
Jakarta, CNBC Indonesia – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan dirinya tidak mempunyai latar belakang pendidikan pertambangan maupun bisnis di sektor minyak dan gas bumi (migas). Namun demikian, hal tersebut tidak menghalanginya untuk memimpin Kementerian ESDM.
Semula, Bahlil mengatakan selama ini dirinya kerap menyampaikan dalam berbagai forum akademik bahwa ia bukan lulusan jurusan pertambangan. Bahkan, sebelum menjabat sebagai Menteri ESDM, dirinya mengaku tidak pernah memiliki bisnis di sektor minyak.
“Saya dalam beberapa kali ngomong di forum-forum akademik saya selalu mengatakan bahwa saya gak sekolah di jurusan pertambangan. Saya juga gak pernah dalam sejarah punya bisnis di dunia minyak. Apalagi kampus saya tidak ada di Google. Jadi bayangkan sudah gak ada, gak pernah belajar minyak, gak pernah bisnis minyak kampus pun gak ada di Google. Jadi sudah jatuh tertimpa tangga pula,” tuturnya dalam acara InTechSea 2026, Jakarta, dikutip Selasa (15/9/2026).
Meski begitu, Bahlil menilai kondisi tersebut justru dapat mendorong seseorang untuk melahirkan inovasi dan gagasan yang tidak selalu ditemukan dalam teori akademik.
Ia lantas menceritakan pengalamannya ketika menjabat sebagai Menteri Investasi/Kepala BKPM di tengah pandemi Covid-19. Saat itu, hampir seluruh negara menghadapi ketidakpastian dan belum memiliki formula yang jelas untuk menarik investasi di tengah pandemi.
Bahlil mengaku sempat mencari referensi akademik mengenai strategi menarik investasi dalam kondisi tersebut. Namun, ia tidak menemukan teori atau buku yang secara khusus membahas strategi investasi di era pandemi.
“Jadi konsepnya adalah tiba saat, tiba akal. Waktu itu. Dan alhamdulillah sekalipun pandemi Covid pengalaman saya, saya jadi Menteri Investasi tahun 2019 itu ada Kepala BKPM tamatan Harvard meninggalkan legacy kepada saya itu kurang lebih sekitar Rp 790 triliun total investasi. Saya meninggalkan kementerian investasi 2024 total investasi kita sudah mencapai Rp 1.700 triliun. Artinya 100% lebih dari target dan itu di era Covid,” ujarnya.
Ditambah saat ini dia ditugaskan sebagai Menteri ESDM oleh Presiden Prabowo Subianto, isu impor minyak masih menjadi tantangan besar. Pasalnya, produksi minyak dalam negeri saat ini baru sekitar 600.000 barel per hari (bph), sementara konsumsi mencapai 1,6 juta bph. Artinya, Indonesia mengimpor minyak sekitar 1 juta bph.
“Nah kembali lagi pada urusan minyak nih. Bapak-Ibu semua ini minyak ini ngeri-ngeri sedap. Kenapa? Dari total 1,6 juta barrels per day berarti kan kita harus import 1 juta barel. Selat Hormuz ditutup. 20 sampai 25% perut kita untuk menyuplai dalam negeri itu dari Selat Hormuz,” tuturnya.
“Begitu ditutup ada dua tentangannya. Satu adalah kepastian supply, yang kedua adalah harga. Oh putaran otak kita. Saya tanya kepada beberapa pakar-pakar minyak dari ITB, dari mana-mana yang ahli nih. Saya bilang, kalau begini gimana caranya? Oh dikasih kaji yang tebal-tebal. Belum saya baca udah mual. Apalagi mencari solusi,” ucapnya.
“Jadi saya ingin mengatakan mengelola negara di era seperti ini baca buku penting, tapi harus cepat membuat kesimpulan. Jangan baca buku terus. Kalau baca buku terus tidak akan selesai,” ujarnya.
“Ini kan paralel. Negara mencari supply, harga harus ditekan. Tapi Bapak-Ibu semua, karena saya dulu pengusaha, karena setiap ada kesulitan selalu di situ ada keuntungan.
Saya selalu berpikir dulu di mana orang susah di situ saya masuk. Karena sedikit orang masuk ke situ pasti peluang banyak. Jadi dulu waktu saya jadi pengusaha selalu mencari kesusahan. Karena kalau enak pasti orang banyak di situ. Kalau susah orang sedikit. Kita mencari formulasi, kemudian kita mengalihkan crude kita dari Middle East ke beberapa negara lain, di Afrika, di Angola, di mana-mana kita cari. Itu sudah clear,” jelasnya.
“Yang menjadi masalah adalah harga. Harga kita Bapak-Ibu semua sekarang sudah mencapai 106 dolar per barel. Sekarang ini. Rata-rata nasional dari Januari sampai dengan bulan September itu kurang lebih sekitar 85-90 dolar per barel. Di target APBN kita itu 70 dolar per barrel per day. Jadi bayangkan berapa subsidi kita, Bapak-Ibu semua. Putar otak lagi,” tuturnya.
“Saya katakan kepada Bapak Presiden, Pak, ini urusan energi, ini urusan hajat hidup orang banyak. Kita harus mampu membuat rumusan kebijakan yang sekalipun kondisi global itu terjadi yang luar biasa tapi kepastian terhadap harga harus kita janji. Bapak-Ibu semua, kita putar otak segala macam, saya tidak mungkin menceritakan semuanya, karena kalau saya menceritakan semuanya, nggak cukup waktu. Bisa-bisa habis saya cerita, kalian bisa buat dua buku itu,” tuturnya.
“Yang ujung kesimpulannya adalah yang ujungnya adalah Bapak-Ibu semua, kita sekarang mendapat crude dari beberapa negara, termasuk Rusia. Waktu saya melakukan negosiasi dengan Menteri Energi Rusia, orang mengatakan bagaimana dengan negara lain, Adidaya dan segala macam. Saya katakan negara Indonesia ini negara merdeka, kita mengandung masa politik bebas aktif, kita juga mengandung masa ekonomi bebas aktif, karena itu tidak boleh ada satu negara yang bisa mengintervensi atau mengatur negara kesatuan Republik Indonesia. Yang penting barang ada dan murah. Itu yang paling penting,” paparnya.
“Jadi, urusan ini mau dari laut sana, laut sini, langit sana, nggak penting. Yang penting ada barang. Harga murah. Dan sampai dengan sekarang, Alhamdulillah, sudah kita commit Bapak-Ibu semua, untuk harga subsidi, harga subsidi, sampai dengan 31 Desember, berapa pun harganya di dunia, tidak akan kita naikkan. Karena itu memang kita lakukan,” tandasnya.
(ven/wia)
Leave a comment