Home Finance ABB Bedah Peluang Adopsi AI bagi Industri Kertas & Mineral Indonesia
Finance

ABB Bedah Peluang Adopsi AI bagi Industri Kertas & Mineral Indonesia

Share
ABB Bedah Peluang Adopsi AI bagi Industri Kertas & Mineral Indonesia
Share




Jakarta, CNBC Indonesia Teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah mengubah lanskap industri dunia. Dalam perkembangannya, teknologi ini turut menjadi pendorong produktivitas dan daya saing.

Integrasi teknologi AI ke dalam lingkungan otomasi industri akan menjadi salah satu pendorong transformasi industri Indonesia dalam beberapa tahun ke depan, termasuk di industri pulp dan kertas serta pertambangan dan mineral.

President ABB’s Process Industries Division, Joachim Braun menjelaskan, Indonesia merupakan salah satu dari 10 pemain terbesar di industri pulp dan kertas dunia, serta memiliki posisi yang kuat di sektor pertambangan. Menurut dia, kedua sektor ini sudah siap untuk mengadopsi teknologi AI dan memulai menerapkan operasi yang lebih otonom.

Namun, Braun menekankan, bahwa sebelum menerapkan solusi-solusi tersebut, industri perlu terlebih dahulu memastikan data yang dimiliki tertata dan dikelola dengan baik.

“Inilah yang sering kali menjadi tantangan. Anda tidak bisa begitu saja mendigitalisasi berbagai masalah yang sudah ada. Masalah-masalah tersebut perlu diselesaikan terlebih dahulu sebelum melangkah ke tahap berikutnya,” ungkap Braun kepada CNBC Indonesia beberapa waktu lalu.

Setelah fondasi data dan proses operasional dibenahi, perusahaan dapat menghubungkan berbagai lokasi, menerapkan praktik terbaik dari setiap fasilitas, serta memperoleh visibilitas menyeluruh atas operasinya dari hulu ke hilir.

Braun juga mengungkapkan, kecerdasan buatan memiliki kemampuan bekerja secara real-time. Teknologi ini dapat memproses lebih banyak data dan mempertimbangkan berbagai parameter pada saat yang bersamaan.

“AI membantu industri mencapai hasil operasional yang optimal dengan biaya yang lebih efisien sekaligus mengurangi konsumsi energi. AI memungkinkan kita menangani berbagai faktor secara bersamaan, secara real-time, dengan dampak langsung pada proses produksi, bukan hanya menjadi bahan evaluasi setelah semuanya selesai,” tegas Braun.

Dengan kata lain, AI membawa manfaat bagi kecepatan operasional. AI memungkinkan pembelajaran dari data proses untuk langsung diterapkan ke dalam operasi yang sedang berjalan, tanpa perlu menunggu seluruh data dianalisis setelah proses selesai.

Selain itu, teknologi ini juga dapat membantu industri-industri tersebut memenuhi ekspektasi konsumen yang semakin tinggi, terutama dari sisi keberlanjutan.

Braun menyadari, bahwa kedua sektor industri ini merupakan penghasil emisi karbon yang cukup besar, sehingga ada tuntutan untuk benar-benar meningkatkan jejak karbon menjadi lebih baik, di mana AI bisa memberikan peran penting. Pada saat yang sama, industri tetap dapat memenuhi standar kualitas tertinggi yang diharapkan oleh para pelanggan atau konsumen.

AI dapat membantu industri mengelola berbagai sasaran tersebut secara bersamaan, meskipun hasilnya tetap bergantung pada kesiapan data, proses, dan sistem yang digunakan. Tak hanya memberikan efisiensi operasional, di industri pulp dan kertas AI juga dapat membantu meningkatkan kualitas produk.

Kata Braun, ketika bisnis masih menerapkan pendekatan tradisional, hasil optimal itu biasanya hanya tercapai sesekali, misalnya ketika operator yang paling berpengalaman sedang bertugas atau ketika kondisi produksi berada dalam keadaan ideal.

Sementara itu, solusi AI membantu mendapatkan hasil optimal tersebut setiap saat. Terlepas dari operator mana yang sedang bekerja pada shift tersebut, atau variasi kualitas bahan baku yang masuk ke dalam proses, kualitas bahan baku yang digunakan dalam proses, atau penggunaan bahan kimia di dalam proses tersebut.

“Jadi semua faktor itu bisa ditangani secara bersamaan. Dengan begitu, Anda benar-benar memiliki kesempatan untuk melihat hasil terbaik yang mungkin dicapai setiap kali memproduksi gulungan kertas, dan bukan hanya sesekali,” papar Braun.

Di sektor pertambangan dan mineral, Braun melihat potensi besar dari operasi otonom dan operasi jarak jauh, terutama untuk mengurangi paparan pekerja terhadap lingkungan kerja yang berisiko tinggi. Operasi pertambangan pada dasarnya melibatkan berbagai risiko, mulai dari aktivitas peledakan dan pergerakan material dalam jumlah besar hingga penggunaan alat berat.

Banyak lokasi pertambangan juga berada di wilayah terpencil, dengan akses yang tidak selalu mudah terhadap fasilitas medis. Dalam konteks ini, AI bukan menjadi pengganti sistem otomasi. AI dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan analisis, optimalisasi, dan pengambilan keputusan dalam sistem otomasi.

Sementara itu, operasi otonom dan remote operations memungkinkan aktivitas tertentu dijalankan tanpa mengharuskan pekerja berada langsung di area berisiko tinggi.

“Karena itu, operasi otonom pada dasarnya membantu menjaga pekerja tetap jauh dari potensi bahaya. Mereka tidak perlu berada di dekat mesin-mesin yang bergerak, tidak perlu berada di sekitar lokasi peledakan, dan juga tidak perlu terpapar kondisi lingkungan yang berat,” terangnya.

Menurut Braun, kondisi lingkungan tersebut dapat mencakup suhu tinggi, lokasi di ketinggian, curah hujan tinggi, maupun kondisi cuaca lainnya. Hal ini menjadi semakin penting karena kegiatan pertambangan perlu terus berjalan selama 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu.

Ia menekankan, bahwa kehadiran AI menjadi terobosan besar untuk industri tambang. Penerapan otomasi, dan penggunaan AI juga akan merubah wajah industri ini dengan lingkungan kerja yang relatif jauh lebih aman.

“Anda pada dasarnya akan dapat menjalankan tugas-tugas Anda dari lingkungan kantor, dan jika Anda menambahkan operasi jarak jauh ke dalamnya, serta sudah ada contohnya di industri saat ini. Anda dapat mengoperasikan tambang Anda di Sumatra dari kantor di pusat kota Jakarta,” sambung Braun.

Lebih lanjut, Braun tak memungkiri bahwa penerapan AI memiliki ekspektasi tinggi. Padahal AI bukanlah solusi untuk semua permasalahan. Perusahaan perlu terlebih dahulu membenahi fondasi data, proses internal, dan kesiapan organisasinya sebelum benar-benar bisa merasakan manfaat teknologi tersebut.

Menurut dia, penerapan AI perlu dilakukan secara bertahap. Perusahaan tidak dapat melakukan perubahan besar hingga operasional berubah total dalam waktu singkat. Pendekatan bertahap juga penting karena perusahaan perlu melibatkan tenaga kerjanya dalam proses transformasi dan meningkatkan keterampilan mereka. Selain itu, perusahaan dapat melihat dampak dari penerapan awal dan membangun keyakinan bahwa investasi yang dilakukan akan memberikan hasil.

Karena itu, ABB mendorong implementasi solusi AI secara bertahap. Lihat dulu dampaknya, bangun kepercayaan terhadap hasilnya, lalu terapkan di area atau fungsi yang lain,” ujar Braun.

Braun juga mencontohkan implementasi AI yang berhasil dilakukan, salah satunya solusi Industrial Knowledge Vault. Solusi ini menjawab kebutuhan perusahaan yang mengalami kesulitan karena operator berpengalaman memasuki masa pensiun, sementara banyak pengetahuan mereka tidak terdokumentasi di mana pun.

“Seluruh pengetahuan ini kemudian diproses, disusun, dan diberikan konteks oleh AI. Setelah itu, informasi tersebut dapat diakses oleh operator yang lebih muda atau kurang berpengalaman saat mereka membutuhkannya,” ungkapnya.

Melalui solusi ini, AI menyusun informasi, memberikan konteks, dan menghadirkan informasi penting yang sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi.

Itu adalah salah satu produk yang kami luncurkan enam bulan lalu yang mendapat sambutan sangat baik di pasar, dan tentu saja masih banyak lagi yang akan datang,” pungkas Braun.

 

(rah/rah)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *