Home Finance Warga Bingung Beli Obat atau Makan
Finance

Warga Bingung Beli Obat atau Makan

Share
Warga Bingung Beli Obat atau Makan
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Amerika Serikat (AS) selama ini dikenal sebagai salah satu negara dengan perekonomian terbesar di dunia. Namun, di balik kekuatan ekonominya, sebagian masyarakat kini menghadapi tekanan biaya hidup yang semakin berat.

Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) di negara kaya itu bahkan membuat warga berpenghasilan rendah semakin kesulitan mendapatkan makanan. Kondisi ini tergambar dari kisah Tonya King.

Ia adalah seorang nenek berusia 65 tahun yang tinggal di Detroit. Dirinya tak kuasa menahan tangis ketika menerima sekotak bahan makanan berisi pasta, kacang kering, makanan kaleng, dan susu bubuk. 

“Aku sudah menunggu ini,” kata King, dengan suara bergetar dan air mata mengalir di wajahnya, seperti dikutip Reuters, Kamis (22/10/2026). “Akhirnya, putriku menelepon dan berkata, ‘Dia akan datang.'”

King menunggu kedatangan Frank Kubik, direktur program bantuan pangan dari organisasi nirlaba “Focus: Hope”. Sekotak bahan makanan yang dibawanya akan mencukupi kebutuhan enam anggota keluarga King selama dua minggu.

Program bantuan tersebut terutama melayani lansia berpenghasilan rendah. Namun, kenaikan harga bensin membuat sebagian penerima bantuan kesulitan menjangkau lokasi distribusi makanan, di mana pada saat bersamaan, harga bahan pangan yang semakin mahal membuat kebutuhan bantuan terus meningkat.

Persoalan ini bukan hanya terjadi di Detroit. Kebutuhan bantuan pangan meningkat di berbagai wilayah AS, sementara biaya untuk menyalurkan bantuan tersebut juga semakin membengkak.

Lonjakan harga diesel yang dipicu perang yang dipimpin AS terhadap Iran meningkatkan ongkos pengiriman makanan. Tekanan inflasi dan pemangkasan bantuan pangan pemerintah turut memperburuk kondisi masyarakat yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Beli Obat atau Makanan

Bagi King, persoalan biaya hidup bukan lagi sekadar mengurangi belanja atau menunda membeli barang yang tidak mendesak. Ia bahkan harus mempertimbangkan kebutuhan dasar mana yang masih mampu dipenuhi.

“Aku harus memilih antara obat kejang dan obat diabetes,” kata King. “Kita membutuhkan seseorang yang datang dan mengubah keadaan,” ujarnya mengatakan tingginya harga BBM semakin menggerus pendapatan terbatas yang diperoleh keluarganya dari bantuan pemerintah.

Kondisi tempat tinggalnya pun memprihatinkan. Tungku pemanas rumah mereka rusak dan keluarga itu tidak memiliki uang untuk memperbaikinya, sementara musim dingin semakin dekat.

Rumah tersebut juga tidak memiliki air mengalir selama lebih dari sebulan. King, yang mengalami cerebral palsy atau kelumpuhan otak sehingga sulit bergerak, harus menggunakan pispot.

Lantai rumah yang berlubang, bingkai jendela yang terbuka, serta beranda yang miring juga membutuhkan perbaikan. Namun, bagi keluarga tersebut, kebutuhan itu belum menjadi prioritas karena keterbatasan keuangan.

“Saya harus menahan diri agar tidak menangis,” kata Kubik saat berjalan kembali menuju mobilnya setelah mengantarkan bantuan makanan.

Biaya BBM Ikut Menggerus Bantuan Makanan

Tekanan biaya hidup juga dirasakan organisasi yang selama ini membantu masyarakat mengatasi kelaparan.

Focus: Hope kini mengirimkan 1.300 kotak makanan setiap bulan kepada lansia berpenghasilan rendah. Jumlah tersebut meningkat dari 800 kotak pada awal tahun.

Kenaikan itu menunjukkan semakin besarnya kebutuhan bantuan. Namun, harga BBM yang tinggi juga membuat pengiriman makanan menjadi semakin mahal.

Di California, Kym Dildine, salah satu CEO Central California Food Bank, mengatakan pengeluaran organisasinya untuk membeli diesel melonjak 61% selama Juli hingga September dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Jumlah itu setara dengan sekitar seperempat juta porsi makanan yang seharusnya bisa kami sediakan bagi masyarakat, tetapi kini dananya dialihkan untuk membayar bahan bakar,” ujarnya.

Central California Food Bank merupakan organisasi penanggulangan kelaparan terbesar di wilayahnya. Organisasi tersebut memasok makanan kepada berbagai badan amal yang melayani lebih dari 300.000 orang setiap bulan.

Tekanan tidak berhenti pada biaya operasional. Para donatur juga ikut terdampak kenaikan harga BBM, sehingga kemampuan mereka untuk menyumbangkan uang semakin terbatas.

“Para donatur kami juga tertekan oleh harga bahan bakar. Bank makanan bergantung pada sumbangan sebesar US$25 hingga US$250, dan para donatur inilah yang paling terdampak oleh kenaikan harga bahan bakar,” kata Dildine.

Peritel yang sebelumnya menanggung biaya transportasi untuk mengirimkan makanan sumbangan kini juga mulai meminta bank makanan berbagi biaya pengiriman atau menanggungnya sendiri.

Sementara itu, Greater Chicago Food Depository, salah satu bank makanan terbesar di Chicago, mulai beralih menyediakan bahan pangan yang lebih murah, seperti telur, untuk mengimbangi kenaikan biaya bahan bakar yang membebani anggarannya.

Situasi ini memperlihatkan bagaimana kenaikan harga energi dapat berdampak lebih luas terhadap masyarakat. Ketika ongkos transportasi meningkat, bukan hanya harga barang yang tertekan, tetapi juga kemampuan organisasi sosial untuk menyalurkan bantuan kepada mereka yang membutuhkan.

Jutaan Warga Kehilangan Bantuan Pemerintah

Tekanan terhadap masyarakat berpenghasilan rendah semakin berat akibat pemangkasan bantuan pemerintah.

Reuters melaporkan lebih dari 4,7 juta orang di AS telah kehilangan manfaat Program Bantuan Gizi Tambahan atau Supplemental Nutrition Assistance Program (SNAP), yang dikenal sebagai kupon makanan (food stamps).

Kehilangan bantuan tersebut terjadi sejak undang-undang pajak dan belanja yang diusung Presiden Donald Trump mulai berlaku pada tahun sebelumnya.

Padahal, ketika harga bahan pangan dan biaya transportasi meningkat, bantuan pemerintah menjadi salah satu penopang penting bagi rumah tangga yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Jona Berry, pensiunan pegawai toko berusia 84 tahun di Detroit, juga menerima kotak makanan dari Focus: Hope. Ia mengatakan bantuan tersebut membantunya bertahan hidup dengan pendapatan tetap ketika harga bahan pangan semakin mahal.

“Saya masih bisa bertahan,” kata Berry. “Saya tahu bagaimana menghemat dan membuat persediaan yang ada cukup untuk memenuhi kebutuhan.”

Biaya Hidup Jadi Isu Panas Jelang Pemilu AS

Memburuknya keterjangkauan hidup kini menjadi persoalan ekonomi sekaligus politik di AS, terutama menjelang pemilu sela pada 3 November 2026.

Di Michigan, persaingan dalam pemilihan Senat AS menjadi salah satu kontestasi yang diperhatikan karena hasilnya dapat menentukan apakah Partai Demokrat mampu merebut kembali kendali Senat.

Menurut jajak pendapat Reuters/Ipsos baru-baru ini, hampir separuh pemilih terdaftar di AS menyebut biaya hidup sebagai faktor terpenting dalam menentukan pilihan mereka pada pemilu sela.

Kandidat Partai Demokrat Abdul El-Sayed, seorang ahli epidemiologi dan mantan kepala departemen kesehatan Detroit, menjadikan kenaikan biaya hidup dan biaya layanan kesehatan sebagai isu utama kampanyenya.

Sementara itu, rivalnya dari Partai Republik, Mike Rogers, mengusulkan penangguhan pajak bensin di tingkat negara bagian dan federal serta pemotongan pajak untuk mengatasi persoalan keterjangkauan hidup.

Bagi warga seperti King, perdebatan politik tersebut berkaitan langsung dengan kemampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari makanan hingga obat-obatan.

Kisah warga Detroit itu menjadi gambaran bahwa di tengah besarnya perekonomian AS, kenaikan harga energi dan pangan masih dapat membuat kelompok masyarakat paling rentan semakin kesulitan bertahan hidup.

(sef/sef)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *