Home Finance Peternak Telur Ayam Ngadu ke DPR, Hidup Lagi Susah-susahnya karena Ini
Finance

Peternak Telur Ayam Ngadu ke DPR, Hidup Lagi Susah-susahnya karena Ini

Share
Peternak Telur Ayam Ngadu ke DPR, Hidup Lagi Susah-susahnya karena Ini
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Peternak ayam petelur mengadu ke DPR RI karena semakin kesulitan menjalankan usaha akibat tingginya biaya pakan dan rendahnya harga jual telur. Bahkan, sebagian peternak disebut sudah tidak sanggup memberi makan ayam hingga memilih mengosongkan kandang.

Hal tersebut disampaikan Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) wilayah Jawa Tengah, Suwardi, dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU) dengan Komisi IV DPR RI, Rabu (7/10/2026).

Suwardi mengatakan, tekanan terhadap peternak telah terjadi sejak April 2026. Kondisi tersebut dipicu oleh biaya produksi yang terus meningkat, sementara harga telur yang diterima peternak justru berada jauh di bawah harga acuan pembelian (HAP) yang ditetapkan pemerintah.

“Bagi kami sejak bulan April 2026 sampai dengan hari ini, bahwa biaya ongkos produksi dan hasil produksi sangat tidak balance (seimbang),” kata Suwardi dalam rapat.

Menurut dia, salah satu persoalan terbesar adalah mahal dan terbatasnya ketersediaan jagung. Jagung merupakan bahan baku utama pakan ayam petelur dengan porsi mencapai 50%.

“Karena apa, dengan harga jagung yang sudah tinggi, ketersediaan jagungnya sangat terbatas. Kami harus bagaimana. Karena jagung porsinya 50% belum bisa diganti oleh apapun bagi kami peternak rakyat,” ujarnya.

Ia memaparkan, harga jagung KA 15 pipil kering saat ini disebut telah mencapai sekitar Rp7.500-Rp8.000 per kilogram (kg). Sementara harga bungkil kedelai yang menjadi bahan baku pakan juga tinggi sehingga harga konsentrat di pasaran mencapai Rp9.000-Rp9.500 per kg.

Selain itu, harga katul yang sebelumnya berada di kisaran Rp3.500-Rp4.000 per kg disebut telah naik menjadi sekitar Rp6.000 per kg.

Dengan komposisi pakan 50% jagung, 15% katul dan 35% konsentrat, peternak menghitung biaya pakan mencapai sekitar Rp8.155 per kg.

“Formulasi ini jika kita hitung hari ini, dengan kondisi jagung rata-rata hampir Rp8.000 diterima oleh peternak. Ini ketemu komposisi harga pakan adalah Rp8.155 (per kg),” jelasnya.




Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi IV DPR RI dengan Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar), Rabu (7/10/2026). (Tangkapan Layar/YouTube TV Parlemen)Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi IV DPR RI dengan Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar), Rabu (7/10/2026). (Tangkapan Layar/YouTube TV Parlemen) Foto: Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi IV DPR RI dengan Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar), Rabu (7/10/2026). (Tangkapan Layar/YouTube TV Parlemen)

Harga Telur di Bawah HAP

Di tengah kenaikan biaya produksi, Suwardi mengatakan harga telur di tingkat peternak justru masih jauh di bawah harga acuan pemerintah. Berdasarkan Peraturan Badan Pangan Nasional (Perbadan) Nomor 6 Tahun 2024, harga pembelian telur di tingkat peternak disebut berada di angka Rp26.500 per kg. Namun, sejak April 2026 harga yang diterima peternak rata-rata hanya Rp19.000-Rp20.000 per kg.

Bahkan, Suwardi menyebut harga telur sempat jatuh ke titik terendah Rp17.100 per kg pada Juni 2026.

Jika dirata-ratakan dalam enam bulan terakhir, harga telur yang diterima peternak hanya sekitar Rp20.000-Rp21.000 per kg. Kondisi tersebut membuat peternak diperkirakan mengalami kerugian Rp5.000-Rp7.000 per kg setiap hari. Tekanan tersebut membuat sebagian peternak mulai kesulitan mempertahankan ayamnya.

“Kami datang ke sini sebetulnya hatinya sangat merintih. Karena apa, kita sudah piara (memelihara) nyawa, jika tidak dikasih pakan kita akan lebih berdosa,” ucap Suwardi.

Ia bahkan menyebut ada peternak yang sudah mengosongkan kandangnya karena tidak mampu lagi membeli pakan.

“Hari ini para peternak, kalau orang Jawa bilang, ayam bisa makan pohon sengon, bisa makan pohon mahoni, yang punya sapi bisa makan sapi, bahkan hari ini ada sebagian teman-teman kami yang kandangnya sudah melompong kosong. Karena sudah tidak sanggup lagi untuk ngasih pakan ayam itu,” ujarnya.

Suwardi pun meminta pemerintah memastikan ketersediaan jagung untuk peternak rakyat. Ia mengatakan, para peternak setidaknya membutuhkan 223.000 ton jagung untuk periode Oktober 2026 hingga Februari 2027.

Kebutuhan tersebut menjadi perhatian karena peternak juga memperkirakan adanya kemarau panjang dan ancaman El Nino dalam lima bulan ke depan.

“Dalam 5 bulan ke depan dengan adanya kemarau yang panjang, adanya El Nino, kami estimasi butuh jagung 223.000 ton estimasi, akan digunakan sampai dengan bulan Februari. Kalau ini tidak ada jagung, kami harus bagaimana,” kata dia.

Ia mengatakan peternak bahkan kesulitan mendapatkan jagung meski memiliki uang untuk membeli.

“Kadang kita ada sedikit uang membeli jagung saja kita berebut,” ujarnya.

Selain meminta kepastian pasokan jagung dengan harga yang wajar, peternak juga meminta pemerintah menyerap telur rakyat melalui berbagai program pemerintah, termasuk bantuan pangan.

Menurut Suwardi, produksi telur peternak saat ini menumpuk karena rendahnya permintaan dan harga jual. Kondisi tersebut bahkan membuat sebagian telur tidak terserap pasar.

“Mudah-mudahan salah satunya Bapanas bisa gunakan telur untuk bantuan pangan pemerintah,” kata dia.

Tak hanya itu, mereka juga meminta evaluasi tata niaga impor bahan baku pakan, khususnya bungkil kedelai dan turunannya, agar biaya produksi dapat ditekan.

Peternak turut meminta program pemerintah melalui Danantara tidak mengambil alih kegiatan budidaya ayam petelur yang selama ini dilakukan peternak rakyat.

Sebaliknya, Danantara diharapkan membantu pengembangan industri hilir, terutama di daerah yang mengalami kelebihan produksi telur, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah dan Lampung.

“Kembalikan budidaya kepada rakyat. Bahwa kita sudah mampu untuk berbudidaya, kita sudah mampu untuk swasembada. Hanya sedikit penyebarannya yang kurang merata,” ujar Suwardi.

Peternak mengusulkan pembangunan industri hilir seperti pabrik tepung telur dan tepung daging ayam. Menurutnya, langkah tersebut dapat membantu menyerap produksi telur maupun daging ayam, ketika terjadi kelebihan pasokan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.

Di hadapan Komisi IV DPR RI, Suwardi berharap pemerintah segera memberikan solusi agar peternak rakyat tetap bisa bertahan.

“Kalau tidak ada titik solusi, pulang tidak bisa kasih makan. Mau di Jakarta kita tidak punya uang. Apakah mungkin kami para peternak harus menjadi gembel di Jakarta,” tuturnya.

“Harapan dari kami sekali lagi. Kami tolong disediakan jagung untuk kami dengan harga yang seimbang. Sehingga kami bisa terus untuk melanjutkan usaha kami, peternak ayam untuk menghidupi keluarga kami,” pungkas Suwardi.

(wur)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *