Home Finance Bukan Cuma Technical Rebound, Ini Alasan Saham Bank Tiba-Tiba Ngebut
Finance

Bukan Cuma Technical Rebound, Ini Alasan Saham Bank Tiba-Tiba Ngebut

Share
Bukan Cuma Technical Rebound, Ini Alasan Saham Bank Tiba-Tiba Ngebut
Share




Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah ke zona hijau pada perdagangan Jumat (17/7/2026) siang, ditopang lonjakan saham-saham perbankan.

Pelaku pasar menilai penguatan sektor perbankan didorong kombinasi sentimen teknikal, fundamental, hingga respons positif investor terhadap komitmen Bank Indonesia (BI).

Diketahui, IHSG sempat dibuka di zona merah, namun berhasil membalikkan keadaan pada akhir sesi I. Mengutip data Refinitiv, IHSG mengawali sesi II dengan kenaikan 1,32% atau sekitar 80 poin ke level 6.188,33.

Sektor finansial dan energi menjadi penopang utama laju indeks pada siang hari. Kenaikan tersebut sejalan dengan melesatnya saham-saham bank jumbo yang memberikan kontribusi terbesar terhadap penguatan IHSG.

Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) naik 3,94%, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melesat 3,85%, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menguat 2,29%. Keempat saham perbankan tersebut menyumbang lebih dari 50 poin terhadap kenaikan IHSG pada perdagangan siang ini.

Analis Panin Sekuritas Elandry Pratama mengatakan penguatan saham-saham perbankan belakangan ini didorong oleh kombinasi beberapa faktor. Menurutnya, sektor perbankan sedang mengalami technical rebound setelah sebelumnya mendapat tekanan cukup signifikan sehingga investor mulai kembali melakukan akumulasi, terutama pada saham bank besar yang memiliki fundamental dan likuiditas tinggi.

Selain itu, tekanan arus keluar dana asing (foreign outflow) mulai terlihat lebih terbatas dibandingkan periode sebelumnya. Kondisi tersebut memberikan ruang bagi investor untuk kembali masuk ke saham-saham big caps perbankan dan memperbaiki sentimen pasar.

Dari sisi fundamental, Elandry menilai ekspektasi terhadap perbaikan likuiditas, potensi pemulihan pertumbuhan kredit, serta valuasi saham bank yang semakin menarik menjadi katalis tambahan bagi sektor tersebut. Ia juga menyebut sentimen terkait kebijakan High Shareholding Concentration (HSC) turut memberikan persepsi positif terhadap peningkatan transparansi dan kualitas pasar modal Indonesia.

“Meski demikian, investor tetap perlu mencermati faktor eksternal seperti arah suku bunga global, pergerakan rupiah, dan keberlanjutan capital flow asing untuk melihat apakah penguatan sektor perbankan dapat berlanjut,” ungkap Elandry kepada CNBC Indonesia, Jumat, (17/7/2026).

Sementara itu, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menilai penguatan saham perbankan juga dipengaruhi respons positif investor terhadap pernyataan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti dalam CNBC Indonesia Investment Forum 2026.

“Gara-gara acara CNBC Invesment Forum kemarin itu! Finally investor asing mendengar senior deputy governor berbicara sendiri tentang menjamin bank-bank Indonesia tidak menanggung kerugian BI dalam skema stabilisasi rupiah,” ungkap Liza.

Sebelumnya, dalam acara tersebut, Destry mengatakan, dalam forum yang digelar di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (15/7/2026), Destry mengungkapkan BI telah masuk ke pasar Non-Deliverable Forward (NDF) offshore sejak April 2026 sebagai bagian dari upaya stabilisasi rupiah.

“Sejak April, BI terobosan BI masuk di pasar NDF 24 jam 6 hari. Kami menggunakan kanwil di luar untuk masuk monitor NDF,” kata Destry.

Menurut Destry, BI masuk ke pasar NDF dengan bantuan kantor-kantor perwakilan di luar negeri, termasuk Singapura, HongKong dan New York.

“Kami menggunakan kanwil di luar untuk masuk monitor NDF,” tambahnya.

Selain itu, BI juga memberi pengecualian atas larangan transaksi NDF (Non-Deliverable Forward) jual valas terhadap rupiah di pasar luar negeri (offshore) bagi dealer utama Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing (PUVA) tertentu yang memenuhi syarat. Adapun, kebijakan ditempuh guna mendukung stabilitas nilai tukar rupiah serta pendalaman pasar keuangan domestik.

“Dalam rangka stabilisasi moneter bisa jual NDF tidak boleh beli cover di DNDF itu sifatnya voluntary, Kenapa primary dealers karena ada hubungan ke BI dan banyak juga terkait LCT dan sebagainya,” papar Destry.

Selain pelonggaran NDF offshore bagi dealer PUVA, BI juga memperluas instrumen operasi moneter valas dengan instrumen spot dan swap dalam valuta Offshore Chinese Renminbi (CNH) terhadap rupiah.

(mkh/mkh)



Add

logo_svg

as a preferred

source on Google




[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *