
Jakarta, CNBC Indonesia – Mata uang Asia banyak yang tertekan pada pekan ini di tengah lonjakan dolar Amerika Serikat (AS).
Pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (2/10/2026), nilai tukar rupiah berhasil berbalik menguat dan mengakhiri perdagangan di posisi Rp17.868/US$.
Penguatan pada akhir pekan membuat rupiah masih mampu mencatat kinerja positif secara mingguan. Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda menguat tipis 0,07% sepanjang pekan ini.
Kinerja rupiah terbilang lebih baik dibandingkan sebagian besar mata uang Asia. Pasalnya, dolar AS justru sedang berada dalam tren penguatan kuat, ditopang tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS dan ekspektasi suku bunga The Federal Reserve/The Fed yang masih tinggi.
Mayoritas Mata Uang Asia Melemah
Tekanan dolar AS cukup terasa di kawasan Asia sepanjang pekan.
Merujuk data Refinitiv, dari 10 mata uang Asia yang dipantau, sebanyak tujuh mata uang melemah terhadap dolar AS. Hanya won Korea Selatan, yuan China, dan rupiah yang mampu mencatat penguatan.
Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan kinerja paling kuat setelah menguat 0,82% sepanjang pekan ke posisi KRW1.342,53/US$.
Yuan China menyusul dengan penguatan 0,12%, sedangkan rupiah naik tipis 0,07%.
Di sisi lain, baht Thailand mengalami tekanan paling dalam dengan pelemahan 0,45%. Yen Jepang turun 0,36%, disusul dolar Taiwan yang terkoreksi 0,30% dan ringgit Malaysia sebesar 0,27%.
Peso Filipina melemah 0,15%, dolar Singapura turun 0,13%, sementara dong Vietnam terkoreksi tipis 0,04%.
Tekanan terhadap mayoritas mata uang Asia tidak lepas dari kuatnya dolar AS sepanjang pekan.
Indeks dolar AS atau DXY tercatat menguat 0,95% secara mingguan ke posisi 101,932. Penguatan tersebut membuat dolar AS membukukan kenaikan selama tiga pekan berturut-turut.
Salah satu penopangnya adalah imbal hasil obligasi pemerintah AS yang masih sangat tinggi. Yield Treasury AS tenor 10 tahun pada Jumat berada di sekitar 5,19%, tidak jauh dari level tertinggi dalam beberapa dekade.
Imbal hasil yang tinggi membuat aset AS tetap menarik bagi investor dan menjaga permintaan terhadap dolar.
Tekanan juga datang dari pasar obligasi Eropa. Kekhawatiran terhadap kondisi fiskal dan politik sejumlah negara, terutama Prancis dan Italia, mendorong aksi jual obligasi pemerintah di kawasan tersebut dan ikut membuat dolar relatif lebih menarik.
Harga minyak yang masih tinggi juga menjadi faktor lain. Negara-negara yang banyak mengimpor energi menghadapi tekanan lebih besar karena kenaikan biaya minyak dapat memperburuk neraca perdagangan sekaligus meningkatkan inflasi.
Kondisi tersebut ikut membebani sejumlah mata uang, termasuk yen Jepang.
Data Tenaga Kerja AS Sedikit Redam Dolar
Dolar AS sebenarnya sempat kehilangan sebagian tenaganya pada perdagangan Jumat setelah laporan tenaga kerja AS menunjukkan hasil yang lebih lemah dari perkiraan.
Pertumbuhan lapangan kerja AS pada September berada di bawah perkiraan ekonom, sementara tingkat pengangguran naik tipis menjadi 4,2%.
Data tersebut sedikit meredakan kekhawatiran bahwa The Fed harus kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
“Kalau melihat keseluruhan data tenaga kerja, menurut saya angkanya cukup pas. Aktivitas ekonomi masih cukup kuat, tetapi belum menimbulkan tekanan inflasi yang besar,” ujar Dominic Bunning, kepala strategi valuta G10 Nomura, dikutip dari Reuters.
Menurut Bunning, kondisi tersebut masih cukup baik bagi perekonomian karena pasar tenaga kerja belum menunjukkan pelemahan tajam, tetapi juga tidak terlalu panas hingga memicu tekanan harga baru.
Pasar pun mulai mengurangi perkiraan kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober. Berdasarkan CME FedWatch, pelaku pasar kini memperkirakan peluang 86% The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan bulan ini, jauh lebih tinggi dibandingkan 36% pada pekan sebelumnya.
Namun, perubahan ekspektasi tersebut belum cukup untuk menghapus penguatan dolar AS yang sudah terjadi sepanjang pekan.
Imbal Hasil Tinggi dan Harga Minyak Masih Topang Dolar AS
Dolar AS masih mendapat dukungan dari tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS serta kekhawatiran terhadap kondisi fiskal di sejumlah negara Eropa.
Harga minyak yang masih tinggi juga ikut menopang dolar AS. Kenaikan harga energi membuat investor mengurangi kepemilikan pada mata uang negara-negara yang sangat bergantung pada impor energi, termasuk euro dan yen.
Euro berada di jalur pelemahan terhadap dolar AS selama empat pekan berturut-turut, periode penurunan terpanjang sejak Mei 2025.
Sementara itu, dolar AS juga berada di jalur penguatan terhadap yen selama tiga pekan berturut-turut.
Tekanan di Eropa semakin besar karena kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Prancis dan Italia. Imbal hasil obligasi pemerintah Prancis tenor 10 tahun bahkan sempat melonjak ke level tertinggi sejak 2002.
Selisih imbal hasil obligasi pemerintah Prancis dan Jerman juga melebar hingga lebih dari 150 basis poin, terbesar sejak akhir 2011.
Kombinasi imbal hasil obligasi AS yang tinggi, harga minyak yang masih mahal, serta kekhawatiran fiskal di Eropa membuat dolar AS tetap diminati oleh pelaku pasar.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/luc)
Leave a comment