Home Finance Harga Kopi Sudah Anjlok 17% Tahun Ini, Ternyata Karena Ini
Finance

Harga Kopi Sudah Anjlok 17% Tahun Ini, Ternyata Karena Ini

Share
Harga Kopi Sudah Anjlok 17% Tahun Ini, Ternyata Karena Ini
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – Harga kopi dunia mengalami tekanan sepanjang 2026, menjadikannya salah satu komoditas pertanian dengan penurunan harga paling tajam sejak awal tahun.

Berdasarkan data Trading Economics pada perdagangan Kamis (8/10/2026), harga kopi arabika berada di level 289,05 sen AS per pon atau sekitar US$2,89 per pon, turun 1,25% dalam sehari.

Secara year-to-date (YTD), harga kopi telah merosot 17,12% sejak akhir 2025. Penurunan tersebut merupakan yang terbesar kedua di antara komoditas pertanian yang ditampilkan Trading Economics, setelah jus jeruk yang anjlok 26,93%. Sementara itu, harga kakao turun 6,60% dan kayu melemah 3,71%.

Pelemahan juga terlihat secara tahunan. Harga kopi tercatat turun 23,38% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, mencerminkan tekanan yang lebih panjang terhadap komoditas tersebut.




Pergerakan harga kopi arabika dunia selama Oktober 2025–Oktober 2026, dalam sen AS per pon.Pergerakan harga kopi arabika dunia selama Oktober 2025–Oktober 2026, dalam sen AS per pon. Foto: Trading Economics

Penurunan harga kopi terutama dipengaruhi membaiknya prospek pasokan dari Brasil, produsen kopi terbesar dunia. Peningkatan produksi dan ekspor membuat kekhawatiran terhadap keterbatasan pasokan global mulai mereda.

Panen Brasil Melimpah, Harga Kopi Tertekan

Melansir laporan Companhia Nacional de Abastecimento (Conab), lembaga pasokan pangan Brasil, pada 24 September 2026, produksi kopi negara tersebut diperkirakan mencapai rekor 67,6 juta karung berukuran 60 kilogram pada 2026, meningkat 19,6% dibandingkan tahun sebelumnya.

Peningkatan pasokan juga tercermin dari aktivitas ekspor. Mengutip Reuters, pengiriman kopi hijau Brasil pada September mencapai volume tertinggi dalam 20 bulan terakhir.

Sementara itu, Hedgepoint Global Markets memperkirakan pasar kopi global mengalami surplus sekitar 8,9 juta karung pada tahun panen berjalan. Artinya, pasokan kopi dunia diperkirakan melampaui kebutuhan konsumsi.

Melimpahnya produksi Brasil, tingginya ekspor, serta proyeksi surplus global menjadi kombinasi yang menekan harga kopi di pasar internasional.

Pada perdagangan Kamis (8/10/2026), kontrak berjangka kopi arabika di bursa ICE turun 1,7% menjadi US$2,876 per pon, setelah terkoreksi 3,9% pada perdagangan sebelumnya.

El Niño Masih Jadi Ancaman

Meski harga kopi tengah melemah, risiko gangguan produksi akibat fenomena El Niño masih membayangi pasar.

Kekeringan yang berkaitan dengan El Niño telah mengganggu sejumlah wilayah penghasil kopi di Amerika Tengah, terutama Honduras, Guatemala, El Salvador, dan Nikaragua.

Mengutip Reuters, premi harga kopi arabika dari kawasan tersebut meningkat hingga mendekati level tertinggi dalam tiga tahun. Premi merupakan tambahan harga di atas kontrak berjangka acuan yang mencerminkan kualitas sekaligus kondisi pasokan dan permintaan.

Produksi kopi Honduras pada musim 2026/2027 diperkirakan turun 7%, sedangkan Guatemala berpotensi mengalami penurunan 10%. Kedua negara menyumbang sekitar dua pertiga produksi kopi Amerika Tengah.

Kawasan Amerika Tengah sendiri memasok sekitar 15% kopi arabika dunia. Gangguan produksi di wilayah tersebut berpotensi menahan penurunan harga lebih lanjut.

Dengan demikian, pasar kopi menghadapi dua sentimen yang berlawanan. Melimpahnya pasokan Brasil menekan harga dalam jangka pendek, sementara risiko kekeringan akibat El Niño masih mengancam produksi pada musim berikutnya.

Apa Dampaknya Bagi Indonesia?

Penurunan harga kopi dunia turut menjadi perhatian Indonesia sebagai salah satu negara produsen dan eksportir kopi, terutama jenis robusta. Meski pergerakan harga arabika dan robusta tidak selalu sama, pelemahan pasar internasional berpotensi memengaruhi harga jual dan pendapatan eksportir nasional.

Tekanan harga juga terlihat di Vietnam, salah satu produsen robusta terbesar dunia. Mengutip Reuters, harga kopi domestik Vietnam turun menjadi 92.200-93.000 dong per kilogram pada pekan kedua Oktober, dari 94.000-94.800 dong pada pekan sebelumnya.

Sementara itu, kopi robusta Sumatra ditawarkan dengan premi US$180 per ton di atas kontrak berjangka Oktober, tidak berubah dibandingkan pekan sebelumnya. Untuk pengiriman November, premi penawaran turun menjadi US$220 per ton dari US$250 pada pekan sebelumnya.

Premi merupakan selisih harga penawaran kopi fisik terhadap harga kontrak berjangka acuan. Penurunan premi tersebut menunjukkan melemahnya harga relatif yang ditawarkan untuk pengiriman November, tetapi belum tentu mencerminkan penurunan harga kopi di tingkat petani Indonesia.

Bagi eksportir, pelemahan harga internasional berpotensi menekan nilai penjualan meskipun volume ekspor meningkat. Kondisi ini terlihat di Vietnam, ketika volume ekspor kopi sepanjang Januari-September 2026 naik 16,2% menjadi 1,45 juta ton, tetapi nilai ekspornya justru turun 7% menjadi US$6,6 miliar.

Di Indonesia, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekspor kopi mencapai US$1,01 miliar dengan volume sekitar 208.100 ton sepanjang Januari-Juli 2026. Perkembangan harga global perlu dicermati karena dapat memengaruhi nilai ekspor pada periode berikutnya.

Bagi petani kopi, penurunan harga internasional berpotensi menekan pendapatan apabila harga di tingkat produsen ikut melemah. Sebaliknya, industri pengolahan kopi dapat memperoleh manfaat dari biaya bahan baku yang lebih rendah, meskipun dampaknya terhadap harga konsumen tidak selalu langsung terasa.

(slm/slm)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *