Home Finance Adopsi AI Makin Masif, Bagaimana Perannya untuk Ekonomi Indonesia?
Finance

Adopsi AI Makin Masif, Bagaimana Perannya untuk Ekonomi Indonesia?

Share
Adopsi AI Makin Masif, Bagaimana Perannya untuk Ekonomi Indonesia?
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Negara-negara di kawasan Asia dinilai perlu lebih cepat mengadopsi kecerdasan buatan atau artificial intelligence. Hal ini diungkapkan Bank DBS Indonesia Research dalam laporan bertajuk “Intentional AI: Connecting Intelligence, Capital and Outcomes”. Dalam riset nya, Bank DBS Indonesia menyusun rekomendasi, agar penggunaan AI di kawasan Asia bisa lebih memberikan dampak nyata kepada perekonomian dan kehidupan sosial.

Selama ini permodalan ke sektor AI telah mengalir cukup deras, namun konsentrasinya masih terbatas pada aktivitas tertentu. Riset tersebut juga mengungkap meski kawasan Asia, seperti China, memimpin dalam berbagai penerapan AI, namun aliran modal pada pengembangannya masih kalah dengan Amerika Serikat ataupun Inggris.

“Tantangannya kini bukan lagi soal bagaimana arus permodalan mengalir ke AI. Karena sudah terjadi. Pertanyaan yang lebih penting adalah kemanakah perginya permodalan itu,” tulis laporan tersebut, dikutip Kamis (22/10/2026).

Secara rinci, DBS Group Research juga menjelaskan bahwa sebenarnya bagi investor, peluang yang ada bukan hanya sekedar mendanai pengembangan model AI yang paling canggih. Peluang yang lebih besar terletak pada investasi di perusahaan, infrastruktur, dan institusi yang mampu mengubah kecerdasan menjadi hasil nyata.

Sejumlah peluang investasi paling menarik bukan hanya di titik perkembangan teknologi paling cepat, melainkan di sektor-sektor yang memiliki kepercayaan, kemampuan implementasi, dan dampak terukur dengan penerapan AI. Dengan begitu, keuntungan yang dihasilkan pun lebih sulit ditiru oleh pesaing.

Sementara bagi dunia usaha yang menjadi katalis utama penerapan AI, poin pentingnya adalah bagaimana AI digunakan untuk menyelesaikan persoalan yang benar-benar penting dan membuatnya efektif. Keunggulan kompetitif akan semakin ditentukan oleh kemampuan menghubungkan kecerdasan dengan pelaksanaan, merancang ulang alur kerja yang berorientasi pada hasil, serta membangun kepercayaan yang diperlukan agar teknologi dapat diterima dan digunakan.

Perusahaan yang akan unggul belum tentu mereka yang menggunakan teknologi tercanggih, melainkan mereka mampu secara konsisten mengubah kecerdasan menjadi hasil nyata. Sedangkan, bagi pemerintah, tugas utamanya adalah menciptakan kondisi yang mendukung penerapan AI secara luas. Regulasi, pengadaan, infrastruktur, dan akuntabilitas akan menentukan apakah proyek percontohan yang menjanjikan dapat berkembang menjadi layanan yang berfungsi secara efektif dalam skala besar.

Kepercayaan menjadi sangat penting ketika risiko kegagalan memiliki konsekuensi besar. Masyarakat dan institusi perlu memiliki keyakinan bahwa sistem AI dapat diandalkan, transparan, serta memiliki mekanisme pertanggungjawaban yang jelas apabila terjadi kesalahan.

Asia memulai langkahnya dari posisi yang kuat. Kawasan ini memiliki talenta di bidang teknik, kapasitas manufaktur berskala besar, infrastruktur digital, dan pasar yang luas. Pada saat yang sama, Asia juga menghadapi sejumlah tantangan paling mendesak di dunia, mulai dari layanan kesehatan, penuaan penduduk, ketahanan terhadap perubahan iklim, hingga inklusi keuangan.

Tantangan-tantangan tersebut bukan sekadar persoalan kebijakan. Semua itu juga merupakan peluang untuk membangun industri baru, membuka pasar baru, dan menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Singapura berada pada posisi yang strategis untuk membantu menghubungkan berbagai potensi tersebut. Keunggulannya di bidang keuangan, hukum, regulasi, dan bisnis lintas negara dapat mempermudah pembiayaan, pengujian, tata kelola, serta pengembangan proyek-proyek AI regional hingga mencapai skala yang lebih besar.

Tujuannya bukan sekadar menyetujui lebih banyak penerapan teknologi demi teknologi itu sendiri. Tujuan utamanya adalah menjadikan inovasi Asia lebih terpercaya, lebih menarik bagi investor, dan lebih mudah diterapkan lintas negara.

Sementara di Indonesia, perkembangan AI juga mulai pesat dan mendapatkan perhatian khusus, salah satunya di sektor perbankan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun menyadari perkembangan AI dalam sektor perbankan mengalami peningkatan yang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. AI telah berkembang dari penggunaan machine learning sederhana dan automasi proses menjadi pemanfaatan Generative AI (GenAI) hingga Agentic AI yang mampu melakukan pengambilan keputusan secara lebih otonom.

Diperlukan strategi dalam adopsi AI di sektor keuangan tanah air, sehingga tidak hanya menjadi pasar tetapi turut menangkap peluang ekonomi yang tercipta. Lalu, siapkah Indonesia menangkap peluang tersebut, khususnya dari sisi infrastruktur seperti data center, kapasitas komputasi, cloud, konektivitas, infrastruktur pendukung, dan sumber daya manusia?

Untuk mengupas tentang potensi, dampak, hingga tantangan adopsi AI di tanah AI, CNBC Indonesia bersama Bank DBS Indonesia menghadirkan Coffee Morning, pada Selasa, 3 November 2026. Dengan mengusung tema “Beyond AI Adoption: Indonesia’s Role in the AI Economy”, akan hadir sejumlah pembicara dari berbagai pemangku kepentingan yang akan memberikan perspektifnya terkait adopsi AI dan dampaknya. Para narasumber juga akan membahas langkah konkret dan sinergi Indonesia untuk menangkap peluang AI di Indonesia.

Forum ini diharapkan dapat menghadirkan diskusi yang konstruktif dan kolaboratif antar pemangku kepentingan demi mewujudkan adopsi AI yang berdaya agar Indonesia hanya tidak menjadi pasar. Simak selengkapnya di CNBC Indonesia.

(dpu/dpu)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *