Home Finance Trump Mau Terapkan Program MBG, Sekolah AS Ternyata Tak Siap
Finance

Trump Mau Terapkan Program MBG, Sekolah AS Ternyata Tak Siap

Share
Trump Mau Terapkan Program MBG, Sekolah AS Ternyata Tak Siap
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Upaya pemerintahan Presiden Donald Trump mendorong sekolah di Amerika Serikat menyajikan lebih banyak makanan segar dan mengurangi makanan ultra-proses terbentur masalah fasilitas, tenaga kerja hingga anggaran.

Gambaran itu terlihat di Thomas Hooker Elementary School, Connecticut. Tiga pekerja kafetaria harus menyiapkan makan siang untuk sekitar 300 siswa dengan ruang dan peralatan yang sangat terbatas.

Nugget ayam beku hanya perlu dilumuri saus dan dipanaskan. Patty hamburger yang sudah jadi diberi keju, sementara sayuran dan buah disajikan sebagai pelengkap. Sekolah tersebut dibangun pada 1960-an tanpa dapur karena saat itu banyak siswa pulang untuk makan siang.

Kini, Meriden Public Schools menyulap tiga ruang kecil menjadi dapur. Meja pengelola kafetaria hanya beberapa meter dari bak pencuci panci, sementara kompor, lemari pendingin dan peralatan lainnya berada di ruangan berbeda.

Direktur layanan makanan dan nutrisi distrik, Susan Maffe, menyebut kondisi tersebut “jelas sangat menantang.”

Persoalan itu menjadi gambaran tantangan yang dihadapi banyak sekolah setelah pemerintahan Trump mendorong peningkatan makanan yang dimasak dari bahan segar sebagai bagian dari gerakan Make America Healthy Again.

Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan Robert F. Kennedy Jr. mengatakan sekolah perlu memperbanyak makanan segar, biji-bijian utuh dan protein berkualitas, sekaligus mengurangi gula tambahan dan makanan ultra-proses.

“Kita perlu memperluas kegiatan memasak dari awal, mengurangi gula tambahan dan makanan ultra-proses, menyajikan lebih banyak produk segar, biji-bijian utuh dan protein berkualitas tinggi,” kata Kennedy, dikutip dari CNN, Sabtu (3/10/2026).

US Department of Agriculture (USDA) kemudian menjanjikan hibah peralatan senilai US$ 70 juta.HHS juga akan menginvestasikan US$30 juta untuk mencari cara yang hemat biaya agar makanan sekolah lebih sehat.

Namun, pengelola makanan sekolah menilai dana tersebut masih sangat kecil dibanding kebutuhan.

“US$70 juta tidak akan banyak berarti jika harus dibagi ke 50 negara bagian,” kata Gay Anderson dari School Nutrition Foundation.

Meriden sendiri menghabiskan lebih dari US$300.000 untuk pembelian dan perbaikan peralatan tahun lalu.Namun,Connecticut hanya akan menerima US$209.000 dari pencairan awal hibah USDA untuk seluruh negara bagian.

Survei School Nutrition Association menunjukkan hanya 16% distrik sekolah di AS yang setiap hari menyajikan setidaknya sebagian makanan yang dibuat dari awal. Sekitar 71% melakukannya setidaknya sekali dalam sepekan.

Lebih dari 93% distrik mengatakan mereka membutuhkan tambahan staf, pelatihan kuliner, peralatan dan infrastruktur untuk mengurangi ketergantungan pada makanan ultra-proses.

Masalah tenaga kerja juga besar. Banyak sekolah tidak memiliki staf kafetaria penuh waktu karena pekerja dapat memperoleh penghasilan lebih tinggi di sektor ritel atau pergudangan. Memasak dari awal juga membutuhkan pelatihan khusus untuk menangani bahan mentah, mengikuti standar nutrisi dan menggunakan peralatan dapur secara aman.

Di Meriden, biaya makan siang mencapai sekitar US$5,07 per porsi tahun lalu.Namun,penggantian dana federal hanya sekitar US$4,80 per porsi, menciptakan kekurangan anggaran sekitar US$250.000.

Maffe khawatir jika standar nutrisi baru nantinya mewajibkan lebih banyak makanan segar.

“Saya tidak tahu bagaimana saya akan melakukannya. Sungguh, saya benar-benar tidak tahu,” katanya.

Meski demikian, beberapa distrik mulai menunjukkan hasil. Littleton Public Schools di Colorado tahun lalu membuka dapur produksi pusat senilai US$4 juta untuk memperbanyak makanan yang dimasak dari awal.

Tiga koki di fasilitas itu menyiapkan muffin zucchini, campuran pancake, cabai, taco dengan daging sapi lokal, chicken pot pie, saus marinara hingga campuran rempah. Makanan kemudian diselesaikan di 21 sekolah.

Sebelumnya, hanya sekitar seperempat menu makan siang yang dibuat dari awal. Setelah dapur pusat beroperasi, porsinya meningkat lebih dari dua kali lipat.

Namun, perubahan menu juga menghadapi tantangan selera siswa.

“Sebagian anak sudah terbiasa dengan Kraft mac and cheese,” kata Jessica Gould, direktur layanan nutrisi. “Kami sedang mencoba membuat lompatan besar di sini. Membuat selera mereka mengikuti perubahan ini akan menjadi tantangan kami berikutnya.”

 

(luc/luc)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *