Home Finance 3 Cara Bedakan Beras Fortifikasi Asli dan Palsu, Jangan Terkecoh!
Finance

3 Cara Bedakan Beras Fortifikasi Asli dan Palsu, Jangan Terkecoh!

Share
3 Cara Bedakan Beras Fortifikasi Asli dan Palsu, Jangan Terkecoh!
Share



Daftar Isi



Jakarta, CNBC Indonesia – Beras fortifikasi tengah menjadi sorotan setelah pemerintah menemukan puluhan merek yang diduga tidak memenuhi standar dan kandungan sebagaimana tercantum pada label.

Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman sebelumnya mengungkap temuan 25 merek yang dipasarkan sebagai beras fortifikasi, tetapi diduga tidak memenuhi ketentuan. Pemerintah mengambil sejumlah langkah, mulai dari penarikan produk dari peredaran, pencabutan izin, hingga proses hukum terhadap pihak yang diduga terlibat.

Mengutip CNN Indonesia, pemeriksaan dilakukan berdasarkan kesesuaian dengan SNI 9314:2024 untuk kernel beras fortifikan dan SNI 9372:2025 untuk beras fortifikasi.

Lantas, apakah masyarakat bisa membedakan beras fortifikasi yang sesuai standar hanya dengan melihat bentuknya?

Apa Itu Beras Fortifikasi?

Beras fortifikasi bukan sekadar beras biasa. Produk ini merupakan beras sosoh yang dicampur dengan kernel beras fortifikan untuk memperoleh komposisi zat gizi tertentu.

Kernel fortifikan dibuat menyerupai butiran beras dan mengandung sejumlah vitamin serta mineral. Kernel tersebut kemudian dicampurkan dengan beras sosoh sehingga produk akhirnya secara fisik tetap menyerupai beras yang biasa dikonsumsi masyarakat.

Mengacu pada SNI 9372:2025, setiap 100 gram beras fortifikasi harus mengandung vitamin B1 minimal 0,25 miligram, asam folat 0,25-0,38 miligram, vitamin B12 1,0-1,5 mikrogram, zat besi 3,50-5,25 miligram, serta seng 3,0-4,5 miligram.

Fortifikasi pangan sendiri menjadi salah satu strategi untuk membantu memenuhi kebutuhan zat gizi mikro dan memperbaiki status gizi masyarakat.

Cara Membedakan Beras Fortifikasi

Ada beberapa hal yang bisa diperhatikan masyarakat ketika membeli beras fortifikasi.

1. Cek label dan izin produk

Jangan hanya melihat tulisan “fortifikasi” atau “diperkaya vitamin” pada bagian depan kemasan. Konsumen perlu memeriksa nama produk, identitas produsen, informasi nilai gizi, hingga klaim kandungan vitamin dan mineral yang dicantumkan.

Produsen beras fortifikasi juga wajib memiliki izin edar sesuai ketentuan. Untuk memastikan keamanan, mutu, serta kandungan gizinya, produk harus menjalani pengujian di laboratorium terakreditasi.

2. Perhatikan kernel beras

Beras fortifikasi mengandung kernel fortifikan yang dicampurkan dengan beras biasa. Beberapa butirnya bisa terlihat sedikit berbeda dibandingkan butiran beras lainnya.

Namun, perbedaan bentuk atau warna tersebut tidak bisa menjadi satu-satunya patokan untuk menentukan apakah beras fortifikasi memenuhi standar.

Dengan begitu, masyarakat juga tidak perlu langsung khawatir ketika menemukan beberapa butir beras dengan tampilan berbeda. Butiran tersebut bisa saja merupakan kernel yang membawa vitamin dan mineral tambahan.

3. Jangan menilai dari warna atau bentuk saja

Beras fortifikasi memang dibuat agar menyerupai beras biasa. Sehingga sulit memastikan kandungan gizinya hanya dengan mata telanjang.

Warna, bentuk, aroma hingga tekstur tidak dapat memastikan apakah kandungan vitamin dan mineral di dalam beras sesuai dengan klaim pada kemasan.

Anggapan beras bermasalah dapat dikenali karena terlalu putih, terlalu mengilap, atau memiliki bentuk tertentu juga tidak bisa menjadi patokan untuk menentukan kandungan fortifikasinya.

Bisa Dites Pakai Air?

Di media sosial kerap beredar metode sederhana untuk mengecek beras, salah satunya dengan merendam butiran beras ke dalam air.

Namun, beras yang mengapung ataupun tenggelam tidak dapat menjadi indikator apakah produk memiliki kandungan vitamin B1, asam folat, vitamin B12, zat besi, dan seng sesuai standar.

Hal serupa berlaku untuk metode membakar atau menyangrai beras. Perubahan warna, aroma maupun tekstur setelah dipanaskan tidak dapat digunakan untuk mengukur kadar zat gizi mikro.

Artinya, tidak ada tes sederhana di rumah yang bisa memastikan beras fortifikasi benar-benar memiliki kandungan gizi sesuai klaim produsen.

Laboratorium Jadi Cara Paling Akurat

Untuk mengetahui kandungan beras fortifikasi secara akurat, diperlukan pemeriksaan laboratorium. Pengujian tersebut digunakan untuk mengetahui apakah kandungan vitamin dan mineral memenuhi persyaratan SNI sekaligus sesuai dengan informasi yang tercantum pada label produk.

SNI 9372:2025 juga mengatur kesesuaian antara kandungan zat gizi dan informasi pada kemasan. Bapanas menyebut kandungan vitamin dan mineral setidaknya harus mencapai 80% dari nilai yang dicantumkan pada label. Sementara mineral seperti zat besi dan seng tidak boleh melebihi 120% dari nilai yang tertera.

Oleh sebab itu, konsumen sebaiknya tidak langsung mempercayai klaim mengenai beras fortifikasi hanya berdasarkan tampilan fisik ataupun berbagai eksperimen sederhana yang beredar di media sosial.

(hsy/hsy)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *