Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan dalam negeri kompak ditutup melemah pada awal perdagangan pekan ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil meredam sentimen negatif dari pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI).
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih volatile pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Meski sempat bergejolak sepanjang perdagangan, indeks akhirnya hanya ditutup melemah tipis pada perdagangan Senin (27/7/2026).
IHSG berakhir di level 6.185,78, turun 10,65 poin atau 0,17%. Padahal, di tengah perdagangan indeks sempat anjlok hingga menyentuh 6.144,27, sebelum akhirnya memangkas sebagian besar pelemahan dan kembali mendekati level psikologis 6.200 pada penutupan.
Di sisi atas, IHSG sempat menyentuh level tertinggi harian 6.219,42.
Sebanyak 307 saham menguat, 341 saham melemah, dan 147 saham stagnan.
Asing mencatat net sell sebesar Rp 820,67 miliar.
Kemampuan IHSG memangkas tekanan menunjukkan pelaku pasar belum melakukan aksi jual besar-besaran meski dikejutkan kabar mundurnya Perry Warjiyo pagi tadi.
Investor cenderung memilih menunggu kejelasan arah kebijakan moneter berikutnya setelah pemerintah menunjuk Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti sebagai pelaksana tugas Gubernur BI.
Beralih ke pasar valas, Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (27/7/2026), di tengah sentimen domestik setelah Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengundurkan diri.
Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup terdepresiasi 0,36% ke posisi Rp18.000/US$. Posisi tersebut sekaligus menjadi level terlemah rupiah dalam tujuh hari perdagangan terakhir.
Tekanan terhadap rupiah membesar dibandingkan dengan pembukaan perdagangan kemarin pagi. Mata uang Garuda awalnya dibuka melemah 0,14% ke posisi Rp17.960/US$, kemudian kehilangan 40 poin hingga berakhir tepat di level psikologis Rp18.000/US$.
Rupiah bergerak berlawanan dengan mayoritas mata uang Asia yang justru menguat. Mata uang kawasan mendapat tenaga dari pelemahan dolar AS dan jeda serangan antara AS dan Iran selama akhir pekan.
Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah perhatian pasar terhadap pergantian kepemimpinan di Bank Indonesia (BI). Perry Warjiyo mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Gubernur BI pada Sabtu (25/7/2026) karena alasan pribadi.
Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun tetap stagnan di angka 7,374% selama tiga hari terakhir.
Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan Senin atau Selasa dini hari waktu Indonesia. Bursa beragam di tengah tekanan pada saham-saham semikonduktor yang mulai memangkas pelemahan, sementara harga minyak anjlok.
Indeks Dow Jones Industrial Average naik 262,83 poin atau 0,51% ke level 52.210,08. S&P 500 menguat tipis 0,02% ke 7.413,18, sedangkan Nasdaq Composite turun 0,18% ke 24.932,08.
Saham-saham semikonduktor bergerak melemah secara luas, meski berhasil memangkas penurunan dari level terendah intraday.
ETF VanEck Semiconductor (SMH) turun lebih dari 2%, memperpanjang pelemahan pada Jumat lalu. AMD dan Teradyne masing-masing anjlok 5% dan 4%, menjadi penekan terbesar, sementara Micron Technology turun sekitar 2%.
Sebelumnya, saham produsen chip sempat menguat setelah perusahaan chip asal China, CXMT, mencatatkan IPO yang sangat sukses di Bursa Shanghai pada Senin.
Namun, menurut Thomas Martin, Senior Portfolio Manager sekaligus Partner di Globalt Investments, masih terdapat ketidakpastian besar terkait perusahaan-perusahaan China.
“Masih banyak ketidakpastian mengenai apa yang terjadi pada perusahaan-perusahaan China. Persaingan sangat ketat dan perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat di pasar yang kompetitif,” ujar Martin kepada CNBC International.
Sentimen pasar semakin tertekan setelah The Information melaporkan, China mulai mengembangkan mesin deep ultraviolet (DUV) lithography, teknologi yang digunakan dalam produksi semikonduktor. Laporan ini semakin membebani saham-saham sektor chip.
Saham ASML, perusahaan Belanda yang menjadi pemain dominan di teknologi tersebut, jatuh hampir 6% setelah laporan tersebut dirilis.
Selain itu, investor juga mulai merombak portofolio mereka di tengah tanda-tanda mulai meredanya euforia kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), terutama karena indeks saham masih berada di bawah rekor tertinggi yang dicapai pada akhir Juni.
Pada perdagangan kali ini, sektor communication services dan consumer staples menjadi sektor dengan kinerja terbaik.
“Saat ini ketidakpastian di sektor teknologi sangat besar. Investor masih mencari arah dan mempertimbangkan apakah perlu memindahkan sebagian dana mereka ke sektor lain,” ujar Martin.
Harga minyak anjlok
Harga minyak dunia merosot setelah Amerika Serikat dan Iran menghentikan sementara aksi saling serang.
Kontrak minyak mentah Brent untuk pengiriman September turun 8,7% menjadi US$88,36 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 7,5% dan ditutup di US$82,61 per barel.
Pasar menanti laporan keuangan raksasa teknologi dan keputusan The Fed
Pekan ini diperkirakan menjadi periode yang krusial bagi pasar saham AS. Investor akan mencermati laporan keuangan sejumlah raksasa teknologi, yakni Amazon, Apple, Meta Platforms, dan Microsoft.
Hasil kinerja keempat perusahaan tersebut akan menjadi penentu apakah kekhawatiran investor terhadap besarnya belanja AI akan mereda atau justru semakin meningkat, menyusul laporan keuangan Alphabet yang mengecewakan pekan lalu.
Kinerja mereka juga akan berdampak langsung pada prospek perusahaan-perusahaan semikonduktor yang menjadi penerima manfaat utama dari lonjakan investasi AI.
Di sisi lain, perhatian pasar juga tertuju pada keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) yang akan diumumkan pada Rabu.
Konsensus pasar masih memperkirakan bank sentral AS akan menaikkan suku bunga pada September.
Namun, berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar juga mulai memperhitungkan peluang yang cukup besar bahwa The Fed dapat menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin lebih cepat, yakni pada pertemuan pekan ini.
Pasar keuangan Indonesia dikejutkan dengan mundurnya Perry Warjiyo kemarin. Setelah kabar mengejutkan tersebut, pasar keuangan diharapkan lebih tenang hari ini meski masih banyak ancaman.
Dari sisi eksternal, dimulainya rapat The Federal Open Market Committee (FOMC) akan menjadi penggerak selain data-data ekonomi. Dari dalam negeri, publik masih menunggu kelanjutan dari perkembangan mundurnya Perry.
1. Perkembangan Perang
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim pembicaraan dengan Iran berlangsung positif dan membuka peluang tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri konflik. Namun, Trump menegaskan serangan militer AS akan kembali dilanjutkan jika negosiasi tidak membuahkan hasil.
“Kami sedang melakukan pembicaraan yang baik. Jika berhasil, itu bagus. Jika tidak, kami akan kembali melakukan apa yang kami lakukan dua hari lalu,” kata Trump.
Meski Washington telah menghentikan sementara kampanye serangan udara selama dua pekan, ketegangan di Timur Tengah belum mereda. Arab Saudi, Yordania, dan Irak melaporkan serangan drone, sementara Iran menuding AS berupaya menerapkan blokade maritim ilegal di perairannya.
Teheran juga menegaskan masih menguasai Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi jalur sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Di sisi lain, media pemerintah Iran mengklaim enam kapal asing dipaksa berbalik karena mencoba melintasi selat tersebut tanpa izin.
Harapan meredanya konflik membuat harga minyak dunia anjlok. Minyak mentah WTI turun 8,21% ke US$81,98 per barel, sedangkan Brent merosot 9,31% ke US$87,77 per barel.
Menurut Reuters, keputusan Trump menghentikan sementara serangan didasarkan pada rekomendasi militer AS yang menilai operasi pengeboman telah mencapai batas efektivitas karena target strategis semakin terbatas. Namun, Trump membantah AS mengalami kekurangan amunisi dan menegaskan persediaan senjata terus diperkuat.
Sementara itu, Iran menyatakan tetap membuka jalur diplomasi melalui mediator. Washington dan Teheran sebelumnya telah menyepakati kerangka negosiasi hingga akhir Agustus untuk membahas isu-isu utama, termasuk program nuklir Iran. Namun, kedua negara masih berselisih mengenai hak pengawasan dan kebebasan pelayaran di Selat Hormuz.
2. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo Mundur
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memutuskan undur diri dari jabatannya sejak Sabtu (25/7/2026). Surat pengunduran diri pun telah disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto.
Dalam penjelasan resmi Bank Indonesia (BI), pengunduran diri Perry dari jabatan Gubernur BI dilakukan secara sukarela karena alasan pribadi.
“Pengunduran diri Saudara Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia secara sukarela karena alasan pribadi,” dikutip Senin (27/7/2026).
Sesuai dengan pasal 48 ayat (1) huruf (a) UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan UU No. 4 Tahun 2026 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU BI), maka Dewan Gubernur dalam Rapat Dewan Gubernur pada 26 Juli 2026 menetapkan Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti, sebagai pejabat Gubernur sementara sesuai pasal 50 ayat (2) UU BI.
Dewan Gubernur BI pun memastikan keberlangsungan tugas dan wewenang untuk mencapai stabilitas nilai rupiah, memelihara stabilitas Sistem Pembayaran, dan turut menjaga stabilitas Sistem Keuangan dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, yang dapat menciptakan lingkungan ekonomi yang kondusif bagi pertumbuhan sektor riil dan penciptaan lapangan kerja sesuai dengan amanat UU BI.
Dalam melaksanakan tugas dan wewenang tersebut, dewan gubernur BI tetap mengutamakan tata kelola kelembagaan yang baik dan profesional, dan akan terus bersinergi dan berkoordinasi dengan pemerintah dalam menjalankan tugas dan amanat masing-masing.
Untuk sementara, jabatan Gubernur BI dipegang Destry Damayanti yang juga menjadi Deputi Senior BI.
3. Prabowo Minta KSSK Libatkan Danantara
Presiden Prabowo Subianto meminta Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara dilibatkan dalam setiap rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Langkah ini diharapkan membuat setiap kebijakan KSSK tidak hanya mempertimbangkan aspek fiskal dan moneter, tetapi juga dampaknya terhadap dunia usaha dan perekonomian secara menyeluruh.
CEO BPI Danantara Rosan Roeslani mengatakan arahan tersebut disampaikan Presiden saat rapat terbatas di Istana Negara, Senin (27/7/2026).
“Ke depan KSSK diminta melibatkan Danantara dalam setiap pengambilan keputusan agar kebijakannya memiliki dampak langsung terhadap perekonomian, tidak hanya dari sisi fiskal dan moneter, tetapi melihat keseluruhan ekosistem,” ujar Rosan.
Konferensi pers hasil rapat berkala KSSK tahun 2026 di Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (7/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman) Foto: Konferensi pers hasil rapat berkala KSSK tahun 2026 di Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (7/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
|
Rosan mengungkapkan Danantara akan mulai mengikuti rapat rutin KSSK setiap bulan. Rapat pada Senin menjadi kali pertama sovereign wealth fund Indonesia tersebut bergabung dalam forum yang selama ini beranggotakan Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Menurut Rosan, pelibatan Danantara diharapkan memperkuat koordinasi kebijakan ekonomi, stabilitas sistem keuangan, serta mendorong keputusan yang lebih berdampak pada investasi, sektor riil, dan pertumbuhan ekonomi nasional.
4. Prabowo Panggil Rosan Cs, Rapat Soal Pemangkasan BUMN-Industri Kapal
CEO Danantara Rosan Roeslani mengungkapkan hasil rapat yang dilakukan bersama Prabowo Subianto, di Istana Negara, Senin (27/7/2026). Rapat yang dimulai siang ini, membahas mengenai pemangkasan jumlah BUMN hingga industri perkapalan.
Rapat dihadiri juga Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi Brian Yuliarto, COO Danantara Dony Oskaria, CTO Danantara Sigit Puji Santosa.
“Update beberapa hal berhubungan dengan Danantara. Diantaranya kita update streamlining dari perusahaan BUMN yang pokoknya akhir bulan ini streamlining (penyederhanaan), kan sudah 250 (perusahaan), bahkan bisa mungkin lebih dari 250 perusahaan,” tutur Rosan, usai rapat.
“Seperti penggabungan aset management di perbankan, di bidang finansial, PNM gitu juga kita lakukan, kemudian di bidang logistik, kemudian penggabungan di bidang apa diakseleerasi lebih lanjut untuk yang rumah sakit dan perhotelan,” tuturnya.
Dari rapat juga dibahas rencana mengadakan Danantara Housing, atau program pembelian hunian miliki perusahaan plat merah yang mendapatkan bunga rendah.
“Kemudian juga rencana kita akan melakukan… kan ada beberapa pembangunan sifatnya apartemen atau rumah yang selama ini belum… sudah dibangun oleh BUMN tapi belum bisa terjual, kita akan mengadakan Danantara Housing untuk itu bisa dibeli oleh masyarakat dengan suku bunga yang lebih menarik dan juga dengan cara pembayaran yang lebih baik,” katanya.
Terkait industri perkapalan, menurut Rosan, presiden meminta adanya pengembangan armada untuk kapal logistik Indonesia. Melihat banyaknya pengiriman barang menggunakan kapal berbendera asing.
“Yang di mana sekarang dilihat oleh Bapak Presiden, pengiriman barang-barang itu 95% berbendera asing. Bagaimana supaya ini ke depannya juga supaya bisa berbendera Indonesia, dan diminta rencana pengembangannya itu seperti apa,” katanya.
5. Durable Goods Orders Amerika Serikat
Pesanan barang tahan lama (durable goods) di Amerika Serikat kembali tumbuh pada Juni 2026, tetapi kenaikannya jauh lebih rendah dari ekspektasi pasar. Pada Senin, Durable Goods Orders Amerika Serikat menunjukkan pesanan baru naik 0,3% secara bulanan menjadi US$334,8 miliar. Angka ini menjadi perbaikan setelah pada Mei pesanan anjlok 4%, namun masih tertinggal dari proyeksi ekonom yang memperkirakan kenaikan 1,6%.
Durable goods merupakan barang manufaktur yang memiliki masa pakai lebih dari tiga tahun, seperti kendaraan, pesawat, mesin industri, komputer, dan peralatan elektronik. Pergerakan indikator ini kerap dijadikan acuan untuk melihat minat investasi dunia usaha serta kekuatan sektor manufaktur di Amerika Serikat.
Jika komponen transportasi yang cenderung berfluktuasi tinggi dikeluarkan, pesanan baru meningkat 0,6% pada Juni. Sementara itu, pesanan di luar sektor pertahanan naik 0,3%, menandakan permintaan di sebagian besar sektor manufaktur masih bertahan meski belum menunjukkan akselerasi yang kuat.
Pendorong utama kenaikan berasal dari kelompok komputer dan produk elektronik. Pesanan pada sektor ini bertambah US$0,9 miliar atau 3,1% menjadi US$31,1 miliar. Kinerja tersebut melanjutkan tren positif setelah industri ini mencatat kenaikan pada sembilan dari sepuluh bulan terakhir. Data tersebut mengindikasikan belanja perangkat teknologi oleh pelaku usaha masih cukup solid di tengah suku bunga yang tetap tinggi.
Meski kembali mencatat pertumbuhan, capaian Juni mengisyaratkan pemulihan investasi manufaktur berlangsung lebih lambat dari yang diharapkan. Hasil yang berada di bawah konsensus menunjukkan perusahaan masih berhati-hati dalam melakukan pembelian barang modal bernilai besar.
Pelaku pasar pun merespons data ini secara terbatas. Indeks dolar Amerika Serikat (US Dollar Index/DXY) tercatat melemah sekitar 0,05% ke level 101,40 sesaat setelah data diumumkan, mencerminkan bahwa rilis tersebut belum cukup kuat untuk mengubah ekspektasi investor terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
6. China’s Industrial Profit YoY
Laba perusahaan industri di China masih mencatat pertumbuhan kuat pada semester I-2026, meski lajunya sedikit melambat.
Data National Bureau of Statistics (NBS) China menunjukkan laba industri sepanjang Januari-Juni 2026 naik 18,7% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi CNY 3,95 triliun. Angka tersebut sedikit lebih rendah dibanding pertumbuhan 18,8% pada periode Januari-Mei.
Kinerja ini terutama ditopang oleh ekspor yang tetap solid di tengah permintaan domestik yang masih lemah. Kondisi tersebut menunjukkan pemulihan ekonomi China belum berlangsung merata, meskipun pemerintah terus berupaya mendorong konsumsi melalui berbagai stimulus.
Dilihat berdasarkan kepemilikan perusahaan, laba BUMN meningkat 17,9% menjadi CNY 1,30 triliun. Perusahaan berbentuk joint-stock mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni 24,7% menjadi CNY 3,04 triliun, sementara perusahaan swasta membukukan kenaikan laba 13% menjadi CNY 965,56 miliar.
Dari sisi sektor, industri pertambangan menjadi motor utama dengan pertumbuhan laba 33,5%, diikuti sektor manufaktur yang naik 20,1%. Sebaliknya, sektor utilitas mengalami penurunan laba 4,2%. Sementara berdasarkan jenis industri, lonjakan terbesar terjadi pada peleburan dan pengolahan logam nonferrous yang melonjak 99,4%, disusul industri komputer, komunikasi, dan peralatan elektronik 96,9%, serta industri kimia 67,8%.
Meski kinerja semester pertama masih kuat, pertumbuhan mulai melambat pada Juni. Laba industri bulan tersebut naik 15,1% dibanding periode yang sama tahun lalu, lebih rendah dibanding kenaikan 21,1% pada Mei. Perlambatan ini menunjukkan sektor industri China masih sangat bergantung pada kekuatan ekspor untuk menopang pertumbuhan di tengah konsumsi domestik yang belum sepenuhnya pulih.
7. Rapat Politbiro China
Masih dari negeri tirai bambu, rapat Politbiro Juli menjadi salah satu agenda yang paling dinanti pelaku pasar pekan ini. Pertemuan tahunan para petinggi Partai Komunis China yang dipimpin Presiden Xi Jinping tersebut diperkirakan berlangsung pada 28-31 Juli 2026.
Investor akan mencermati hasil rapat karena biasanya menjadi penentu arah kebijakan ekonomi China pada paruh kedua tahun ini. Setelah rapat berakhir, kantor berita Xinhua akan merilis ringkasan yang mencakup evaluasi kinerja ekonomi semester I, target dan prioritas kebijakan untuk semester II, sikap pemerintah terhadap stimulus ekonomi, sektor properti, konsumsi, investasi, hingga arah kebijakan fiskal dan moneter.
Presiden China Xi Jinping dan Perdana Menteri Li Keqiang, kiri, dan anggota Politbiro Wang Yang terlihat saat mantan Presiden Hu Jintao, tengah, berbicara kepada mereka saat dia dibantu untuk pergi lebih awal dari sesi penutupan tanggal 20 Kongres Nasional Partai Komunis Tiongkok, di Aula Besar Rakyat pada 22 Oktober 2022 di Beijing, Tiongkok. (Getty Images/Kevin Frayer) Foto: Presiden China Xi Jinping dan Perdana Menteri Li Keqiang, kiri, dan anggota Politbiro Wang Yang terlihat saat mantan Presiden Hu Jintao, tengah, berbicara kepada mereka saat dia dibantu untuk pergi lebih awal dari sesi penutupan tanggal 20 Kongres Nasional Partai Komunis Tiongkok, di Aula Besar Rakyat pada 22 Oktober 2022 di Beijing, Tiongkok. (Getty Images/Kevin Frayer)
|
Presiden China Xi Jinping dan Perdana Menteri Li Keqiang, kiri, dan anggota Politbiro Wang Yang terlihat saat mantan Presiden Hu Jintao, tengah, berbicara kepada mereka saat dia dibantu untuk pergi lebih awal dari sesi penutupan tanggal 20 Kongres Nasional Partai Komunis Tiongkok, di Aula Besar Rakyat pada 22 Oktober 2022 di Beijing, Tiongkok.
Bagi pasar global, hasil rapat Politbiro kerap menjadi petunjuk apakah Beijing akan menggelontorkan stimulus tambahan untuk menopang pertumbuhan ekonomi pada semester II-2026. Sinyal stimulus yang lebih agresif berpotensi mengangkat sentimen pasar, terutama saham China dan harga komoditas
8. Harga Minyak Melemah
Harga minyak dunia terus melemah pada perdagangan Senin setelah Arab Saudi berhasil mencegat serangan drone dari Irak. Di saat yang sama, kelompok Houthi mengklaim menyerang infrastruktur minyak Arab Saudi di Laut Merah.
Kontrak minyak mentah Brent untuk pengiriman September turun 8,7% menjadi US$88,36 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 7,5% dan ditutup di US$82,61 per barel.
Analis PVM John Evans mengatakan pasar masih menunggu kepastian karena jeda konflik belum menjamin pasokan minyak kembali normal. Senada, analis memperkirakan pasar minyak tetap volatil karena arus pasokan masih terganggu.
Data Kpler menunjukkan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz masih jauh di bawah normal, sementara StoneX menyebut ekspor Timur Tengah tetap terbatas sehingga banyak kapal harus mengambil rute yang lebih panjang melalui Terusan Suez.
Selain itu, produksi minyak Kazakhstan sempat anjlok akibat penutupan terminal ekspor di Laut Hitam sebelum akhirnya kembali beroperasi.
9 Rapat FOMC, Penentu Suku Bunga The Fed
Bank sentral AS The Fed akan memulai rapat FOMC pada Selasa waktu AS atau Rabu dini hari Waktu Indonesia. Rapat ini dinantikan dunia karena menentukan suku bunga The Fed yang menjadi acuan dunia. The Fed akan mengumumkan suku bunga pada Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indoensia.
Mayoritas pelaku pasar memperkirakan bank sentral AS kembali mempertahankan suku bunga di kisaran 3,75%. Fokus investor bukan lagi pada keputusan suku bunga, melainkan pesan yang akan disampaikan Ketua The Fed Kevin Warsh dalam konferensi pers setelah rapat.
Sebelumnya, Warsh menegaskan bahwa bank sentral masih menempatkan pengendalian inflasi sebagai prioritas utama. Ia menyebut inflasi yang tinggi selama lima tahun terakhir harus benar-benar dikembalikan menuju target, sembari menilai ekonomi Amerika masih berada dalam kondisi yang kuat.
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
-
Konferensi pers Pra-Rakerkonas APINDO di Gedung Permata Kuningan, Jakarta Selatan
-
Kementerian Perdagangan akan mengadakan diskusi publik terkait Depot Air Minum Isi Ulang (DAMIU) di Auditorium Kemendag, Jakarta Pusat
-
Demo Day & Awarding Astranauts 2026 di Catur Dharma Hall, Menara Astra, Jakarta Pusat
-
Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan menyampaikan keynote speech pada seminar nasional di Perbanas Institute Kampus Jakarta
-
Konferensi pers paparan kinerja semester I tahun 2026 Bank BCA via zoom meeting.
- Rapat Politibiro China
- Rapat FOMC The Fed
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Salim Ivomas Pratama Tbk
RENCANA Rupo emisi Obligasi Berkelanjutan II Wijaya Karya Tahap II Tahun 2022
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Prime Agri Resources Tbk
PANGGILAN RupSu emisi Sukuk Mudharabah Berkelanjutan II Wijaya Karya Tahap II Tahun 2022
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
CNBC INDONESIA RESEARCH
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.


Leave a comment