Home Finance Putin Tak Kunjung Tumbang, Eropa Mulai Dihadapkan pada Pilihan Sulit
Finance

Putin Tak Kunjung Tumbang, Eropa Mulai Dihadapkan pada Pilihan Sulit

Share
Putin Tak Kunjung Tumbang, Eropa Mulai Dihadapkan pada Pilihan Sulit
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – Lebih dari empat tahun setelah Rusia melancarkan invasi besar-besaran ke Ukraina, Eropa menghadapi dilema. Perang semakin mahal bagi Moskow, tetapi tekanan ekonomi belum membuat Presiden Rusia Vladimir Putin menghentikan agresinya.

Dalam artikel berjudul Vladimir Putin and the pariah problem, The Economist menyoroti keterbatasan strategi mengucilkan Putin. Eropa memiliki alasan kuat untuk mengecam Rusia, tetapi mengakhiri perang mungkin tetap membutuhkan perundingan dengan pemimpin yang mereka kecam.

Persoalannya adalah bagaimana menghentikan pertempuran tanpa membiarkan Rusia memperoleh kemenangan yang membahayakan Ukraina dan keamanan Eropa.

Tekanan Ekonomi dan Biaya Perang

Selama perang berlangsung, strategi sekutu Ukraina bertumpu pada prinsip “Russia must not win and Ukraine must not lose“, atau Rusia tidak boleh menang dan Ukraina tidak boleh kalah.

Bantuan persenjataan serta keuangan diberikan agar Ukraina mampu bertahan. Sementara itu, sekutu Ukraina menerapkan sanksi terhadap Rusia, termasuk pembekuan aset, pembatasan akses perbankan internasional, pembatasan ekspor teknologi, serta pembatasan perdagangan minyak. Langkah tersebut ditujukan untuk menekan pendapatan dan akses Rusia terhadap sumber daya pembiayaan perang, dengan harapan tekanan ekonomi mengubah perhitungan Putin atau memperbesar ketidakpuasan di dalam negeri.

Sanksi memang menambah hambatan bagi industri militer Rusia. Dalam laporan Trends in World Military Expenditure, 2025, Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menjelaskan bahwa perubahan rantai pasok untuk memperoleh komponen teknologi meningkatkan biaya pengadaan, antara lain karena pemasok baru mengenakan harga lebih tinggi.

Sebagai gambaran skala pengeluarannya, belanja militer Rusia mencapai sekitar US$190,4 miliar pada 2025, dibandingkan US$65,9 miliar pada 2021. Porsinya terhadap produk domestik bruto (PDB) juga meningkat dari sekitar 3,6% menjadi 7,5%.


Grafik tersebut menunjukkan seluruh belanja militer Rusia, bukan biaya perang Ukraina saja. Nilainya belum disesuaikan dengan inflasi dan dipengaruhi perubahan kurs, sehingga kenaikannya tidak dapat langsung dianggap sebagai ukuran keberhasilan sanksi.

Peningkatan belanja juga terjadi di negara-negara lain. SIPRI mencatat pengeluaran militer Eropa naik 14% menjadi US$864 miliar pada 2025, seiring berlanjutnya perang dan penguatan pertahanan kawasan.

Putin Belum Terisolasi

Besarnya biaya belum membuat Rusia menghentikan perang. The Economist mempertanyakan apakah tekanan ekonomi dan ketidakpuasan domestik akan cukup untuk mengubah keputusan Putin.

Ancaman terhadap Eropa juga tetap menjadi perhatian. Dalam rapat Bundestag pada 5 Oktober 2026, pimpinan intelijen Jerman menyebut Rusia sebagai tantangan keamanan terbesar. Kepala intelijen luar negeri Martin Jäger memperingatkan bahwa Moskow menguji respons Jerman dan dapat meningkatkan tekanan ketika melihat keraguan.

Kondisi tersebut memperkuat alasan Eropa mempertahankan dukungan bagi Ukraina. Di saat bersamaan, perang berkepanjangan meningkatkan risiko kelelahan pemilih yang dapat dimanfaatkan kelompok politik penentang bantuan.

Pengucilan Putin pun belum menyeluruh. The Economist menyoroti hubungan Rusia dengan China dan India sebagai contoh bahwa Moskow masih memiliki mitra penting.

Pada September 2026, pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga mengumumkan undangan kepada Putin untuk menghadiri KTT G20 di Florida pada Desember. Undangan ini memperlihatkan bahwa saluran diplomasi tetap terbuka, meski belum menjamin kehadiran Putin atau tercapainya kesepakatan damai.

Perdamaian yang Tak Ideal

Dilema berikutnya adalah kemungkinan bahwa berakhirnya pertempuran tidak sekaligus menghasilkan keadilan.

Seorang mantan pejabat AS yang dikutip The Economist memperkirakan Rusia mungkin tetap menguasai sebagian wilayah Ukraina dan Putin tidak menghadapi persidangan atas kejahatan perang. Pandangan tersebut merupakan perkiraan, bukan hasil perundingan yang telah disepakati.

Bagi Ukraina, keputusan mengenai perdamaian menyangkut kelangsungan hidup masyarakatnya. Jika Kyiv kelak menerima kesepakatan dengan syarat yang tidak ideal, The Economist menilai Eropa tidak sepatutnya meminta Ukraina terus berperang demi keamanan negara-negara lain.

Risikonya tetap besar. Gencatan senjata dapat memberi Rusia kesempatan memulihkan kekuatan dan menyiapkan agresi berikutnya. Karena itu, penghentian pertempuran perlu disertai dukungan yang menjaga kemampuan Ukraina mempertahankan diri.

Tantangan Eropa adalah menghubungkan tekanan terhadap Rusia dengan tujuan diplomatik yang realistis. Memperkuat Ukraina dan membatasi keuntungan Moskow tetap diperlukan, sambil mencari jalan mengakhiri perang yang menghormati keputusan Ukraina.

(slm/luc)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *