Jakarta, CNBC Indonesia – Arab Saudi kembali menjadi sasaran serangan rudal dan drone kelompok Houthi dari Yaman. Serangan tersebut bahkan menyasar bandara hingga fasilitas minyak, membuat ketegangan di Timur Tengah semakin meluas.
Reuters melaporkan serangan Houthi telah mengganggu penerbangan di Arab Saudi. Bandara Internasional King Khalid di Riyadh bahkan harus menghentikan operasionalnya setelah serangan mematikan pada Sabtu (10/10/2026).
Situasi ini menimbulkan pertanyaan mengenai seberapa besar sebenarnya kekuatan militer Arab Saudi. Sebab, negara kaya minyak tersebut dikenal memiliki anggaran pertahanan yang besar dan berbagai persenjataan modern.
Berdasarkan data Global Firepower (GFP) 2026, Arab Saudi menempati peringkat ke-25 dari 145 negara dengan indeks kekuatan militer atau PowerIndex sebesar 0,4473.
GFP menggunakan lebih dari 60 faktor untuk menentukan kekuatan militer suatu negara, mulai dari jumlah tentara, persenjataan, anggaran pertahanan, hingga kemampuan logistik.
Semakin kecil angka indeks, semakin tinggi kekuatan militer konvensional suatu negara menurut perhitungan GFP.
Amerika Serikat (AS) berada di urutan pertama dengan indeks 0,0741, disusul Rusia sebesar 0,0791 dan China 0,0919.
Menariknya, posisi Arab Saudi masih berada di bawah sejumlah negara Asia, termasuk Indonesia yang menempati peringkat ke-13, Israel di posisi ke-15, serta Iran di urutan ke-16.
Berikut daftar 25 negara dengan kekuatan militer terbesar di dunia berdasarkan GFP 2026.
Meski hanya berada di peringkat ke-25 dalam kekuatan militer secara keseluruhan, Arab Saudi memiliki anggaran pertahanan yang sangat besar.
GFP mencatat anggaran pertahanan Arab Saudi mencapai US$63,99 miliar atau sekitar Rp 1.142 triliun (US$1=Rp 17.855), menempatkannya di peringkat kedelapan dunia.
Dengan anggaran sebesar itu, Arab Saudi memiliki kemampuan untuk membeli dan merawat berbagai persenjataan modern, termasuk jet tempur, tank, kapal perang, hingga sistem pertahanan udara.
Dari sisi jumlah tentara, Arab Saudi memiliki sekitar 247.000 personel militer aktif. Selain itu, terdapat 150.000 personel paramiliter atau pasukan bersenjata pendukung.
Jika digabungkan, jumlah personel militer aktif dan paramiliter Arab Saudi mencapai 397.000 orang.
Lantas, seperti apa kekuatan persenjataan Arab Saudi di darat, udara, dan laut?
Kekuatan Militer Arab Saudi dari Darat hingga Laut
Kekuatan militer Arab Saudi ditopang oleh ribuan kendaraan tempur, ratusan pesawat militer, serta puluhan kapal perang.
Untuk kekuatan darat, Arab Saudi memiliki lebih dari 1.000 tank tempur. Sementara itu, kekuatan udaranya termasuk salah satu yang terbesar di dunia berdasarkan jumlah pesawat.
Berikut rincian persenjataan militer Arab Saudi menurut GFP 2026.
Kekuatan Angkatan Darat Arab Saudi ditopang oleh ribuan kendaraan militer dan persenjataan berat.
GFP mencatat Arab Saudi memiliki 1.085 tank tempur, menempatkannya di peringkat ke-21 dunia untuk kategori tersebut.
Selain tank, negara ini memiliki 22.370 kendaraan militer yang mencakup kendaraan lapis baja, pengangkut personel, hingga kendaraan pendukung operasi.
Arab Saudi juga memiliki 380 artileri swagerak atau self-propelled artillery, yakni meriam yang dipasang pada kendaraan sehingga dapat bergerak sendiri.
Ada pula 557 artileri tarik atau towed artillery, serta 327 peluncur roket multipel (MLRS) yang dapat menembakkan sejumlah roket ke sasaran di darat.
Dibandingkan kekuatan darat dan lautnya, jumlah pesawat militer menjadi salah satu keunggulan Arab Saudi.
GFP mencatat Arab Saudi memiliki 917 pesawat militer dari berbagai jenis dan matra. Jumlah tersebut menempatkannya di peringkat ke-11 dunia.
Dari jumlah itu, sebanyak 283 unit merupakan jet tempur, membuat Arab Saudi berada di posisi ketujuh dunia untuk kategori ini.
Selain jet tempur, Arab Saudi juga memiliki 81 pesawat serang, 49 pesawat angkut, serta 202 pesawat latih.
Armada helikopternya mencapai 264 unit, termasuk 34 helikopter serang.
Keunggulan lainnya terlihat dari keberadaan 22 pesawat pengisi bahan bakar di udara. Untuk kategori ini, Arab Saudi bahkan berada di peringkat kedua dunia.
Pesawat tersebut memungkinkan jet tempur terbang lebih lama dan menjangkau wilayah lebih jauh tanpa harus kembali ke pangkalan untuk mengisi bahan bakar.
Berbeda dengan kekuatan udaranya, jumlah kapal militer Arab Saudi relatif lebih terbatas.
Berdasarkan GFP, Arab Saudi memiliki 32 aset kapal militer, menempatkannya di peringkat ke-58 dunia.
Armada tersebut mencakup tujuh kapal fregat dan sembilan kapal korvet yang digunakan untuk menjalankan berbagai operasi pertahanan dan keamanan laut.
Anggota pasukan Saudi untuk haji dan umrah tampil saat parade militer persiapan ibadah haji tahunan di kota suci umat Islam Mekah, Arab Saudi, Senin, 10 Juni 2024. (AP Photo/Rafiq Maqbool) Foto: Anggota pasukan Saudi untuk haji dan umrah tampil saat parade militer persiapan ibadah haji tahunan di kota suci umat Islam Mekah, Arab Saudi, Senin, 10 Juni 2024. (AP/Rafiq Maqbool)
|
Selain itu, terdapat sembilan kapal patroli dan tiga kapal penyapu ranjau.
Namun, Arab Saudi belum memiliki kapal selam, kapal induk, maupun kapal perusak dalam catatan GFP 2026.
Meski demikian, Angkatan Laut tetap memiliki peran penting karena Arab Saudi berbatasan langsung dengan Teluk Persia dan Laut Merah.
Kedua kawasan tersebut merupakan jalur perdagangan internasional yang sangat penting, terutama untuk pengiriman minyak dan berbagai komoditas energi.
Mengapa Pertahanan Arab Saudi Masih Bisa Ditembus Houthi?
Besarnya kekuatan militer Arab Saudi ternyata tidak membuat negara tersebut sepenuhnya terlindungi dari serangan kelompok Houthi.
Salah satu alasannya adalah perbedaan cara kedua pihak berperang. Arab Saudi mengandalkan berbagai persenjataan modern, sementara Houthi banyak menggunakan rudal dan drone untuk menyerang sasaran dari jarak jauh.
Dengan senjata tersebut, Houthi tidak perlu berhadapan langsung dengan tank ataupun jet tempur Arab Saudi di medan perang.
Anggota pasukan keamanan Saudi berpartisipasi dalam parade persiapan ibadah haji tahunan, di kota suci Mekah, Arab Saudi, 10 Juni 2024. (REUTERS/Mohammed Torokman) Foto: Anggota pasukan keamanan Saudi berpartisipasi dalam parade persiapan ibadah haji tahunan, di kota suci Mekah, Arab Saudi, 10 Juni 2024. (REUTERS/Mohamad Torokman)
|
Untuk menghadapi ancaman semacam ini, Arab Saudi mengandalkan radar dan sistem pertahanan udara yang bertugas mendeteksi, melacak, serta mencegat rudal maupun drone sebelum mencapai sasaran.
Arab Saudi memiliki Royal Saudi Air Defense Forces, yakni pasukan pertahanan udara yang dilengkapi berbagai persenjataan buatan Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Eropa.
Salah satu sistem yang paling dikenal adalah Patriot buatan AS. Sistem ini dirancang untuk menghadapi berbagai ancaman udara, termasuk rudal balistik, rudal jelajah, dan pesawat.
Selain Patriot, Arab Saudi juga telah mengoperasikan unit pertama Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) sejak Juli 2025. Sistem ini dirancang khusus untuk mencegat rudal balistik pada tahap akhir penerbangannya, termasuk di ketinggian tinggi.
Berdasarkan daftar inventaris Gladius Defense & Security, Arab Saudi juga memiliki sistem pertahanan udara lainnya, seperti Improved HAWK, Crotale, Shahine, dan VL-MICA.
Sistem-sistem tersebut memiliki fungsi berbeda. Patriot dan THAAD digunakan untuk menghadapi ancaman tertentu dari jarak dan ketinggian yang berbeda, sedangkan Crotale, Shahine, dan VL-MICA memberikan perlindungan pada jarak yang lebih dekat.
Dengan persenjataan tersebut, Arab Saudi sebenarnya memiliki beberapa lapis pertahanan udara. Namun, banyaknya sistem pertahanan tidak otomatis membuat seluruh wilayah negara terlindungi dari setiap serangan.
Rudal dan drone yang datang dari berbagai arah secara bersamaan dapat menyulitkan proses pendeteksian dan pencegatan. Drone yang terbang rendah juga lebih sulit terdeteksi oleh radar tertentu karena dapat terhalang bentuk permukaan bumi.
Selain itu, setiap sistem pertahanan memiliki jangkauan dan jumlah rudal pencegat yang terbatas. Sementara itu, wilayah Arab Saudi yang sangat luas membuat perlindungan terhadap seluruh bandara, fasilitas minyak, dan infrastruktur penting menjadi tantangan tersendiri.
Perlu dicatat, data Global Firepower tidak memasukkan drone dalam jumlah pesawat militernya serta tidak merinci jumlah sistem pertahanan udara maupun persediaan rudal pencegat Arab Saudi.
Meski demikian, belum dapat dipastikan faktor apa yang menyebabkan serangan Houthi terbaru berhasil mencapai sasarannya, apakah karena keterbatasan radar, banyaknya senjata yang diluncurkan, atau kendala operasional lainnya.
Serangan Houthi menunjukkan bahwa besarnya anggaran dan banyaknya persenjataan modern tidak selalu menjamin keamanan suatu negara. Kemampuan mendeteksi dan mencegat ancaman juga menjadi penentu penting, terutama ketika menghadapi serangan rudal dan drone.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)


Leave a comment