Home Finance Bisa Ditiru RI, Jejak Sukses Malaysia Kelola Migas Melalui Petronas
Finance

Bisa Ditiru RI, Jejak Sukses Malaysia Kelola Migas Melalui Petronas

Share
Bisa Ditiru RI, Jejak Sukses Malaysia Kelola Migas Melalui Petronas
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – Pembahasan Rancangan Undang-Undang Minyak dan Gas Bumi atau RUU Migas dapat menjadi titik penting dalam sejarah pengelolaan energi di Indonesia.

Dalam pembahasan RUU Migas ini, setidaknya ada tiga skenario pembentukan Badan Usaha Khusus Migas (BUK Migas) untuk menggantikan peran Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). Skenarionya adalah menunjuk Pertamina sebagai BUK Migas, membentuk badan baru yang langsung berada di bawah tanggung jawab Presiden, atau mengubah SKK Migas menjadi BUK.

Pada 18 Agustus 2026, delapan fraksi menyetujui RUU Migas menjadi RUU Usul Inisiatif DPR. Pembahasan berikutnya akan menentukan desain BUK, pengelolaan cadangan dan dana migas, pemenuhan kebutuhan domestik dan manfaat bagi daerah penghasil.

RUU tersebut belum menjadi undang-undang final. Namun, apabila fungsi pengelolaan hulu ditempatkan pada tingkat holding Pertamina, Indonesia akan bergerak lebih dekat dengan model Malaysia melalui Petroliam Nasional Berhad atau Petronas.

Berikut riset tim CNBC Indonesia terkait perjalanan dan jejak sukses Malaysia dalam membesarkan BUMN Migas-nya, yakni Petronas. 

Seluruh nilai Petronas dalam artikel ini dikonversi menggunakan kurs tetap RM1 sebesar Rp4.327,50. Sementara angka Pertamina yang berasal dari laporan berdolar AS dikonversi menggunakan kurs tetap US$1 sebesar Rp17.605. Konversi digunakan untuk memperlihatkan skala bisnis dan bukan berdasarkan kurs historis setiap tahun.

Petronas Lahir dari Keputusan Strategis Negara

Malaysia membentuk Petronas pada 17 Agustus 1974 setelah menerbitkan Petroleum Development Act. Undang-undang tersebut memberikan Petronas kepemilikan dan hak eksklusif untuk mengeksplorasi, mengembangkan serta mengelola sumber daya minyak dan gas bumi Malaysia.

Petronas sepenuhnya dimiliki Pemerintah Malaysia. Pembentukannya membuat negara tidak lagi hanya menerima pajak dan royalti, tetapi juga mempunyai lembaga yang menguasai data cadangan, mengelola kontrak dan membangun kemampuan sebagai operator.


Petronas membutuhkan sembilan tahun sejak didirikan hingga mengirimkan LNG pertama ke Jepang. Perusahaan kemudian berekspansi ke sejumlah negara sebelum operasi internasional menjadi penyumbang pendapatan terbesar pada 2008.

Ekspansi internasional Petronas mulai memperoleh pijakan pada 1991 melalui kontrak bagi hasil di Vietnam. Pada 1996, Petronas masuk ke Afrika Selatan melalui Engen dan kemudian memperluas kegiatan internasionalnya ke Sudan, serta berbagai negara lain.

Pendapatan operasi internasional Petronas pada 2008 setara sekitar Rp389,48 triliun atau 40,30% dari pendapatan grup. Untuk pertama kalinya, operasi internasional menjadi penyumbang pendapatan terbesar Petronas.

Negara Memegang Arah, Manajemen Menjalankan Bisnis

Kekuatan model Petronas terletak pada kombinasi antara mandat negara dan pengelolaan secara komersial. Pemerintah Malaysia menetapkan arah strategis, sedangkan manajemen Petronas menjalankan investasi dan bisnis.

Di dalam Petronas terdapat Malaysia Petroleum Management atau MPM yang bertindak atas nama perusahaan dalam mengelola sumber daya migas Malaysia. MPM mengelola kontrak, menawarkan wilayah kerja, menetapkan standar dan mengawasi kontraktor.

Kegiatan operasional dilakukan oleh bisnis hulu Petronas, termasuk Petronas Carigali, serta perusahaan lain yang memperoleh kontrak. Dalam skema ini, MPM bertindak sebagai pengelola sumber daya dan kontrak bagi hasil, sedangkan Petronas Carigali dapat menjadi operator, kontraktor maupun mitra komersial.

Pembagian fungsi ini memungkinkan negara menjaga kendali atas sumber daya, sementara perusahaan tetap bergerak secara komersial.

Petronas juga dapat menghubungkan keputusan hulu dengan kebutuhan fasilitas LNG, jaringan gas, kilang dan petrokimia. Jaringan Peninsular Gas Utilisation sepanjang sekitar 2.623 kilometer menjadi contoh bagaimana produksi gas dihubungkan dengan pembangkit listrik, industri dan pasar.




foto : REUTERS/Bazukifoto : REUTERS/Bazuki

Manfaatnya bagi Negara Lebih Luas daripada Laba

Malaysia memperoleh manfaat dari Petronas melalui dividen, pajak, pembayaran terkait petroleum, pasokan energi, pembangunan industri dan pendapatan internasional.

Pada 2024, kontribusi Petronas kepada pemerintah federal dan negara bagian Malaysia serta National Trust Fund setara sekitar Rp313,31 triliun. Kontribusi tersebut mencapai sekitar Rp292,54 triliun pada 2025.

Kontribusi kepada pemerintah berbeda dengan laba setelah pajak karena mencakup dividen, pajak dan pembayaran lainnya. Sejak 1974, kontribusi kumulatif Petronas kepada pemerintah setara sekitar Rp6,92 kuadriliun.

Petronas juga membantu menjaga pasokan energi sekaligus membangun operator, tenaga ahli dan perusahaan jasa migas nasional. Ekspansi internasional selanjutnya menciptakan pendapatan dari luar negeri.

Sekitar 60,24% pendapatan Petronas pada 2025 berasal dari pelanggan di luar Malaysia. Angka tersebut mencakup ekspor dari Malaysia dan penjualan internasional, sehingga tidak seluruhnya berasal dari produksi aset Petronas di negara lain.

Petronas membagi pendapatan berdasarkan lokasi pelanggan menjadi Malaysia, Asia di luar Malaysia dan negara-negara lainnya. Perusahaan tidak memublikasikan pendapatan setiap negara secara terperinci.





Di Asia, jejak bisnis atau pasar Petronas mencakup antara lain China, Jepang, Brunei, Indonesia, Irak, Turkmenistan dan Vietnam.

Di kawasan Amerika, portofolionya mencakup Kanada, Amerika Serikat, Brasil, Meksiko, Suriname dan Guyana. Petronas juga memiliki kegiatan di Angola, Gabon, Azerbaijan, Uni Emirat Arab dan Oman.

Daftar negara tersebut menunjukkan jangkauan bisnis Petronas, tetapi tidak dapat digunakan sebagai pembagian pendapatan per negara karena persentasenya tidak dipublikasikan.

Meski sekitar 60% pendapatannya berasal dari pelanggan di luar Malaysia, sekitar 60% belanja modal Petronas tetap ditanamkan di Malaysia untuk mendukung keamanan energi dan industri jasa migas domestik.

Laba Menjadi Bukti Kemampuan Komersial

Laba bukan satu-satunya ukuran keberhasilan kebijakan migas. Namun, perkembangan Petronas sepanjang 1997-2025 menunjukkan kemampuan perusahaan minyak nasional mengubah penguasaan sumber daya menjadi nilai ekonomi.

Pada 1997, Petronas membukukan laba setara Rp31,50 triliun. Setelah bisnis hulu dihubungkan dengan LNG, pengolahan gas, kilang, petrokimia, pelayaran dan pasar internasional, labanya mencapai Rp263,98 triliun pada 2008 dan mencetak rekor Rp439,67 triliun pada 2022.


Perjalanannya tidak selalu meningkat. Petronas sempat mengalami kerugian Rp90,88 triliun pada 2020 sebelum kembali menghasilkan laba Rp220,27 triliun pada 2021. Pada 2025, Petronas membukukan pendapatan Rp1.151,70 triliun dan laba setelah pajak Rp196,43 triliun.

Secara nominal, laba 2025 sekitar 6,2 kali angka 1997. Petroleum Development Act tidak otomatis menciptakan keuntungan, tetapi memberikan fondasi agar pengelolaan sumber daya, investasi dan kegiatan komersial berkembang dalam satu ekosistem.

Pengalaman Petronas menunjukkan bahwa nilai tambah terbesar muncul ketika produksi migas dapat langsung dihubungkan dengan pengolahan, infrastruktur dan pasar.

Bisnis Petronas Ditopang Banyak Segmen

Petronas memiliki bisnis hulu, gas, pelayaran, pengolahan, perdagangan dan petrokimia. Seluruh angka berikut menggunakan satuan Rp triliun dan dihitung dari nilai dasar dalam laporan keuangan auditan.


Pendapatan segmen masih memasukkan transaksi antarunit Petronas. Persentase pada tabel dihitung terhadap total pendapatan seluruh segmen sebelum eliminasi sebesar Rp1.579,04 triliun.

Saat laporan grup dikonsolidasikan, transaksi antarsegmen senilai Rp427,35 triliun dihapus agar pendapatan yang sama tidak dihitung dua kali. Setelah penyesuaian tersebut, pendapatan konsolidasi Petronas menjadi Rp1.151,70 triliun.

Penyesuaian konsolidasi juga membuat laba setelah pajak grup menjadi Rp196,43 triliun, sedikit lebih tinggi daripada jumlah laba seluruh segmen sebesar Rp193,56 triliun.

Bisnis Upstream menyumbang 30,66% pendapatan segmen dan menjadi penyumbang laba terbesar pada 2025 dengan laba Rp113,43 triliun. Gas & Maritime menghasilkan 32,86% pendapatan segmen dan laba Rp90,28 triliun.

Gas & Maritime memperlihatkan kemampuan Petronas menghubungkan produksi dengan pemrosesan gas, LNG, regasifikasi, transportasi dan jasa kapal. Sementara bisnis downstream memperpanjang rantai usaha hingga perdagangan, pengilangan, bahan bakar, pelumas dan produk kimia.

Tidak Hanya Menjual Minyak dan Gas Mentah

Berbeda dari tabel segmen, grafik produk hanya mencatat penjualan kepada pelanggan eksternal setelah konsolidasi. Nilai pendapatan menggunakan satuan Rp triliun.


Pangsa produk mengikuti persentase yang dilaporkan Petronas. Perubahannya dihitung dari angka dasar dalam ringgit sebelum dikonversi ke rupiah.

Produk petroleum dan LNG menyumbang 56% pendapatan Petronas pada 2025. Pangsa LNG meningkat dari 24% menjadi 27%, memperlihatkan pentingnya bisnis pengolahan dan perdagangan gas.

Komposisi tersebut menunjukkan bahwa Petronas tidak hanya menjual minyak dan gas mentah. Perusahaan juga memperoleh pendapatan dari LNG, gas olahan, produk kimia, perdagangan dan jasa pelayaran.

Membandingkan Skala Petronas dan Pertamina

Skala pendapatan Pertamina pada 2025 lebih besar daripada Petronas. Dengan kurs US$1 sebesar Rp17.605, pendapatan Pertamina sebesar US$70,89 miliar setara Rp1.248,02 triliun. Sementara pendapatan Petronas setelah dikonversi mencapai Rp1.151,70 triliun.

Pendapatan Petronas setara sekitar 92,28% dari pendapatan Pertamina. Namun, laba setelah pajak Petronas mencapai Rp196,43 triliun atau sekitar 3,33 kali laba bersih Pertamina sebesar Rp58,98 triliun.





Perbedaan laba tersebut tidak hanya ditentukan oleh struktur kelembagaan. Harga energi, komposisi bisnis, biaya operasi, beban penugasan dan kebijakan harga juga memengaruhi kinerja kedua perusahaan.

Namun, margin Petronas memperlihatkan potensi komersial yang dapat muncul ketika produksi migas dihubungkan dengan bisnis LNG, pengolahan gas, kilang, petrokimia, pelayaran dan pasar internasional.

Skala Hilir Besar, Margin Hulu Tinggi

Struktur bisnis Pertamina menunjukkan bahwa skala pendapatan terbesar berada pada rantai hilir. Bisnis tersebut mencakup pengolahan dan petrokimia, serta pemasaran dan niaga melalui Pertamina Patra Niaga.

Namun, bisnis hulu melalui Pertamina Hulu Energi menghasilkan laba dan margin yang lebih tinggi.





Angka tersebut berasal dari laporan konsolidasian 2025 masing-masing subholding, sebelum adanya peleburan bisnis kilang (PT Kilang Pertamina Internasional) ke bisnis hilir (PT Pertamina Patra Niaga). Karena masih terdapat transaksi antarperusahaan Pertamina, ketiga pendapatan tersebut tidak dapat dijumlahkan untuk memperoleh pendapatan konsolidasi grup.

Pertamina Patra Niaga mencatat pendapatan Rp1.046,72 triliun pada 2025, sekitar 4,3 kali pendapatan Pertamina Hulu Energi. Kilang Pertamina Internasional membukukan pendapatan Rp459,36 triliun atau sekitar 1,9 kali pendapatan bisnis hulu.

Namun, Pertamina Hulu Energi menghasilkan laba Rp38,30 triliun dengan margin 15,74%. Angka tersebut lebih tinggi daripada laba Kilang Pertamina Internasional sebesar Rp7,02 triliun dan Pertamina Patra Niaga Rp15,02 triliun, yang masing-masing mempunyai margin 1,53% dan 1,44%.

Kondisi tersebut menunjukkan pembagian kekuatan Pertamina. Bisnis hulu menjadi sumber margin keuntungan yang kuat, sedangkan pengolahan serta pemasaran memberikan skala pendapatan dan akses ke pasar akhir.

Integrasi pada tingkat holding memungkinkan produksi dan kontribusi laba dari hulu dihubungkan dengan kapasitas kilang, jaringan distribusi serta pasar yang besar. Struktur ini dapat menjadi modal apabila Pertamina memperoleh peran sebagai BUK Migas.

Peluang Besar Jika Ditempatkan di Holding Pertamina

Penempatan pengelolaan hulu pada tingkat holding Pertamina berpotensi menciptakan pengelolaan energi yang lebih terintegrasi. Holding dapat menyatukan perencanaan dari pencarian cadangan, produksi dan pengolahan hingga penjualan produk.

Dibandingkan membentuk BUK Migas dari awal, Pertamina telah memiliki aset produksi, kilang, fasilitas LNG, jaringan gas, kapal, sistem perdagangan dan akses ke pasar akhir. Pemerintah juga tidak perlu membangun seluruh organisasi, sistem data, tenaga ahli dan koordinasi bisnis dari nol.

Kesiapan tersebut membuat fungsi BUK berpotensi diintegrasikan secara lebih cepat dan efisien. Pertamina dapat memanfaatkan aset serta kemampuan yang sudah tersebar di berbagai unit bisnisnya.

Pengembangan lapangan tidak hanya diarahkan untuk mengejar produksi. Pertamina dapat sejak awal menentukan cara terbaik mengkomersialisasikan hasilnya melalui jaringan gas, LNG, kilang, petrokimia maupun pasar ekspor.

Integrasi juga dapat menyelaraskan keputusan investasi. Pembangunan fasilitas pengolahan dapat disesuaikan dengan ketersediaan pasokan, sedangkan proyek hulu dapat dikembangkan berdasarkan kebutuhan kilang, industri dan pembangkit listrik.




Pertamina Patra Niaga, Balongan Unit VI. (Pertamina)Kilang Pertamina Internasional, Refinery Unit VI Balongan. Foto: Pertamina

Dari sisi negara, manfaatnya tidak berhenti pada pajak dan bagi hasil. Pemerintah sebagai pemilik Pertamina juga berpeluang memperoleh dividen dan peningkatan nilai perusahaan dari pengolahan, perdagangan serta penjualan produk energi.

Semakin panjang rantai bisnis yang dikelola, semakin besar nilai ekonomi yang dapat dipertahankan di dalam negeri. Minyak dan gas dapat diolah menjadi LNG, bahan bakar, pelumas, gas industri dan petrokimia.

Penempatan fungsi tersebut pada tingkat holding juga dapat memperkuat ketahanan energi, kemampuan tenaga ahli dan perusahaan jasa migas nasional. Pengalaman mengelola sumber daya domestik kemudian dapat menjadi modal Pertamina untuk memperluas bisnis internasional dan menghasilkan devisa.

Pertamina sebagai Instrumen Strategis Negara

Pelajaran utama Petronas bukan sekadar menempatkan kewenangan migas dalam satu perusahaan. Kekuatan modelnya terletak pada kemampuan menghubungkan mandat negara dengan pengelolaan bisnis secara profesional.

Jika Pertamina menjadi BUK, fungsi pengelolaan sumber daya pada tingkat holding memungkinkan keputusan mempertimbangkan seluruh rantai energi, mulai dari cadangan hingga pasar akhir.

Struktur tersebut dapat diperkuat dengan pembagian fungsi yang jelas, manajemen profesional, audit independen dan pelaporan transparan. Negara menetapkan tujuan strategis, sedangkan manajemen menjalankan investasi dan kegiatan komersial.

Petronas membangun model tersebut secara konsisten selama lebih dari lima dekade. Dengan semangat serupa, holding Pertamina berpeluang menjadi instrumen negara untuk mengubah cadangan migas menjadi ketahanan energi, pertumbuhan industri, devisa dan penerimaan jangka panjang.

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *