
Jakarta, CNBC Indonesia – Harga emas dunia masih mempertahankan struktur bullish, meski pergerakannya diperkirakan tetap volatil pekan ini. Sentimen positif dari naiknya pembelian emas bank sentral akan dihadapkan pada kekhawatiran data inflasi Amerika Serikat (AS).
Merujuk Refinitiv, harga emas pada hari ini Senin (7/9/2026) pukul 06.34 WIB, harga emas melemah tipis 0,02% ke US$ 4427 per troy ons.
Pelemahan ini memperpanjang tren negatifnya. Pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (4/9/2026) ditutup di posisi US$ 4427,7 per troy ons. Harganya jatuh 1%.
Dalam sepekan, harga emas juga jatuh 0,56%. Artinya, harga emas sudah jatuh dua pekan beruntun.
Emas (XAU) ditutup melemah pada akhir pekan lalu setelah data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang kuat meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada September.
Penguatan imbal hasil (yield) US Treasury dan dolar AS turut memberikan tekanan terhadap emas. Kenaikan harga minyak juga menjadi perhatian karena berpotensi menjaga inflasi tetap tinggi, sehingga dapat mempersempit ruang The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter.
Harga emas sempat melonjak mendekati US$4.700 per troy ounce pada awal pekan lalu sebelum terkoreksi tajam hingga sekitar US$4.450. Namun, emas kembali bangkit, menunjukkan investor masih aktif melakukan pembelian ketika harga turun.
Meski terkoreksi di akhir pekan lalu, tren bullish emas belum patah. Permintaan emas dari China, ketidakpastian geopolitik, serta ekspektasi bahwa kondisi moneter pada akhirnya dapat menjadi lebih longgar masih menjadi penopang harga.
Inflasi AS Jadi Penentu Berikutnya
Perhatian pasar kini beralih ke data inflasi AS, terutama Producer Price Index (PPI) dan Consumer Price Index (CPI). Data tersebut akan menjadi indikator penting bagi investor dalam memperkirakan langkah The Fed berikutnya.
Jika inflasi AS kembali panas, dolar AS berpotensi menguat dan ekspektasi kebijakan moneter ketat meningkat. Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan terhadap harga emas.
Sebaliknya, jika inflasi melandai, dolar berpotensi melemah dan ekspektasi penurunan suku bunga kembali menguat sehingga dapat menjadi katalis positif bagi emas.
China Jadi Penopang Emas
Selain faktor The Fed, permintaan fisik dari China menjadi sumber dukungan penting bagi emas. China dilaporkan membeli lebih dari 40 ton emas melalui pasar over-the-counter (OTC) London pada Juni, yang menjadi pembelian bulanan terbesar kedua sejak awal 2025.
Pembelian tersebut menarik perhatian karena jumlahnya lebih besar dibandingkan angka yang secara resmi dilaporkan oleh People’s Bank of China. Hal ini membuka kemungkinan bahwa akumulasi emas China sebenarnya lebih besar dibandingkan data cadangan resmi.
China juga telah mempertahankan tren pembelian emas selama sekitar 20 bulan, menunjukkan minat strategis negara tersebut terhadap logam mulia masih kuat.
Emas Diprediksi Volatil Pekan Ini
Prospek emas pekan ini masih terbelah. Survei menunjukkan 38% analis Wall Street memperkirakan harga emas naik, sementara 31% memprediksi penurunan dan 31% lainnya memperkirakan harga bergerak sideways dengan volatilitas tinggi.
Di kalangan investor individu, dari 220 responden, 55% memperkirakan emas naik, 24% memperkirakan turun dan 21% memperkirakan pergerakan sideways atau belum memiliki arah yang jelas.
Dalam jangka pendek, emas diperkirakan bergerak dalam kisaran US$4.320-US$4.670 per troy ounce. Level US$4.280 menjadi support penting. Jika level tersebut ditembus, harga emas berpotensi kembali turun menuju US$4.200 per troy ounce.
Dengan demikian, emas masih memiliki fondasi bullish, tetapi jalan menuju rekor baru tidak akan mudah. The Fed, inflasi AS, dolar, yield Treasury, serta permintaan China akan menjadi faktor utama yang menentukan arah emas dalam waktu dekat.
Harga Perak Tak Bergerak
Harga perak nyaris tidak bergerak. Pada hari ini, Senin (7/9/2026) pukul 06.42 WIB, harga perak ada di SU$ 66,19 atau hanya melemah 0,003%.
Pelemahan ini melanjutkan tren negatifnya di mana harganya jatuh 1,14% pada Jumat pekan lalu.
(mae/mae)
Leave a comment