarta, CNBC Indonesia – Pengusaha industri pariwisata mengungkapkan Indonesia masih kalah dari Vietnam dari jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman), meski posisinya di Indonesia masih terbilang baik.
Ketua Umum Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Hariyadi B.S. Sukamdani mengatakan jumlah kunjungan wisman ke Indonesia periode Januari hingga Agustus 2026 mencapai 10,57 juta orang atau tumbuh 5,38% dari periode yang sama tahun lalu.
“Data kunjungan Wisman, dari Januari sampai dengan Agustus 2026 itu mencapai 10,57 juta orang, tumbuh rata-ratanya 5,38% dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2025,” kata Hariyadi dalam konferensi pers Rapimnas dan Rakernas IV GIPI, Rabu (14/10/2026).
Sementara itu menurut President ASEAN Tourism Association (ASENTA) Eddy Krismeidi Soemawilaga, jumlah wisman ke Indonesia pada periode tersebut masih kalah dari Vietnam yang pertumbuhan rata-ratanya sudah mencapai 15%.
“Kalau dari data BPS, wisman ke Indonesia ini sebenarnya berdasarkan data dari Januari hingga Agustus 2026, kenaikan rata-ratanya mencapai 5,38%, diantara negara ASEAN, Indonesia jadi yang tertinggi kedua setelah Vietnam, yang tumbuhnya sekitar 14-15%,” kata Eddy.
Sedangkan di negara ASEAN lainnya, rata-rata pertumbuhannya berada di bawah Vietnam dan Indonesia.
“Sementara yang lain itu sebenarnya masih di bawah Vietnam dan Indonesia, bahkan Kamboja saja masih minus 4%,” terang Eddy.
Masih kalahnya Indonesia dari Vietnam terjadi karena salah satunya yakni keterbatasan anggaran promosi hingga regulasi yang membutuhkan biaya tinggi. Haryadi menyebutkan, promosi pariwisata belum optimal karena keterbatasan anggaran negara.
“Promosi yang belum optimal, karena terbatasnya anggaran negara,” ujar Hariyadi.
Harga tiket pesawat yang masih tinggi juga turut menjadi penyebab Indonesia masih kalah dari Vietnam.
“Kendala yang kita hadapi adalah masih tingginya harga tiket karena tingginya harga avtur dan besarnya biaya penerbangan lainnya, seperti pengenaan PPN avtur, biaya passenger service charge, biaya ground handling, dan biaya suku cadang pesawat,” ucap Hariyadi.
(chd/wur)
Leave a comment