Jakarta, CNBC Indonesia – Lelang pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz berpotensi mengubah persaingan jaringan seluler Indonesia. Tambahan spektrum dapat memperluas jangkauan, meningkatkan kapasitas dan mendukung pengembangan 5G.
XLSMART mempunyai ruang spektrum per pelanggan paling besar. Sebelum kewajiban pengembalian frekuensi diperhitungkan, total nominal spektrumnya setelah lelang mencapai 232 MHz.
Jika dibagi 69,4 juta pelanggan, spectrum density XLSMART meningkat dari 2,19 menjadi 3,34 MHz per satu juta pelanggan atau naik 52,6%.
Ruang spektrum yang lebih longgar berpotensi menampung pertumbuhan trafik tanpa cepat mengalami kemacetan. Namun, XLSMART harus meningkatkan pelanggan, konsumsi data dan ARPU agar tambahan spektrum dapat berubah menjadi pendapatan serta arus kas.
Apa Arti 700 MHz dan 2,6 GHz?
Frekuensi merupakan jalur udara yang menghubungkan ponsel dengan BTS. Hertz atau Hz menunjukkan jumlah getaran gelombang per detik. Artinya, 700 MHz setara 700 juta getaran per detik, sedangkan 2,6 GHz setara 2,6 miliar getaran per detik.
Frekuensi 700 MHz mempunyai gelombang lebih panjang sehingga menjangkau wilayah lebih luas dan relatif lebih baik mencapai bagian dalam bangunan. Sementara 2,6 GHz mempunyai jangkauan lebih pendek, tetapi menyediakan bandwidth lebar untuk membawa trafik besar.
Sederhananya, 700 MHz merupakan jalan yang menjangkau banyak rumah, sedangkan 2,6 GHz adalah jalan tol lebar di kawasan ramai. Bagi masyarakat, kombinasinya berpotensi memperluas cakupan, memperbaiki sinyal indoor dan menjaga kecepatan saat jaringan padat.
Hasilnya tetap bergantung pada aktivasi frekuensi di BTS, kapasitas fiber atau backhaul, teknologi antena dan kepadatan pengguna.
Hasil Lelang Rp3,36 Triliun
XLSMART memperoleh blok 700 MHz terbesar. Sementara itu, Telkomsel mendapatkan blok 2,6 GHz dan total tambahan spektrum terbesar.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Kementrian Komdigi atau Kemkomdigi) resmi menetapkan ketiga operator sebagai pemenang pada 21 Juli 2026. Keputusan tersebut bersifat final dan mengikat
Basis Pelanggan dan ARPU
Perhitungan density dan potensi pendapatan menggunakan jumlah pelanggan serta ARPU kuartal I-2026.
Indosat juga mencatat angka pelanggan lebih terperinci sebesar 93,5 juta melalui Ooredoo. Perbedaan tersebut tidak mengubah hasil pembulatan density.
Jumlah pelanggan XLSMART turun setelah pembersihan kartu tidak aktif dan pelanggan bernilai rendah. Dengan demikian, density-nya meningkat karena spektrum bertambah sekaligus jumlah pelanggan sebagai pembagi mengecil.
Spektrum Lama Operator
Sebelum lelang, Telkomsel mempunyai spektrum 165 MHz, Indosat 135 MHz, XL Axiata 90 MHz dan Smartfren 62 MHz.
Data spektrum tersebut berasal dari Laporan Kinerja Ditjen Infrastruktur Digital 2024 dan menjadi titik awal perhitungan density.
Bedah Hitungan Spectrum Density
Rumusnya adalah: Spectrum density = (spektrum lama + spektrum hasil lelang) ÷ pelanggan dalam juta orang.
Perhitungan Mirae sebesar 1,7 untuk Telkomsel, 2,3 untuk Indosat dan 2,5 untuk XLSMART benar apabila XLSMART dihitung menggunakan spektrum lama XL sebesar 90 MHz.
Jika spektrum Smartfren ikut dimasukkan, density nominal XLSMART mencapai 3,34 sebelum pengembalian sebagian frekuensi. Angka tersebut bukan kepemilikan final.
Spectrum density juga bukan peringkat kecepatan. Indikator ini menjumlahkan berbagai pita secara setara tanpa memperhitungkan perbedaan FDD dan TDD, tingkat aktivasi di BTS, kapasitas backhaul dan kepadatan trafik.
Simulasi Investasi Rp12,36-15,72 Triliun
Nilai penawaran Rp3,36 triliun belum mencerminkan seluruh biaya. Berdasarkan Peraturan Menteri Kominfo Nomor 9 Tahun 2023, biaya izin awal dapat ditetapkan paling tinggi dua kali harga penawaran.
Simulasi rollout mengasumsikan setiap operator mengaktifkan frekuensi pada 10.000 titik jaringan dengan biaya Rp300 juta per titik:
10.000 titik × Rp300 juta = Rp3 triliun per operator.
Komdigi memproyeksikan PNBP sekitar Rp6 triliun pada tahap awal dan Rp29,9 triliun selama sepuluh tahun. Namun, komposisinya belum diperinci sehingga Rp6 triliun tidak dapat langsung dianggap seluruhnya sebagai biaya izin awal.
Nilai Rp12,36-15,72 triliun tetap merupakan simulasi. Angka tersebut belum memasukkan IPFR tahunan, pendanaan, pajak, menara baru dan penarikan fiber skala besar.
Menghitung Basis Pendapatan
Basis pendapatan seluler dihitung menggunakan rumus:
Angka tersebut merupakan proksi pendapatan seluler, bukan seluruh pendapatan perusahaan. Pendapatan fixed broadband, enterprise, interkoneksi dan bisnis digital belum sepenuhnya tercakup.
Potensi Kenaikan Pendapatan dan EBITDA
Tambahan spektrum baru menghasilkan pendapatan apabila operator mampu menjual paket lebih besar, layanan premium, FWA, kontrak korporasi atau mengurangi churn.
Simulasi menggunakan kenaikan pendapatan 1%, 3% dan 5%. Skenario 3% menjadi skenario tengah, sedangkan tambahan EBITDA dihitung menggunakan asumsi margin 45%.
Sebagai contoh, Rp83,17 triliun pendapatan Telkomsel dikalikan 3% menghasilkan Rp2,49 triliun. Setelah dikalikan margin 45%, tambahan EBITDA menjadi sekitar Rp1,12 triliun.
Skenario 3% setara tambahan ARPU sekitar Rp1.353 per bulan untuk Telkomsel, Rp1.350 untuk Indosat dan Rp1.419 untuk XLSMART. Angka tersebut merupakan simulasi, bukan target operator atau proyeksi Mirae.
Putusan MK Ubah Cara Operator Monetisasi Kuota
Putusan MK Nomor 273/PUU-XXIII/2025 mewajibkan operator menyediakan pilihan layanan yang menjamin sisa kuota tetap aktif dan dapat digunakan.
Perlindungan dapat diberikan melalui rollover, perpanjangan masa aktif, pengalihan manfaat, kompensasi, refund atau mekanisme lain. MK tidak mengharuskan seluruh operator menggunakan satu model paket yang sama.
Telkomsel menyatakan menghormati putusan tersebut dan telah menyediakan fitur akumulasi kuota pada produk tertentu. Namun, perusahaan belum menjelaskan penerapannya terhadap seluruh paket ataupun dampaknya terhadap harga.
Rollover dapat menunda pembelian paket berikutnya sehingga menekan ARPU. Sebaliknya, paket fleksibel dapat menurunkan churn dan mendorong pembelian kuota lebih besar. Bagi XLSMART, peningkatan pemakaian kuota berpotensi menyerap ruang kapasitas setelah frekuensi baru diaktifkan.
Karena itu, putusan MK menambah ketidakpastian pada skenario pendapatan 3%. Dampak akhirnya bergantung pada kemampuan operator melindungi hak pelanggan sekaligus mempertahankan pertumbuhan pendapatan.
Siapa Paling Cepat Balik Modal?
Payback dihitung menggunakan rumus: Investasi awal ÷ tambahan EBITDA tahunan.
Skenario bertahap mengasumsikan manfaat jaringan mencapai 25% pada tahun pertama, 50% pada tahun kedua, 75% pada tahun ketiga dan 100% mulai tahun keempat.
Telkomsel menghasilkan payback tercepat karena mempunyai basis pendapatan terbesar. Indosat berada di tengah karena membayar spektrum paling murah, sedangkan XLSMART mencatat payback terpanjang karena basis pendapatannya lebih kecil.
Simulasi belum memasukkan IPFR tahunan, pendanaan dan sinergi merger XLSMART. Perhitungan juga menganggap investasi dikeluarkan di awal, sementara manfaat jaringan meningkat bertahap.
Secara keseluruhan, XLSMART mempunyai ruang spektrum per pelanggan terbesar, Telkomsel berpotensi mencatat monetisasi tercepat, sedangkan Indosat memperoleh kombinasi biaya dan spektrum yang relatif seimbang.
Hasil akhirnya bergantung pada kemampuan operator mengaktifkan frekuensi di BTS, menyediakan backhaul dan mengubah peningkatan kualitas jaringan menjadi pendapatan tambahan.
–
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)
Add
as a preferred
source on Google
Leave a comment