
Jakarta, CNBC Indonesia – Elon Musk memperingatkan bahwa lebih dari 200 perusahaan penyedia infrastruktur cloud AI (dikenal sebagai “neocloud”) akan musnah dalam waktu dekat. Menurutnya, nasib mereka ibarat ikan cere yang tidak mampu bertahan di tengah persaingan ketat.
Musk menyampaikan pandangan itu lewat unggahan di X, menanggapi analisis investor Chamath Palihapitiya. Menurut Musk, pasar utang saat ini hampir menutup akses modal bagi perusahaan yang tidak memiliki pendapatan kokoh terlepas dari bisnis data center AI.
“Artinya, lebih dari 200 perusahaan neocloud akan mengalami kematian dan merger skala ikan cere. Beberapa akan bertahan, tetapi tidak banyak,” tulis Musk.
SpaceX milik Musk sendiri membangun data center dan menjual daya komputasi, sehingga ia adalah pesaing langsung perusahaan-perusahaan ini. CoreWeave misalnya, harga sahamnya anjlok 30 persen, begitu juga Nebius.
Saham-saham ini sempat turun tajam pada awal perdagangan Senin, tetapi memantul kembali ke arah positif di pengujung hari. Kekhawatiran muncul setelah risiko gagal bayar utang CoreWeave melonjak, dan imbal hasil obligasi perusahaan ikut naik.
Para pendukung industri ini, termasuk pemimpin Nvidia Jensen Huang, justru menyatakan permintaan sangat tinggi.
“Permintaan melimpah, yang kurang adalah modal kerja untuk membiayai pertumbuhan itu,” ujar Huang.
Namun Palihapitiya memperingatkan banyak data center yang sedang dibangun justru tidak akan menghasilkan pendapatan setara dengan modal yang dikeluarkan. Modal tersebut, padahal, mayoritas berasal dari utang.
“2027 akan menjadi tahun yang bergolak, banyak taruhan yang salah akan dibersihkan dari pasar,” ujarnya.
Sebelumnya, Dana Moneter Internasional (IMF) mengeluarkan peringatan serius soal AI. Jika cuan yang dinanti tak kunjung datang, pasar dapat runtuh dan guncangan itu akan menjalar ke seluruh perekonomian dunia, dikutip Selasa (20/10/2026).
Miliaran dolar telah digelontorkan untuk membangun data center, membeli chip, dan mengembangkan model AI. Namun hingga saat ini, pengembalian modal tersebut belum sebanding dengan jumlah yang dikeluarkan.
IMF memperingatkan bahwa jika investor mulai menyadari kenyataan ini sekaligus, harga saham perusahaan teknologi dapat anjlok, dan dampaknya tidak akan berhenti di bursa efek saja.
Salah satu pemicu keruntuhan ini adalah utang yang makin menumpuk. Pengelola data center raksasa makin banyak meminjam uang untuk ekspansi, sedangkan investor juga memakai pinjaman untuk ikut berinvestasi di sektor ini. Ketika keuntungan yang dijanjikan tidak terwujud, kemampuan membayar utang ikut hilang, dan sistem keuangan yang saling terhubung dapat runtuh secara berantai.
“Utang [leverage] yang makin membengkak bisa jadi katalis koreksi tersebut. Hyperscaler, operator data center terbesar, berutang makin lama makin bayak. Di sisi lain, investor membeli saham AI juga denganleverage,” kata IMF.
Sistem keuangan industri AI ternyata berputar di antara pemain itu sendiri. Contohnya, NVIDIA menyepakati investasi miliaran dolar ke OpenAI, sedangkan OpenAI justru menjadi salah satu pembeli chip terbesar NVIDIA. Uang yang berputar tampak besar, tetapi sebenarnya berpindah dari satu kantong ke kantong lain dalam lingkaran yang sama. Jika satu pihak terganggu, pihak lain ikut terimbas.
(dem/dem)
Leave a comment