Home Finance Aneh! Biaya Hidup Mencekik, Warga AS Malah Hamburkan Uang Demi Hiburan
Finance

Aneh! Biaya Hidup Mencekik, Warga AS Malah Hamburkan Uang Demi Hiburan

Share
Aneh! Biaya Hidup Mencekik, Warga AS Malah Hamburkan Uang Demi Hiburan
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – Bersenang-senang kini semakin mahal di Amerika Serikat (AS). Harga tiket pesawat naik, biaya perjalanan membengkak, dan perlengkapan untuk melakukan hobi ikut menguras kantong.

Namun, masyarakat AS rupanya belum ingin mengorbankan kesenangan mereka.

Alih-alih berhenti mengeluarkan uang, banyak konsumen disana justru tetap berbelanja demi hobi mereka, mulai dari membuat kerajinan tangan, bermain game, hingga melakukan kegiatan di alam terbuka.

Fenomena tersebut dikenal sebagai “funflation”, yakni kenaikan biaya yang harus dikeluarkan seseorang untuk menikmati waktu luang.

Mengutip CNBC International, analisis terbaru Bank of America (BofA) menunjukkan bahwa funflation sedang meningkat. Meski demikian, kenaikan harga belum membuat konsumen memangkas pengeluaran untuk hobi.

Belanja hobi masyarakat AS tercatat tumbuh 7,9% secara tahunan pada Agustus 2026. Angka tersebut mencakup pengeluaran di toko seni dan kerajinan, toko perlengkapan hobi, serta penjual peralatan ski, mendaki gunung, berkemah, dan menyelam.

Pertumbuhan nilai belanja itu lebih dari dua kali lipat dibandingkan kenaikan jumlah transaksi yang hanya sebesar 3,4%. Ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya semakin sering membeli kebutuhan hobi, tetapi juga mengeluarkan uang lebih banyak setiap kali berbelanja.

Biaya Bersenang-senang Ikut Naik

John Gathergood, profesor ekonomi dari University of Nottingham, Inggris, menjelaskan bahwa funflation dapat terlihat dalam berbagai pengeluaran kecil hingga besar.

“Funflation adalah meningkatnya biaya untuk menjalankan kegiatan pada waktu luang. Kenaikannya terlihat mulai dari harga bensin untuk mobil akhir pekan hingga es krim saat liburan,” kata Gathergood kepada CNBC International.

Data Indeks Harga Konsumen AS juga memperlihatkan kenaikan biaya rekreasi. Indeks tersebut meningkat 2,7% dalam 12 bulan hingga Agustus 2026.

Komponen rekreasi mencakup berbagai kebutuhan seperti perangkat video dan audio, hewan peliharaan beserta layanannya, perlengkapan olahraga, fotografi, hingga bahan bacaan.

Meski harganya naik, penjualan barang-barang yang berkaitan dengan hobi justru melaju kencang.

Penjualan di toko perlengkapan olahraga, hobi, alat musik, dan buku meningkat 10,7% dalam 12 bulan hingga Agustus. Pertumbuhan tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan kenaikan penjualan ritel dan jasa makanan AS secara keseluruhan yang sebesar 6%.

Kondisi ini tidak selalu berarti masyarakat memiliki lebih banyak uang untuk dibelanjakan. Akan tetapi, sebagian konsumen diduga hanya mengalihkan pengeluaran dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya.

“Ketika harga naik, konsumen mungkin mengganti satu kegiatan dengan kegiatan lain,” ujar Gathergood.

Menurutnya, hobi yang dapat dilakukan di rumah bisa menggantikan liburan ke luar kota atau luar negeri. Hal serupa terjadi pada makanan, ketika masyarakat memilih memasak sendiri untuk menggantikan kebiasaan makan di restoran.

“Jadi, masyarakat mungkin membelanjakan lebih banyak uang untuk hobi, tetapi mengurangi pengeluaran pada kegiatan lain yang digantikan oleh hobi tersebut,” tuturnya.


Perjalanan Makin Mahal

Perubahan pola belanja tersebut terlihat semakin jelas ketika biaya perjalanan mengalami kenaikan.

Berdasarkan data transaksi kartu, analis BofA melihat pertumbuhan belanja hobi dalam beberapa bulan terakhir kemungkinan terjadi karena masyarakat mulai mengurangi perjalanan. Mereka kemudian mengalihkan sebagian anggaran liburan untuk menjalankan kegiatan lain.

Dalam analisis tersebut, perjalanan tidak dimasukkan ke dalam kategori hobi.

Biaya perjalanan meningkat tajam setelah perang AS dan Iran mendorong kenaikan harga bahan bakar pesawat. Harga bahan bakar jet mencapai US$194 per barel pada 18 September 2026.

Menurut International Air Transport Association (IATA), harga tersebut melonjak 116% dibandingkan rata-rata tahun sebelumnya.

Lonjakan bahan bakar kemudian ikut mengerek harga tiket pesawat.

Berdasarkan data pemerintah AS pada Agustus, harga tiket penerbangan telah meningkat 26,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan sebesar itu membuat sebagian konsumen harus memilih. Mereka dapat tetap bepergian dengan biaya lebih besar atau mencari kegiatan yang lebih terjangkau di sekitar rumah.

“Dengan tidak bepergian ke luar negeri, konsumen bisa menyediakan cukup banyak uang untuk dibelanjakan pada hobi di rumah,” kata Gathergood.

Pilihan hiburannya cukup beragam. Uang yang sebelumnya disiapkan untuk tiket pesawat dan hotel dapat dialihkan untuk membeli konsol game, perlengkapan olahraga, alat musik, kebutuhan berkebun, atau bahan membuat kerajinan tangan.

Liburan Belum Sepenuhnya Ditinggalkan

Mahalnya perjalanan bukan berarti semua masyarakat AS berhenti berlibur.

Dan Wasiolek, analis saham senior Morningstar, mengatakan pandemi Covid-19 telah mempercepat perubahan cara masyarakat menggunakan uangnya.

Menurutnya, konsumen semakin tertarik membelanjakan uang untuk pengalaman dibandingkan hanya membeli barang. Perubahan tersebut tetap bertahan meskipun kepercayaan konsumen dan tabungan mulai tertekan.

“Pandemi Covid-19 mempercepat pergeseran menuju pengeluaran untuk pengalaman dibandingkan barang,” kata Wasiolek kepada CNBC International.

Keluarga berpendapatan tinggi masih melakukan perjalanan meskipun harus membayar lebih mahal. Masyarakat AS secara umum juga tetap merencanakan liburan selama musim panas.

Survei PwC terhadap lebih dari 2.000 orang dewasa pada April menunjukkan bahwa rata-rata anggaran perjalanan selama musim panas mencapai hampir US$2.900.

Sebanyak 71% responden bahkan memperkirakan pengeluaran perjalanan mereka akan sama besar atau lebih tinggi dibandingkan musim panas sebelumnya.

Data tersebut menunjukkan adanya perbedaan kemampuan di antara konsumen. Sebagian orang masih mampu menyerap kenaikan biaya perjalanan, sedangkan kelompok lainnya mulai mencari hiburan yang lebih dekat dan lebih murah.

Milenial Paling Banyak Belanja Hobi

Cara masyarakat menjalankan hobi juga berbeda menurut generasi.

Analisis BofA menemukan bahwa generasi milenial yang lebih tua mengeluarkan uang paling banyak untuk hobi selama tiga bulan hingga Agustus 2026.

Rata-rata pengeluaran mereka lebih dari dua kali lipat dibandingkan Gen Z. Dalam analisis tersebut, Gen Z menjadi kelompok dengan pengeluaran hobi paling rendah.

Perbedaan ini kemungkinan dipengaruhi oleh pendapatan dan fase kehidupan. Milenial yang lebih tua umumnya telah bekerja lebih lama dan memiliki kemampuan belanja lebih besar, sedangkan banyak anggota Gen Z baru memasuki dunia kerja.

Namun, rendahnya pengeluaran Gen Z tidak menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki hobi. Generasi tersebut kemungkinan memilih kegiatan yang biayanya jauh lebih murah.

“Menurut kami, hal ini menunjukkan bahwa generasi tersebut kemungkinan lebih banyak memilih hobi yang terjangkau, seperti seni, kerajinan tangan, dan permainan papan,” tulis analis BofA.

Pilihan hobi juga mulai bergerak ke kegiatan yang dahulu lebih sering dikaitkan dengan generasi yang lebih tua. Tren ini dikenal sebagai granny core.

“Kondisi tersebut juga mungkin mencerminkan pergeseran menuju kegiatan bergaya granny core, seperti merajut, menjahit, atau membuat kue,” tulis analis BofA.

Kegiatan tersebut dapat dilakukan di rumah dan tidak membutuhkan biaya sebesar perjalanan atau olahraga luar ruangan. Selain lebih murah, hasilnya juga mudah dibagikan melalui media sosial sehingga kembali menarik perhatian generasi muda.

Video Game Tetap Diminati

Di tengah perubahan tersebut, video game menjadi salah satu hobi yang terus mendapatkan tempat di berbagai kelompok usia.

BofA menemukan bahwa pengeluaran untuk video game per orang meningkat cukup besar di seluruh generasi dalam 12 bulan hingga Agustus 2026.

Gen Z memang mencatat kenaikan paling kecil dibandingkan kelompok usia lainnya. Namun, belanja video game kelompok ini tetap tumbuh 20%.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa konsumen belum berhenti mencari hiburan ketika harga-harga naik. Mereka hanya lebih berhati-hati memilih cara untuk bersenang-senang.

Liburan ke luar negeri mungkin diganti dengan berkemah, permainan papan, membuat kue, atau bermain game di rumah. Bentuk kegiatannya dapat berubah, tetapi keinginan untuk menikmati waktu luang tetap sulit dihilangkan.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *