
Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com
Berapa luas ruang yang dibutuhkan sebuah perusahaan untuk membuktikan bahwa penyandang disabilitas benar-benar termasuk di dalamnya? Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana. Jawabannya bahkan lebih sederhana: satu meter persegi!
Selama ini, inklusi penyandang disabilitas sering dibicarakan dalam ruang yang jauh lebih besar. Ada seminar, pelatihan, kampanye, program tanggung jawab sosial perusahaan, hingga laporan keberlanjutan yang memuat komitmen terhadap keberagaman dan kesetaraan.
Semua penting. Tetapi ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: setelah seminar selesai, setelah sertifikat pelatihan diberikan, dan setelah laporan tahunan diterbitkan, ke mana penyandang disabilitas harus pergi untuk menjual hasil kerja mereka?
Pertanyaan tersebut penting karena persoalan penyandang disabilitas bukan semata-mata persoalan keterampilan. Banyak penyandang disabilitas memiliki keterampilan dan menghasilkan produk. Ada makanan olahan, kerajinan, fesyen, produk rumah tangga, hingga berbagai karya kreatif. Masalahnya muncul ketika produk tersebut harus bertemu dengan pasar.
Ekosistem yang juga Inklusif
Produksi bisa dilakukan dari rumah. Pelatihan bisa diberikan di berbagai tempat. Tetapi pelanggan tidak selalu datang dengan sendirinya. Di sinilah terdapat persoalan yang sering luput dalam pembicaraan tentang pemberdayaan ekonomi penyandang disabilitas. Kita terlalu mudah mengatakan bahwa mereka harus mandiri secara ekonomi, tetapi belum cukup serius membicarakan ekosistem yang memungkinkan kemandirian tersebut terjadi.
Penyandang disabilitas diminta menjadi pelaku usaha. Namun, ketika sudah menjadi pelaku usaha, pasar belum tentu terbuka. Akibatnya, pemberdayaan ekonomi berisiko berhenti sebagai kegiatan, bukan menjadi perubahan.
Pesanan datang ketika ada acara. Produk dibeli ketika ada kegiatan sosial. Setelah itu, pesanan kembali sepi. Dalam situasi seperti ini, produk penyandang disabilitas secara tidak langsung ditempatkan dalam posisi yang berbeda dari produk lainnya. Produk dibeli bukan karena kualitas dan daya saingnya, melainkan karena simpati.
Padahal, inklusi seharusnya justru menghapus cara pandang seperti itu.
Penyandang disabilitas tidak membutuhkan pasar yang merasa kasihan. Yang dibutuhkan adalah pasar yang memberikan kesempatan untuk bersaing secara wajar.
Karena itu, korporasi dapat mengambil peran yang lebih konkret. Bukan sekadar memberikan bantuan, melainkan membuka akses pasar.
Caranya bahkan tidak harus rumit. Setiap perusahaan dapat menyediakan satu ruang kecil, misalnya satu kali satu meter, di lobi, kantin, ruang tunggu, atau area publik kantor. Ruang itu menjadi Corner Karya Disabilitas, tempat produk usaha penyandang disabilitas ditampilkan dan dijual.
Perusahaan menyediakan ruang. Pelaku usaha menyediakan produk. Produk dikurasi agar memenuhi standar kualitas, kemasan, harga, dan keamanan yang layak. Penjualan dilakukan dengan sistem konsinyasi dan dicatat secara transparan.
Kesederhanaan Mekanisme
Tidak perlu ada uang perusahaan yang mengendap. Tidak perlu pula menjadikan transaksi sebagai pemberian. Ada produk, ada harga, ada pembeli, ada pembayaran.
Justru kesederhanaan mekanisme tersebut yang membuat gagasan ini penting. Sebab selama ini kita sering menganggap inklusi harus selalu berbentuk program. Padahal, inklusi juga dapat dibangun melalui kebiasaan dan mekanisme bisnis sehari-hari.
Kantor adalah salah satu tempat yang potensial. Setiap hari terdapat ratusan orang yang bekerja di dalamnya. Mereka membeli makanan, minuman, suvenir, kebutuhan rapat, hampers, atau berbagai produk lainnya. Dalam skala korporasi, kebutuhan tersebut bukan transaksi kecil. Pertanyaannya, mengapa sebagian dari kebutuhan itu tidak diarahkan kepada produk yang dihasilkan oleh pelaku usaha penyandang disabilitas?
Jawabannya tentu tidak selalu mudah. Perusahaan memiliki standar kualitas, kebutuhan volume, ketepatan waktu, dan harga yang harus dipenuhi. Karena itu, Corner Karya Disabilitas juga tidak boleh berubah menjadi ruang pajangan yang hanya memenuhi kewajiban moral.
Produk harus benar-benar layak jual. Pelaku usaha juga harus memperoleh pendampingan agar mampu memenuhi standar pasar. Di sinilah pendekatan inklusi menjadi lebih serius. Perusahaan tidak hanya menyediakan meja, tetapi membuka pintu menuju ekosistem ekonomi.
Jika produk belum memenuhi standar, bantu pelaku usaha memperbaikinya. Jika kemasan belum menarik, bantu meningkatkan kualitas kemasan. Jika kapasitas produksi belum cukup, bantu membangun jaringan usaha. Jika pencatatan keuangan belum tertib, berikan pendampingan. Dengan demikian, satu meter persegi bukan sekadar tempat menjual barang. Satu meter itu menjadi pintu masuk ke pasar yang lebih luas.
Bagi perusahaan, langkah tersebut juga dapat menjadi bagian dari praktik keberlanjutan. Selama ini, pembicaraan mengenai ESG sering terdengar jauh dari kehidupan sehari-hari. Ada target, indikator, laporan, dan berbagai istilah teknis.
Namun, bukankah nilai sosial perusahaan pada akhirnya harus terlihat dalam kehidupan orang yang berada di sekitarnya? Sebuah perusahaan dapat menulis panjang tentang keberagaman dalam laporan keberlanjutan. Tetapi ukuran yang lebih sederhana adalah melihat siapa yang mendapatkan kesempatan untuk menjadi pemasok, siapa yang mendapatkan akses pasar, dan siapa yang memperoleh manfaat ekonomi dari aktivitas perusahaan.
Di situlah inklusi diuji. Bayangkan jika 100 perusahaan di Jabodetabek menyediakan satu corner. Akan ada 100 titik pemasaran baru. Jika setiap titik menghasilkan rata-rata transaksi Rp2 juta per bulan, potensi perputaran ekonominya mencapai Rp200 juta per bulan.
Angka tersebut tentu merupakan ilustrasi, bukan jaminan. Namun, ilustrasi sederhana itu memperlihatkan bahwa ruang yang sangat kecil dapat membuka aktivitas ekonomi yang lebih besar.
Lebih jauh, pendekatan tersebut dapat mengubah relasi antara perusahaan dan penyandang disabilitas. Selama ini hubungan sering dibangun dengan pola pemberi dan penerima. Perusahaan memiliki sumber daya, sementara penyandang disabilitas diposisikan sebagai penerima manfaat.
Hubungan seperti itu memang dapat membantu, tetapi memiliki batas. Ketika anggaran program berakhir, hubungan pun dapat berakhir. Hubungan perdagangan berbeda. Dalam transaksi, kedua pihak memiliki kepentingan. Pelaku usaha membutuhkan pembeli. Perusahaan membutuhkan produk. Konsumen membutuhkan barang yang berkualitas. Hubungan berlangsung selama masing-masing pihak memperoleh nilai.
Inilah yang membuat akses pasar menjadi lebih penting daripada sekadar bantuan. Tentu saja, Corner Karya Disabilitas bukan solusi untuk seluruh persoalan ekonomi penyandang disabilitas. Satu meja tidak akan menyelesaikan diskriminasi di tempat kerja. Satu etalase tidak otomatis menghapus kesenjangan akses pembiayaan, teknologi, pendidikan, transportasi, maupun pasar digital.
Namun, kebijakan publik dan praktik korporasi tidak selalu harus menunggu solusi yang sempurna untuk mulai melakukan sesuatu. Kadang-kadang, perubahan justru dimulai dari tindakan yang sangat konkret. Kita perlu berhenti mengukur inklusi hanya dari banyaknya kegiatan yang diselenggarakan.
Ukuran yang lebih penting adalah apakah kegiatan tersebut menghasilkan perubahan dalam kehidupan. Berapa banyak pelaku usaha disabilitas yang memperoleh pelanggan baru? Berapa banyak yang memiliki pasar berulang? Berapa banyak produk mereka yang masuk ke rantai pasok perusahaan? Dan berapa banyak perusahaan yang benar-benar bersedia membuka ruang?
Pada akhirnya, persoalan inklusi bukan hanya soal apakah penyandang disabilitas diberi tempat. Persoalannya adalah apakah tempat tersebut memungkinkan mereka berdiri sebagai subjek yang setara. Satu meter persegi mungkin terlalu kecil untuk disebut sebagai kebijakan besar.
Tetapi mungkin justru di situlah kita dapat menguji keseriusan sebuah perusahaan terhadap inklusi. Bukan dari seberapa indah komitmen ditulis. Bukan dari seberapa meriah seminar diselenggarakan. Melainkan dari apakah sebuah perusahaan bersedia menggeser satu meja, membuka satu ruang, dan mengatakan: produk Anda layak berada di sini karena memang layak dibeli.
(miq/miq)
Leave a comment