
Jakarta, CNBC Indonesia – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menilai dinamika geopolitik global dan konflik antarnegara saat ini masih diselimuti ketidakpastian. Ketidakpastian tersebut diibaratkan Bahlil seperti penyakit malaria, sehingga diperlukan strategi khusus untuk mengamankan pasokan energi di dalam negeri.
Bahlil menegaskan bahwa eskalasi konflik global, termasuk yang terjadi di Timur Tengah, saat ini menuntut setiap negara untuk mengutamakan pemenuhan kebutuhan energi domestik.
“Ketegangan antara Iran, Amerika, dan Israel belum ada tanda-tanda kapan berakhir. Sekalipun hampir tiap malam dan tiap hari kita dipertontonkan dengan perkembangan negosiasi yang difasilitasi oleh beberapa negara. Tetapi sesungguhnya negosiasi itu belum ada ujungnya ke mana. Bahkan, saya selalu menganalogikan ini seperti penyakit malaria; pagi sembuh, malam kumat lagi. Jadi ini yang bisa tahu hanya mereka dan Tuhan. Dalam kondisi seperti ini, kita pasti harus berpikir mensiasati bagaimana memastikan kebutuhan domestik masing-masing negara,” ungkapnya dalam acara InTechSea 2026, di Four Seasons Hotel Jakarta, dikutip Selasa (15/9/2026).
Upaya pengamanan energi domestik dinilai penting lantaran konsumsi BBM nasional saat ini mencapai 1,6 juta barel per hari (bph). Di sisi lain, capaian produksi atau lifting minyak bumi dalam negeri saat ini berada di kisaran 600.000-610.000 bph. Artinya, Indonesia masih mengimpor sekitar 1 juta bph.
“Pak Rektor, hampir semua dunia sekarang, ketika kita ketemu dengan semua menteri-menteri energi di dunia, itu selalu berpikir tentang bagaimana memastikan kepentingan domestiknya dulu, baru dia memikirkan negara lain. Percaya sama saya. Karena itu, kita harus berpikir bagaimana memenuhi kebutuhan dalam negeri kita dulu,” paparnya.
Ketimpangan konsumsi dan produksi membuat Indonesia harus mengimpor 1 juta bph minyak, dengan 20% hingga 25% pasokan minyak mentah melewati Selat Hormuz.
Selain itu, harga minyak dunia sempat menyentuh US$ 106 per barel, melampaui asumsi APBN sebesar US$ 70 per barel, dengan rata-rata Januari sampai September sudah mencapai kisaran US$ 85-90 per barel.
“Waktu saya melakukan negosiasi dengan Menteri Energi Rusia, orang mengatakan bagaimana dengan negara lain, adidaya dan segala macam? Saya katakan negara Indonesia ini negara merdeka, kita menganut mazhab politik bebas aktif, kita juga menganut mazhab ekonomi bebas aktif. Karena itu tidak boleh ada satu negara yang bisa mengintervensi atau mengatur Negara Kesatuan Republik Indonesia. Yang penting barang ada dan murah, itu yang paling penting,” tutur Bahlil.
Untuk menekan biaya, pemerintah mengalihkan pengadaan minyak mentah dari Timur Tengah ke beberapa negara di Afrika dan Angola, serta mengamankan komitmen pengadaan dari Rusia. Langkah pengadaan pasokan terjangkau tersebut dilakukan untuk menjamin harga BBM bersubsidi tidak naik hingga akhir tahun 2026.
“Dan sampai dengan sekarang alhamdulillah sudah kita komit Bapak, Ibu semua, untuk harga subsidi, harga subsidi sampai dengan 31 Desember, berapa pun harganya di dunia, tidak akan kita naikkan,” tandasnya.
(wia)
Leave a comment