
Jakarta, CNBC Indonesia – Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia menyatakan, bahwa saat ini Indonesia sudah melakukan Kerjasama dengan beberapa befar untuk mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).
Atas Kerjasama itu, Bahlil menegaskan, bahwa salah satu diantaranya pembangkit nuklir itu akan ditempatkan di Kepulauan Riau (Kepri). “Kita sedang studi, yang kita akan taruh di Kepri. Untuk bagaimana menjaga ketahanan energi kita, ini masih dalam perhitungan,” terang Bahlil dalam Konfrensi Pers di Kantor Kementerian ESDM, Senin (26/10/2026).
Sebelumnya Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyampaikan bahwa pemerintah sedang berdiskusi bersama PT PLN (Persero) untuk mematangkan perencanaan energi nuklir nasional.
Ia menekankan penyiapan lokasi tapak harus dilakukan sejak dini mengingat proses pembangunan pembangkit membutuhkan waktu yang panjang.
“Ini… itu kan ada 28 tapak yang sudah disiapkan tempo hari, ini ada beberapa tambahan tapak lagi yang akan kita segera inikan. Karena itu tempo hari itu kan juga ada floating itu rencananya,” ungkap Yuliot saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Pemerintah mematok target agar Indonesia minimal memiliki PLTN berkapasitas 500 Mega Watt (MW) yang terhubung ke jaringan listrik (on-grid) pada 2032-2034. Penyiapan tapak dari sekarang dinilai penting lantaran masa konstruksi PLTN membutuhkan waktu 7 hingga 10 tahun.
“Jadi kalau kita tidak mulai mengonsolidasikan, merencanakan, itu sebenarnya di RUPTL kita tahun 2032-2034 minimal kita sudah memiliki 500 MW yang on-grid. Jadi ini kan kita karena sudah ada target waktu, ini dari sekarang kan kita juga sudah harus menyiapkan, karena pembangunan PLTN itu kan membutuhkan waktu ini 7 tahun sampai dengan 10 tahun. Kalau ini tahun 2034, ya dari sekarang ya kita juga sudah harus menyiapkan ini tapak untuk PLTN itu sendiri,” kata Yuliot.
Dia menilai pemenuhan pasokan listrik skala besar tidak bisa hanya mengandalkan energi baru terbarukan. Pengoperasian PLTN dibutuhkan guna menyediakan daya listrik berkapasitas besar secara stabil dan berkelanjutan.
“Jadi ini kan kebutuhan di beberapa daerah ini kan sistem kelistrikan potensi yang cukup besar ini tidak bisa hanya dari energi baru terbarukan. Ini kan kita juga harus mengembangkan kapasitas listrik yang cukup besar. Kapasitas listrik yang cukup besar itu ini di antaranya itu adalah disuplai dari PLTN, seperti di banyak negara itu seperti di Prancis, itu kan ya mereka suplai kelistrikannya itu kan yang terbesar itu adalah dari PLTN, itu hampir sekitar 70%,” tandasnya.
(pgr/pgr)
Leave a comment