
Jakarta, CNBC Indonesia – Citra satelit terbaru milik NASA mengungkapkan fenomena di mana Super El Niño telah mengubah warna samudra di dunia. Wilayah Samudra Pasifik khatulistiwa yang sebelumnya berwarna hijau mendadak berubah menjadi biru sepanjang tahun lalu.
El Niño disebut mengganggu arus laut yang membawa air dingin dan kaya nutrisi ke permukaan. Padahal, nutrisi tersebut sangat penting bagi kehidupan plankton berfotosintesis yang memberikan warna hijau zamrud memukau di kawasan tersebut.
Tanpa pasokan makanan itu, plankton-plankton tersebut mati kelaparan, sehingga hamparan warna biru tua yang gersang dan tanpa kehidupan kembali menyelimuti Pasifik.
Perbandingan berdampingan dengan data satelit dari 2025 menunjukkan bagaimana wilayah ini sebenarnya masih mempertahankan rona hijau khasnya sepanjang tahun tersebut. Namun, data terbaru yang mencakup hingga bulan ini memperlihatkan wilayah di sekitar khatulistiwa telah berubah menjadi biru sepenuhnya.
El Niño sendiri merupakan bagian dari siklus iklim alami yang dikenal sebagai El Niño Southern Oscillation (ENSO). Setiap dua hingga tujuh tahun, pola ini membawa periode El Niño yang panas atau fase La Niña yang lebih dingin.
Selama fase El Niño, air panas berkumpul di Samudra Pasifik khatulistiwa di lepas pantai Amerika Selatan. Hal ini meningkatkan suhu rata-rata dan memengaruhi pola cuaca global.
Para ilmuwan kini percaya bahwa bumi berada pada tahap awal siklus El Niño yang sangat masif, yang berpotensi memicu efek katastrofal dalam beberapa bulan mendatang hingga sepanjang tahun 2027.
Hingga Oktober, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) memprediksi ada probabilitas 83% bahwa ini akan menjadi El Niño terkuat sejak pencatatan dimulai pada tahun 1950. Sementara itu, pengukuran satelit NASA menunjukkan suhu permukaan laut di Pasifik timur saat ini berada 1,7°C (3°F) di atas rata-rata jangka panjang, dan dapat melonjak lebih tinggi lagi dalam beberapa bulan mendatang.
Kemudian ‘sabuk’ air hangat ini meluas sepanjang musim semi dan kini menutupi jutaan mil persegi di area yang membentang dari pantai Amerika Selatan hingga ke jantung Pasifik.
Ini juga menjadi tahun El Niño pertama sejak NASA meluncurkan satelit PACE (Plankton, Aerosol, Cloud, Ocean Ecosystem) pada tahun 2024, yang memberi para ilmuwan pandangan yang belum pernah ada sebelumnya terkait ancaman yang sedang terjadi.
Instrumen Ocean Colour di satelit PACE mengamati samudra dalam warna hiperspektral, yang mengukur panjang gelombang dalam spektrum tampak, ultraviolet, dan inframerah.
“Beberapa orang berpikir air hanya berwarna biru, tetapi sangat menakjubkan melihat banyaknya warna yang dimiliki samudra,” kata Dr. Matthew Kehrli, ilmuwan peneliti utama di Goddard Space Flight Center NASA, dikutip dari Daily Mail, Rabu (21/10/2026).
Selama El Niño, angin pasat yang biasanya membawa air hangat ke arah barat menuju Australia mengalami pelemahan atau bahkan berbalik arah. Hal ini mengurangi pengangkatan air kaya nutrisi dari bagian laut yang lebih dalam, yang memicu penurunan jumlah alga dan membuat air berwarna lebih biru sebagaimana terlihat pada pengamatan PACE.
Penurunan alga tersebut juga dapat memicu efek berantai ke seluruh ekosistem laut. Kondisi ini memaksa hewan-hewan lain berpindah ke tempat pembiakan baru untuk mencari fitoplankton.
“Anda memiliki ekspektasi tentang apa yang menurut Anda akan terjadi, tetapi melihat hasilnya secara visual dengan produk data yang Anda kerjakan secara real-time sangat memuaskan,” tuturnya.
(dem/dem)
Leave a comment