Home Finance Kim Jong Un Buka Keran Hiburan Korut, Ada Misi di Baliknya
Finance

Kim Jong Un Buka Keran Hiburan Korut, Ada Misi di Baliknya

Share
Kim Jong Un Buka Keran Hiburan Korut, Ada Misi di Baliknya
Share




Jakarta, CNBC lndonesia – Presiden Korea Utara (Korut) Kim Jong Un tengah mendorong warganya untuk lebih banyak menikmati hiburan dan berbelanja, dari kedai kopi hingga pusat perbelanjaan mewah. Di balik geliat konsumsi itu, tersimpan strategi untuk memperkuat kendali negara atas ekonomi sekaligus meredam keresahan kelas menengah.

Negara yang selama puluhan tahun identik dengan kelangkaan kini justru dipenuhi berbagai fasilitas rekreasi baru. Data perdagangan menunjukkan impor peralatan pijat dari China melonjak sekitar 40 kali lipat dalam satu dekade, sementara pengiriman treadmill melesat lebih dari 600%, disusul piano dan wahana permainan seperti bumper cars.

Menurut peneliti Hyundai Research Institute Kang Seong-hyeon, kebijakan tersebut bukan semata untuk meningkatkan taraf hidup warga.

“Pendekatan Kim menarik produksi, distribusi, dan arus modal yang terkonsentrasi di pasar-pasar informal ke dalam ruang ekonomi resmi yang dikelola negara,” ujarnya, seperti dikutip Reuters, Jumat (11/9/2026).

Perubahan itu terlihat dari maraknya pusat perbelanjaan, resor pantai, taman air, hingga destinasi ski. Reuters menemukan pembangunan resor Wonsan Kalma, hotel-hotel mewah di Samjiyon, serta berbagai kompleks rekreasi yang mencakup restoran, perpustakaan dan bioskop. Resor Wonsan bahkan dilaporkan dikunjungi lebih dari 300.000 warga domestik pada paruh kedua 2025.

Di Pyongyang, gaya hidup konsumtif juga semakin terlihat. Warga dapat menikmati cappuccino, berbelanja peralatan rumah tangga hingga mengunjungi toko hewan peliharaan, sementara pusat belanja seperti Ryugyong Golden Plaza memajang produk dengan logo merek internasional. Pembayaran digital melalui aplikasi seluler juga mulai digunakan luas, bahkan setelah pemerintah mewajibkan bank dan toko menerima pembayaran elektronik pada 2023.

Lonjakan konsumsi itu terjadi ketika ekonomi Korea Utara terus tumbuh meski dibelit sanksi internasional. Ekonomi negara tersebut tumbuh 3,5% pada 2025, menjadi tahun ketiga berturut-turut dengan pertumbuhan di atas 3%, sementara aliran dana disebut berasal dari berbagai sumber, termasuk pencurian aset kripto, ekspor mineral serta pengerahan pasukan untuk membantu Rusia dalam perang Ukraina.

Ekonom Universitas Wina Ruediger Frank menilai kebijakan konsumsi itu juga dirancang untuk mengatasi persoalan baru, yakni bertambahnya kelompok masyarakat yang memiliki uang tetapi minim saluran resmi untuk membelanjakannya.

“Munculnya kelas menengah yang terdiri dari sekitar delapan juta orang yang memiliki tabungan namun tidak memiliki tempat untuk membelanjakannya,” kata Frank.

Menurut Frank, konsumsi dapat mengurangi frustrasi sosial sekaligus mendorong permintaan domestik dan mencegah dana berlebih masuk ke pasar yang berisiko memicu kenaikan harga kebutuhan pokok. Namun ia mengingatkan bahwa strategi tersebut bukan jaminan loyalitas.

“Konsumsi membeli waktu. Namun, hal itu tidak membeli kesetiaan selamanya,” ujarnya.

(tfa/luc)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *