
Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat pada perdagangan Kamis (3/9/2026), setelah sehari sebelumnya ditutup melemah tipis.
Berdasarkan data IDX Mobile pukul 16.00 WIB, IHSG berakhir menguat 72,11 poin atau 1,09% ke level 6.667,89, dari penutupan sebelumnya di 6.595,78.
Nilai transaksi hari ini cenderung ramai atau tercatat sekitar Rp 18,64 triliun, dengan volume perdagangan mencapai 40,79 miliar saham dan frekuensi 2,5 juta kali.
Nyaris seluruh sektor menguat, dengan kenaikan tertinggi dicatatkan oleh sektor properti, konsumer primer dan barang baku. Sementara itu hanya sektor konsumer non primer dan kesehatan yang melemah hari ini.
Secara spesifik, emiten big caps tercatat menjadi penopang utama kinerja IHSG hari ini. Secara spesifik Bank Central Asia (BBCA), Astra International (ASII), Bank Mandiri (BMRI, Amman Mineral Internasional (AMMN), CPIN dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI).
Adapun IHSG berpeluang mencoba bangkit pada perdagangan Kamis (3/9/2026) setelah terkoreksi pada perdagangan sebelumnya. Pelaku pasar akan mencermati sejumlah sentimen global dan domestik.
Dari global, eskalasi konflik AS-Iran kembali meningkatkan risiko gangguan pasokan energi, kenaikan harga minyak, dan inflasi. Tekanan juga datang dari tingginya yield obligasi global, dengan yield Treasury AS 10 tahun sempat mencapai 4,818%.
Tekanan juga terlihat di pasar obligasi global. Yield surat utang Jepang tenor 10 tahun menembus 3% untuk pertama kalinya dalam 30 tahun, sedangkan yield Jerman dan Inggris masing-masing mencapai level tertinggi sejak 2011 dan 2008.
Pasar turut mencermati arah kebijakan The Fed setelah data tenaga kerja AS menunjukkan perusahaan swasta hanya menambah 38.000 pekerjaan pada Agustus, di bawah ekspektasi 47.000.
Dari domestik, sentimen positif berpotensi datang dari Gubernur BI Destry Damayanti yang menegaskan stabilitas ekonomi tetap menjadi prioritas BI periode 2026-2031, di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
Selain itu, pasar domestik akan mencermati perkembangan kebijakan pemerintah, termasuk sektor energi dan perbankan. Kenaikan harga avtur Pertamina mulai September serta pencabutan izin usaha satu BPR Syariah oleh OJK menjadi sejumlah perkembangan domestik yang turut menjadi perhatian pelaku pasar.
(fsd/fsd)
Leave a comment