Jakarta, CNBC Indonesia – China nampaknya ingin memperluas penggunaan AI dengan menggaet negara-negara berkembang (Global South) sebagai mitra pengembangan AI. Presiden Xi Jinping turun tangan langsung untuk menjalankan rencana tersebut.
Salah satunya dengan program pelatihan dan seminar AI. Sekitar 5.000 kesempatan diberikan untuk negara berkembang dalam program tersebut.
China juga mengembangkan kerja sama di bidang teknologi di berbagai wilayah, yakni Asia Tenggara, Liga Arab dan Uni Afrika.
“China bersedia bekerja sama dengan semua pihak dalam memanfaatkan dan mengatasi peluang serta tantangan pengembangan AI dengan sikap lebih terbuka, tindakan lebih pragmatis, dan visi jangka panjang,” kata Xi dalam Konferensi AI Dunia di Shanghai, dikutip dari CNBC Internasional, Selasa (21/7/2026).
Dia menambahkan bahwa pengembangan AI bukan hanya milik satu negara saja. Namaun adalah kerja sama secara internasional, serta siap mengadopsi perspektif lebih visioner.
Bukan hanya itu, Xi juga mendorong penguatan kesadaran risiko dan keamanan AI. Termasuk memastikan teknologi tersebut aman dan terkendali, serta berada di bawah kendali manusia.
Kemudian Xi ingin negara lain bisa menentang konsep keamanan nasional berlebihan di bidang AI atau menempatkan keamanan satu negara di atas keamanan negara lain.
Pengumuman ini dilakukan di tengah hubungan China dan Amerika Serikat (AS), dua negara yang mendominasi pengembangan AI, tengah sangat panas. AS, khususnya, menerapkan beberapa upaya untuk menjegal akses China ke teknologi canggih dan kerap menyebut alasannya untuk keamanan nasional.
Salah satunya memasukkan Huawei dalam Daftar Entitas Departemen Perdagangan pada 2019. Pada 2022, Pemerintahan Biden memperkenalkan kontrol ekspor untuk membatasi kemampuan China membeli chip komputasi canggih dan memproduksi semikonduktor canggih.
(fab/fab)
Add
as a preferred
source on Google
Leave a comment