
Jakarta, CNBC Indonesia – Harga minyak mentah dunia kembali menguat pada perdagangan akhir pekan, Jumat (9/10/2026). Badai Isaias yang mendekati pesisir Amerika Serikat (AS) mengganggu produksi minyak di Teluk Meksiko dan memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Melansir Refinitiv, harga minyak mentah Brent naik 2,42% dalam sepekan, berbalik dari pelemahan 1,98% pada pekan sebelumnya. Brent ditutup di level US$104,72 per barel pada Jumat (9/10/2026).
Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,81% dalam sepekan, setelah turun 1,41% pada pekan sebelumnya, dan ditutup di posisi US$91,85 per barel.
Secara harian, Brent naik US$0,44 atau sekitar 0,42%, sedangkan WTI menguat US$0,36 atau 0,39%.
Penguatan tersebut terjadi ketika produsen energi AS menghentikan sebagian besar operasi lepas pantai sebagai langkah antisipasi terhadap Badai Isaias yang bergerak menuju pesisir Florida.
Badai Isaias Ganggu Produksi Minyak AS
Mengutip Reuters, produsen energi di Teluk Meksiko menghentikan sementara sekitar 1,5 juta barel produksi minyak per hari hingga Jumat (9/10/2026), setara hampir 72% dari total produksi minyak AS di kawasan tersebut.
Produksi gas alam juga terganggu, dengan penghentian sekitar 1,3 miliar kaki kubik per hari atau 59% dari produksi kawasan tersebut.
Penghentian operasi dilakukan menjelang kedatangan Badai Isaias yang diperkirakan mencapai pesisir Florida Panhandle pada Jumat malam waktu setempat.
Menurut National Hurricane Center (NHC), badai berada sekitar 90 kilometer dari Pensacola, Florida, dengan kecepatan angin maksimum mencapai 185 kilometer per jam. Peringatan angin ekstrem pun dikeluarkan untuk sebagian wilayah Florida Panhandle.
Gangguan ini berpotensi menekan pasokan energi AS, terutama jika badai merusak fasilitas produksi dan memperlambat pemulihan operasional. Besarnya dampak terhadap pasar akan bergantung pada durasi penghentian produksi serta kecepatan pemulihan setelah badai berlalu.
Badai Ancam Kilang dan Infrastruktur Energi AS
Gangguan akibat Badai Isaias tidak hanya terjadi pada produksi minyak mentah, tetapi juga berpotensi memengaruhi aktivitas pengolahan minyak di kawasan pesisir AS.
Mengutip Reuters, sebanyak 129 anjungan produksi atau sekitar 35% dari total 371 anjungan berawak di Teluk Meksiko telah dievakuasi. Delapan fasilitas pengeboran tambahan juga dikosongkan sebagai langkah antisipasi.
Sejumlah perusahaan energi besar, termasuk Shell dan Chevron, telah mengurangi atau menghentikan operasi di fasilitas lepas pantai. Penghentian tersebut dilakukan untuk melindungi pekerja dan infrastruktur menjelang kedatangan badai.
Menurut US Energy Information Administration (EIA), produksi minyak dari wilayah lepas pantai Teluk Meksiko mencapai sekitar 2 juta barel per hari, setara 15% dari total produksi minyak mentah AS.
Risiko juga membayangi kilang minyak di pesisir Teluk Meksiko. Gangguan listrik, banjir, maupun kerusakan infrastruktur dapat menghambat pengolahan minyak mentah menjadi bahan bakar, termasuk bensin dan diesel.
Meski demikian, fasilitas yang tidak mengalami kerusakan diperkirakan dapat kembali beroperasi setelah badai berlalu dan pemeriksaan keselamatan selesai dilakukan.
Trump dan Putin Sepakat Tambah Pasokan Diesel
Di tengah gangguan produksi akibat badai, pasar energi juga mendapat sentimen baru dari rencana penambahan pasokan diesel Rusia.
Presiden AS Donald Trump pada Jumat (9/10/2026) mengumumkan bahwa Rusia sepakat memasok lebih dari 300.000 ton diesel ke pasar AS dan global setelah pembicaraannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Melansir Reuters, kesepakatan tersebut juga mencakup rencana pengiriman tambahan 500.000 ton pada November dan 1 juta ton setelahnya. Trump turut menyampaikan rencana pasokan lanjutan sebesar 3 juta ton dalam waktu relatif singkat, bergantung pada kondisi kilang Rusia.
Kesepakatan tersebut bertujuan meredakan tekanan harga bahan bakar yang masih tinggi akibat gangguan pasokan energi global.
Langkah ini menjadi faktor yang berpotensi menahan kenaikan harga energi. Tambahan pasokan diesel dapat membantu mengurangi ketatnya pasar produk olahan minyak, meskipun realisasinya masih bergantung pada pengiriman dan kapasitas produksi Rusia.
Konflik Timur Tengah Masih Jadi Risiko
Selain badai, perkembangan konflik Timur Tengah masih menjadi faktor penting bagi pergerakan harga minyak dunia.
Sebelumnya, harga minyak sempat melemah pada awal perdagangan Jumat setelah Trump menyebut pembicaraan dengan Iran untuk mengakhiri perang berlangsung produktif.
Pernyataan tersebut sempat mengurangi kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah. Namun, penghentian produksi di Teluk Meksiko kemudian memberikan dorongan kenaikan harga hingga penutupan perdagangan.
Di sisi lain, rencana China untuk kembali mengekspor produk bahan bakar setelah penghentian sementara selama libur Golden Week juga menjadi sentimen yang berpotensi menambah pasokan di pasar global.
Dengan demikian, harga minyak menghadapi dua kekuatan yang berlawanan. Gangguan produksi akibat Badai Isaias dan konflik Timur Tengah menopang harga, sementara rencana tambahan pasokan diesel Rusia serta peluang meredanya ketegangan AS-Iran berpotensi membatasi kenaikan lebih lanjut.
Pergerakan harga minyak pada pekan berikutnya akan sangat bergantung pada dampak Badai Isaias terhadap fasilitas energi AS, kecepatan pemulihan produksi, serta perkembangan pasokan dari Rusia dan Timur Tengah.
(slm/slm)
Leave a comment