
Jakarta, CNBC Indonesia – Harga emas kembali melemah pada Rabu setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) memanas.
Kondisi ini meningkatkan spekulasi bahwa The Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga bulan depan. Investor juga menanti pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh pekan ini.
Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Rabu (26/8/2026) ditutup di posisi US$ 4592,03 per troy ons. Harganya ambruk 1,39%.
Pelemahan ini memutus reli positifnya selama tiga hari sekaligus menyeret harga emas kembali ke level US$ 4500 setelah tiga hari ada di level US$ 4600. Harga emas penutupan kemarin adalah yang terendah dalam empat hari.
Pada hari ini, Kamis (27/8/2026) pukul 06.21 WIB, harga emas menguat 0,45% ke US$ 4612,69 per troy ons.
Pelemahan emas salah satunya dipicu kenaikan dolar AS dan imbal hasil US Treasury.
Dolar AS menguat ke 99,15 atau posisi tertinggi dalam lima hari terakhir, membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
Sementara itu, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun ada di posisi 4,66%, dari 4,64% pada hari sebelumnya.
Emas yang tidak memberikan imbal hasil biasanya kurang menarik ketika suku bunga tinggi.
“Pergerakan harga emas sebelum data hari ini lebih merupakan aksi ambil untung. Data PCE sebagian besar sesuai ekspektasi, sehingga saat ini harga emas berkonsolidasi dalam kisaran perdagangan kemarin,” kata Peter Grant, Vice President sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals, dikutip dari Refinitiv.
Indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE), yang menjadi acuan The Fed dalam menentukan target inflasi, naik 3,7% (year on Year/YoY) pada Juli 2026.
Angka tersebut sedikit lebih tinggi dari perkiraan ekonom yang disurvei Reuters sebesar 3,6%.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar kini memperkirakan peluang The Fed menaikkan suku bunga bulan depan mencapai 40%, naik dari 36% sebelum data inflasi dirilis. Sementara peluang suku bunga ditahan berada di sekitar 60%.
Meski demikian, Grant menilai tren kenaikan emas mulai kembali menguat. Ia melihat peluang harga emas kembali menembus US$5.000 per troy ons tahun ini, bahkan berpotensi mencetak rekor tertinggi baru pada kuartal II-2027.
Dari sisi geopolitik, Iran dan Oman masih merundingkan detail kesepakatan terkait Selat Hormuz. Sebelumnya, Garda Revolusi Iran menyebut kedua negara telah menyepakati pembagian wilayah perairan dan pendapatan dari jalur strategis tersebut.
Leave a comment